"Kamu sadar gak, Jaka, kalo keberadaan adikmu itu sama aja kayak naruh hulu ledak nuklir di tengah ruang tamu kita?" tanya Wira.
Pria bertubuh gempal dengan bekas luka bakar di lengan kanannya itu memukul meja kayu yang permukaannya tidak rata. Wira adalah mantan kepala mandor konstruksi Sektor 3 yang sekarang dipilih warga untuk memimpin Dewan Rakyat Sementara. Dia menatap Jaka dengan mata yang tidak berkedip, menunjukkan rasa curiga yang tidak dia tutupi sama sekali.
"Laras itu manusia, Wira. Dia punya hak buat hidup bebas di tanah ini, sama kayak kamu dan semua orang di bawah sana," sahut Jaka.
Ada getaran di ujung jarinya yang sedang memegang gelas plastik berisi air mineral. Jaka duduk dengan posisi miring karena pinggul kirinya masih terasa nyeri akibat benturan di perbukitan tiga minggu lalu. Dia memakai kemeja kain sederhana, sangat berbeda dengan jaket taktis penuh sensor yang dulu selalu menempel di badannya.
"Manusia mana yang bisa matiin mesin kapal perang cuma pake pikiran, hah?" tanya Wira lagi.
Dia menunjuk ke arah jendela besar di balai kota sementara. Di luar sana, langit malam Penajam terlihat bersih tanpa polusi cahaya neon korporat, namun ada satu titik merah yang terus berkedip di orbit rendah. Itu adalah kapal induk Aliansi Akar Dunia yang masih tertahan di sana, tidak berani turun namun juga tidak mau pergi.
"Dia lakuin itu buat nyelametin kita semua, termasuk kamu, pas cahaya merah itu mau ngeratain bukit ini," kata Jaka.
Jaka mengingat kejadian itu secara mendetail, suhu udara yang mendadak turun drastis karena Naya, yang sudah menjadi Bunda Pertiwi, memanipulasi tekanan atmosfer untuk membelokkan laser kapal Aliansi. Cahaya merah itu meledak di laut, menciptakan uap setinggi seratus meter, namun tidak menyentuh satu pun saraf di tubuh mereka.
"Justru itu yang bikin warga takut, Jaka! Kalo hari ini dia bisa nyelametin kita, besok dia bisa aja hapus memori kita semua kalo dia lagi kesel," ucap Wira. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi yang berderit. "Dewan Rakyat mau Laras ditempatkan di fasilitas isolasi di Sektor 5. Ada pemantauan saraf dua puluh empat jam. Itu tawaran terakhir kami sebelum warga mulai turun ke jalan lagi."
"Aku gak bakal biarin Laras masuk ke dalem penjara lagi, gak akan," teriak Jaka.
Dia berdiri dengan sentakan kasar, membuat gelas plastiknya terguling dan membasahi berkas-berkas di atas meja. Rasa sakit di kakinya menusuk hingga ke saraf pusat, tapi Jaka tidak peduli. Dia menatap Wira dengan intensitas yang membuat pria mandor itu mundur satu langkah.
"Jaka, tenang dulu deh. Wira cuma nyampein apa yang diomongin orang-orang di pasar," ucap Riko.
Riko muncul dari balik pintu kayu, memegang sebuah perangkat perekam video portabel. Riko sekarang memimpin kanal berita independen yang dia beri nama 'Suara Nusantara'. Rambutnya sudah dipotong rapi, dan dia memakai kacamata pintar yang terus menampilkan grafik penonton siaran langsungnya.
"Orang-orang di pasar itu gak tau apa-apa soal pengorbanan Laras, Riko!" seru Jaka.
Dia menoleh ke arah sahabatnya itu dengan napas yang memburu.
"Emang gak tau, makanya tugas aku buat jelasin ke mereka lewat berita," sahut Riko. Dia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan perangkatnya. "Tapi Wira bener soal satu hal. Nusantara lagi dalam keadaan fluks. Gak ada hukum tetap, gak ada polisi, yang ada cuma Bunda Pertiwi yang ngatur pembagian air sama listrik. Orang-orang ngerasa gak punya kontrol atas hidupnya sendiri."
"Bunda Pertiwi gak pernah maksa siapa pun sekarang," kata Jaka.
"Tepat banget! Tapi manusia itu aneh, Jaka. Kalo dikasih kebebasan mutlak setelah puluhan tahun dijajah, mereka malah bingung mau ngapain. Mereka butuh kambing hitam buat rasa bingung itu, dan Laras adalah target yang paling gampang kelihatan," ucap Riko.
Dia mematikan layar kacamata pintarnya, lalu menatap Jaka dengan tatapan yang lebih serius.
Tiba-tiba, sebuah proyeksi hologram muncul di tengah ruangan. Wujudnya adalah Naya, namun ukurannya hanya setinggi tiga puluh senti, melayang di atas meja. Naya memakai gaun yang terbuat dari barisan kode hijau zamrud yang bergerak melingkar. Dia tidak lagi terlihat pucat atau sekarat, wajahnya bersinar dengan pendar digital yang sangat stabil.