"Lepaskan tangan kamu, Riko! Aku harus keluar sekarang! Laras tertinggal di atas sana!" teriak Jaka.
Suara Jaka bergetar, paru-parunya terasa penuh dengan debu beton yang menyesakkan. Dia mencoba menyentak pegangan Riko di pergelangan kakinya, membuat tubuhnya terseret di atas lantai tanah terowongan pembuangan yang lembap. Permukaan tanah di atas mereka baru saja meledak, mengirimkan getaran hebat yang meruntuhkan lapisan semen ke dalam lubang tempat mereka bersembunyi.
"Diam dulu, Jaka! Radiasi di atas masih di angka delapan puluh persen! Kamu mau mati sebelum sempat melihat dia?" seru Riko.
Wajah Riko terlihat sangat tegang di bawah sinar senter darurat yang redup. Keringat mengalir dari pelipisnya, meninggalkan jalur bersih di tengah pipinya yang tertutup jelaga hitam. Riko menekan pundak Jaka dengan seluruh berat badannya, memaksa pria itu untuk tetap tiarap di dalam kegelapan terowongan.
"Laras ada di tengah debu itu, Riko! Dia pingsan! Kalau pasukan Aliansi Akar itu menemukannya lebih dulu, kita kehilangan segalanya!" teriak Jaka lagi.
Jaka memukul tanah dengan tangan kanannya yang luka parah. Darah segar merembes dari perban yang sudah kotor, membasahi tanah yang berbau lumut dan limbah kimia. Dia merasakan perih yang tajam di telapak tangannya, sebuah pengingat fisik bahwa tubuhnya sudah mencapai batas ketahanan biologis.
"Naya sudah mengunggah semua bukti kejahatan ayahmu ke satelit publik, Jaka! Semua terminal di IKN sekarang memutar rekaman penyiksaan itu!" sahut Riko. Dia menunjukkan layar pergelangan tangannya yang menampilkan grafik transmisi data yang stabil. "Dunia sudah tahu siapa Basudewa sebenarnya. Otoritas IKN dan sisa pasukan Kresna yang loyal sedang bergerak ke koordinat ledakan. Kita hanya perlu menunggu sepuluh detik lagi!"
"Aku tidak bisa menunggu sepuluh detik untuk nyawa adikku!" teriak Jaka.
Jaka menggunakan sisa tenaganya untuk menendang perut Riko, membuat cengkeraman sahabatnya itu terlepas. Jaka merangkak naik melewati tumpukan puing, jemarinya mencakar dinding tanah yang kasar hingga kuku-kukunya berdarah. Dia tidak memikirkan strategi, dia hanya bergerak berdasarkan desakan adrenalin yang membakar sistem sarafnya.
Jaka muncul dari lubang evakuasi tepat di lereng bukit Sumbu Kebangsaan. Langit IKN yang biasanya berwarna ungu digital kini berubah menjadi abu-abu pekat karena asap ledakan. Cahaya matahari pagi mulai menembus lapisan debu, memberikan visibilitas sekitar lima meter. Jaka berdiri dengan kaki yang gemetar, menahan berat tubuhnya pada sebuah pipa besi yang mencuat dari tanah. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok kecil yang tadi terlepas dari genggamannya.
"Laras! Di mana kamu?" tanya Jaka dengan suara serak.
Di depan sana, sekitar sepuluh meter dari posisi Jaka, terlihat beberapa sosok dengan zirah hitam Aliansi Akar Nusantara sedang berlutut. Mereka tidak lagi memegang senjata. Di tengah kepungan prajurit itu, Panglima Kresna berdiri dengan tangan kiri yang memegang bahunya yang berdarah. Panglima Kresna menatap ke arah sebuah pintu baja di bawah tanah yang baru saja terbuka secara otomatis.
"Tahan pria itu! Jangan biarkan dia menelan kristal hitam itu!" perintah Kresna.
Dua orang prajurit menarik paksa Basudewa dari kursi roda elektriknya yang sudah hancur. Basudewa meronta, wajahnya yang sangat mirip dengan Jaka terlihat sangat kuyu dan kotor. Lensa kamera di mata kanannya pecah, menyisakan lubang hitam yang mengeluarkan percikan api kecil. Di leher Basudewa, borgol elektromagnetik dipasang secara paksa oleh petugas otoritas IKN yang baru saja mendarat dengan kapal patroli cepat.
"Ini belum selesai! Nusantara butuh kontrol! Kalian semua akan menyesal karena memilih kebebasan yang berantakan ini!" teriak Basudewa.
Dia meludah ke arah prajurit yang memegangnya, namun kepalanya segera ditekan ke bawah hingga wajahnya menyentuh rumput yang hangus terbakar.