Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #56

Memotong Benang

"Cepat lari, Jaka! Langit-langit dok ini sudah mau runtuh menimpa kita!" teriak Riko.

Dia menarik lengan jaket Jaka dengan paksa. Suara beton yang retak terdengar dari arah plafon, menjatuhkan debu abu-abu yang membuat mata Jaka perih. Riko melihat ke arah lubang besar tempat Basudewa menghilang. Tangan-tangan mekanik emas itu masih bergerak di kegelapan bawah tanah, mengeluarkan suara derit logam yang bergesekan secara konstan.

"Aku tidak bisa pergi tanpa Laras, Riko! Kamu dengar suaranya di interkom tadi? Itu bukan dia!" sahut Jaka.

Dia melepaskan cengkeraman Riko dengan sentakan kasar. Jaka berlutut di samping tubuh Laras yang sudah dingin. Detak jantung adiknya memang berhenti, tetapi pendar cahaya di leher Laras justru semakin terang. Cahaya itu berdenyut mengikuti irama perintah Jagabala yang menggema di seluruh Nusantara. Jaka melihat kulit Laras mulai memucat, sementara pembuluh darah di sekitar porta sarafnya berubah warna menjadi hitam pekat.

"Tapi dia sudah mati, Jaka! Tubuhnya sudah tidak punya nyawa!" seru Riko. Dia menunjuk ke arah monitor yang masih menyala di dinding. "Lihat itu! Laras, atau apa pun yang ada di dalam sistem itu, baru saja memerintahkan Jagabala untuk menembak siapa saja yang keluar rumah! Dia menjadi monster yang lebih parah dari Satya!"

"Itu karena kode Basudewa masih mengalir di dalam kesadarannya, Riko," kata Jaka.

Dia meraba saku jaketnya, mengambil modul saraf cadangan yang tadi ia ambil dari tas Riko. Jaka meremas telapak tangannya yang luka, membiarkan darah yang bercampur serpihan Serat Kuno menetes ke atas modul tersebut. Kristal itu bereaksi, ia menyerap darah Jaka dan memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitar tangan Jaka terlihat bergetar.

"Kamu mau melakukan sinkronisasi lagi? Otakmu bisa hangus, Jaka! Tekanan data dari Bunda Pertiwi itu terlalu besar untuk satu orang!" teriak Riko.

Dia mundur satu langkah saat melihat percikan listrik hijau mulai merambat ke lengan Jaka.

"Ini bukan soal meretas, Riko. Ini soal menyembuhkan," ucap Jaka.

Suaranya terdengar sangat rendah dan datar. Jaka tidak menatap Riko. Fokusnya hanya pada titik saraf di belakang telinga Laras yang terus memancarkan frekuensi tinggi. Jaka menyadari bahwa menghancurkan sistem hanya akan membuat Laras terjebak selamanya dalam kegelapan digital. Dia harus memotong benang kendali Basudewa tanpa merusak jiwa Laras yang tersisa.

"Jaka, gerbang logikanya terkunci dari dalam. Aku tidak bisa menahan beban ini lebih lama lagi," ucap Naya.

Suaranya terdengar jernih di dalam saraf pendengaran Jaka, namun ada nada sesak di sana. Proyeksi transparan Naya muncul di depan Jaka, kedua tangannya terlihat sibuk menahan aliran data hitam yang mencoba keluar dari tubuh Laras. "Basudewa menanamkan protokol 'Hakim Terakhir'. Laras dipaksa untuk menghukum Nusantara karena kegagalan ayahnya."

"Bantu aku buka jalurnya, Naya. Aku punya pilihan ketiga," sahut Jaka.

Dia menusukkan ujung modul saraf yang sudah terinfeksi Serat Kuno ke porta leher Laras.

Seketika, seluruh ruangan dok itu bergetar hebat. Jaka merasakan hantaman data yang sangat panas masuk ke dalam kepalanya. Ini bukan angka biner. Ini adalah rasa sakit, amarah, dan kebencian milik Basudewa yang selama puluhan tahun ia pendam. Jaka melihat ribuan memori hitam melintas di depan matanya, Jakarta yang tenggelam, tangisan orang-orang di Arkadia, dan wajah ibunya yang kecewa. Semua emosi negatif itu menempel pada kesadaran Laras, membungkus jiwa adiknya seperti perban yang kotor.

"Jaka! Tekanan oksigen di dok ini turun drastis! Sistem ventilasi sengaja dimatikan oleh Laras!" teriak Riko.

Dia terbatuk-batuk, memegangi lehernya yang mulai terasa tercekik. Riko jatuh terduduk di lantai marmer, wajahnya berubah menjadi kebiruan.

Jaka tidak menjawab. Di dunia maya, dia sedang berdiri di depan sosok Laras yang duduk di atas takhta kabel hitam. Mata Laras bersinar putih polos tanpa pupil. Di belakangnya, bayangan raksasa Basudewa berdiri, memegang benang-benang energi yang terhubung langsung ke jantung digital Laras.

Lihat selengkapnya