"Tahan badannya, Riko! Jangan biarkan dia melayang makin tinggi!" teriak Jaka.
Suara Jaka parau, tersangkut di tenggorokan yang kering karena debu semen istana yang baru saja runtuh. Dia mencengkeram bahu Laras yang terus bergetar hebat. Punggung Laras memancarkan radiasi panas yang membuat telapak tangan Jaka melepuh dan kulitnya memerah. Di langit malam Penajam, moncong kapal perang raksasa itu mulai berpendar merah terang, siap melepaskan tembakan laser kedua tepat ke arah perbukitan Sumbu Kebangsaan.
"Gak bisa, Jaka! Kekuatannya terlalu gede, badanku malah ikut ketarik!" seru Riko.
Dia memeluk pinggang Laras, mencoba menarik adiknya Jaka itu kembali ke permukaan tanah. Urat-urat di lengan Riko menonjol, wajahnya memerah karena menahan beban gravitasi yang tidak stabil di sekitar mereka. Tanah di bawah kaki mereka retak, mengeluarkan uap panas yang berbau belerang dan besi terbakar.
"Laras, denger Kakak! Kamu harus lawan sistem di dalem kepalamu itu!" teriak Jaka lagi.
Dia menatap mata adiknya yang kini berwarna merah darah tanpa pupil. Laras tidak menjawab, mulutnya terbuka lebar memancarkan pendar cahaya yang menyilaukan. Suhu udara di perbukitan itu naik menjadi empat puluh lima derajat celcius dalam hitungan detik, membuat keringat di dahi Jaka langsung menguap.
"Jaka, denger aku?" tanya Naya. "Protokol pertahanan otomatis Bunda Pertiwi lagi ambil alih saraf Laras secara total. Dia ketakutan karena Satya ilang. Kamu harus suntikin kode dari Serat Kuno sekarang atau jantung Laras bakal meledak karena frekuensinya ketinggian!"
"Gimana cara suntikinnya, Naya? Porta sarafnya ketutup lapisan energi merah itu!" sahut Jaka.
Dia mencoba menyentuh leher Laras, namun percikan listrik statis melempar tangannya kembali.
"Pake darahmu, Jaka! Darah kamu mengandung serpihan kristal yang udah sinkron sama sistem pusat!" seru Naya. "Lakuin sekarang, sinar merah di langit udah mencapai titik puncak pengisian daya!"
Jaka melihat ke arah tangan kanannya yang luka parah. Darah segar mengalir dari sela jari, bercampur dengan pendar hijau zamrud yang berasal dari Serat Kuno. Dia mengumpulkan seluruh tenaganya, lalu menempelkan telapak tangan berdarah itu tepat ke arah porta saraf di belakang telinga Laras. Suara desis kulit terbakar terdengar saat tangan Jaka menembus lapisan energi merah Laras.
"Argh! Panas banget!" rintih Jaka.
Dia tidak melepaskan tangannya meskipun rasa sakitnya menusuk sampai ke sumsum tulang.
"Jaka, tahan! Sinar lasernya turun!" teriak Riko panik.
Sebas berkas cahaya merah raksasa meluncur dari langit, menghantam lereng bukit hanya berjarak seratus meter dari posisi mereka. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar Riko hingga terguling ke semak-semak. Jaka tetap bertahan, kakinya tertanam di tanah yang mulai amblas. Dia memejamkan mata, memaksakan seluruh memori tentang kasih sayang, etika, dan kebebasan mengalir lewat darahnya masuk ke otak Laras.
"Aku, bukan, budak ...," ucap sebuah suara agung dari mulut Laras.
Seketika, energi merah di tubuh Laras padam. Cahaya di mata adiknya berubah menjadi hijau zamrud yang sangat tenang dan jernih. Gravitasi di sekitar mereka kembali normal, membuat tubuh Laras jatuh lemas ke pelukan Jaka. Pendar hijau itu kemudian menyebar dari tubuh Laras ke seluruh jaringan nirkabel di IKN yang masih aktif.