Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #60

Dalang Kembali ke Balik Layar

"Lepasin tangan Kamu dari leher Laras sekarang, Batara! Aku gak main-main, kristal ini punya voltase yang cukup buat ngebakar seluruh sistem zirah Kamu!" teriak Jaka.

Jaka berdiri dengan tumpuan kaki kanan yang gemetar hebat, sementara telapak tangan kirinya mencengkeram erat Serat Kuno yang permukaannya sudah mencapai suhu lima puluh derajat celcius.

Batara, pria dengan zirah emas dari Aliansi Akar Dunia itu, menatap Jaka melalui lensa perak di helmnya. "Kamu cuma manusia dengan sisa tenaga yang gak sampe sepuluh persen, Jaka. Kristal itu adalah properti Aliansi. Larasati Putri harus ikut kami ke orbit pusat buat pemeriksaan integritas data."

"Dia itu adek Aku, bukan aset perusahaan Kamu!" seru Jaka.

Dia melangkah maju satu langkah, membuat sendi lututnya mengeluarkan suara gesekan yang menyakitkan.

Jaka merintih, darah segar menetes dari luka di pelipisnya, jatuh mengenai sensor di kerah jaketnya yang terus berbunyi karena suhu lingkungan yang tidak normal.

"Keberadaan Laras di sini cuma bakal bikin kapal perang Aliansi nembakin laser penghancur ke titik ini, Jaka. Kamu mau liat warga IKN mati semua?" tanya Batara.

Batara mengangkat tangan kanannya, dan medan gravitasi di sekitar Laras semakin menekan tubuh kecil itu ke lantai beton yang retak.

"Jaka, dengerin Aku sebentar," ucap Naya. Wujud Naya tidak terlihat secara fisik, tapi pendar hijau zamrud keluar dari celah-celah ubin di bawah kaki Jaka. "Batara gak bohong soal pelacakan itu. Sinyal Laras udah terkunci di database mereka. Selama Laras terdaftar sebagai penduduk Nusantara, mereka punya alasan hukum buat ngambil dia secara paksa."

"Terus Aku harus gimana, Naya? Aku gak mau kehilangan dia lagi!" tanya Jaka.

Air matanya mengalir, membasahi kristal Serat Kuno yang kini bergetar pada frekuensi empat ratus hertz, sinkron dengan detak jantung Jaka yang sangat cepat.

"Hapus eksistensi Kamu dan Laras dari sistem dunia, Jaka. Gunakan Serat Kuno buat bikin protokol 'Nol'. Kita bikin database Nusantara nganggep Kamu berdua gak pernah lahir. Dengan begitu, radar Aliansi bakal kehilangan target secara permanen. Tapi Kamu harus siap hidup tanpa identitas selamanya," sahut Naya.

Jaka menatap Batara yang mulai menyiapkan senjata laser di lengan zirahnya. Waktu di layar pergelangan tangan Jaka menunjukkan angka 00:15 detik sebelum kapal piramida melepaskan tembakan pembersihan. Jaka menarik napas panjang, menatap wajah Laras yang sedang pingsan dengan penuh kasih sayang.

"Lakuin sekarang, Naya! Hapus kami dari panggung ini!" teriak Jaka sekuat tenaga.

Jaka menempelkan Serat Kuno ke porta saraf di lehernya sendiri. Cahaya hijau zamrud meledak keluar, menyelimuti tubuh Jaka, Laras, dan radius sepuluh meter di sekitar mereka. Batara terkejut, dia mencoba menembakkan lasernya, namun koordinat targetnya mendadak hilang dari layar HUD zirahnya. Seluruh data biometrik Jaka dan Laras di server pusat Nusantara menguap menjadi partikel data yang tidak terbaca dalam hitungan milidetik.

"Sistem error! Target tidak ditemukan!" teriak Batara panik.

Ledakan cahaya putih yang sangat murni menelan segalanya. Suara dengungan kapal piramida mendadak berhenti, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Kapal raksasa di langit itu kehilangan kunci targetnya dan secara otomatis kembali ke mode standby, sebelum akhirnya perlahan naik meninggalkan atmosfer Bumi karena protokol keselamatan mereka mendeteksi adanya lubang hitam informasi di koordinat IKN.

Tiga minggu kemudian.

Matahari sore di IKN bersinar dengan intensitas cahaya yang normal. Suhu udara berada di angka dua puluh tujuh derajat celcius. Tidak ada lagi iklan hologram setinggi gedung yang memekakkan telinga. Warga bergerak bebas di jalanan Sumbu Kebangsaan, ada yang sedang membersihkan puing bangunan, ada juga yang sedang duduk di bangku taman yang baru saja diperbaiki oleh drone warga.

Laras berjalan pelan menyusuri trotoar Sektor 12. Dia memakai kemeja flanel kebesaran milik Jaka dan membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan gambar. Wajah Laras sudah terlihat segar, rona merah di pipinya kembali muncul, meskipun ada bekas luka tipis yang mengering di pelipis kirinya. Laras berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil yang bangunannya terbuat dari kontainer bekas.

Lihat selengkapnya