NUSANTARA MIRALOKA

Tourtaleslights
Chapter #3

Mahkota yang Retak

Di kaki Gunung Padang, sebelum nama-nama ditulis di atas kertas, ada sebuah kerajaan yang tidak pernah tercatat dalam sejarah mana pun.

Bukan karena ia tidak ada. Tetapi karena ia memilih untuk tidak dicatat.

Orang-orang menyebutnya Pasundan. Nama yang berarti "tanah yang dipilih oleh cahaya." Mereka yang tinggal di sana percaya bahwa gunung-gunung di sekitarnya bukanlah bebatuan mati, melainkan makhluk-makhluk tua yang sedang tidur. Setiap gempa adalah pergeseran posisi tidur mereka. Setiap letusan adalah mimpi buruk yang tidak bisa mereka kendalikan.

Di tengah kerajaan itu, ada sebuah istana.

Istana itu dibangun bukan dari batu dan kayu tetapi dari ingatan. Setiap tiang adalah nama seorang leluhur. Setiap dinding adalah kisah yang telah diceritakan berulang kali selama berabad-abad.

Di istana itu, hiduplah seorang putri.

Namanya Purbasari.


Purbasari bukanlah putri yang cantik setidaknya, tidak menurut ukuran istana. Wajahnya tidak semulus saudara-saudaranya. Kulitnya tidak seputih yang diharapkan oleh para penasihat. Ia tidak memiliki rambut panjang yang terurai seperti sutra.

Tapi ia memiliki sesuatu yang lain.

Ia memiliki hati.

Dan di Pasundan, hati adalah sesuatu yang diukur dengan cara yang berbeda. Bukan dengan ukuran, bukan dengan bentuk—tetapi dengan keberanian untuk tetap terbuka ketika dunia terus mencoba menutupnya.


Ayahnya, Sang Maharaja, sudah tua. Sudah waktunya untuk memilih penerus. Dewan penasihat berbisik bahwa Putri Purbararang—adik Purbasari, yang lebih cantik, lebih anggun, lebih sempurna di mata manusia adalah pilihan yang tepat.

Tetapi Sang Maharaja tidak memilih Purbararang.

Ia memilih Purbasari.

"Mahkota," katanya, "bukanlah perhiasan. Ia adalah amanah."

Dan kemudian, diam.


Malam itu, di dalam istana, ada bisikan.

"Ia tidak pantas."

"Wajahnya..."

"Bagaimana mungkin rakyat menghormati pemimpin yang..."

"Aku mendengar bahwa ia melakukan ritual di hutan."

"Ritual hitam."

"Ia menjual jiwa untuk kecantikan."

"Tapi tidak berhasil."

Tawa. Tawa yang pelan, sinis, dan mematikan.

Purbararang mendengar semua itu. Dan ia tersenyum.

"Aku akan membereskan ini," katanya.

Ia tidak pernah menyukai kakaknya. Bukan karena Purbasari jahat—tapi karena Purbasari baik. Dan kebaikan, di istana yang penuh intrik, adalah kelemahan terbesar yang bisa dimiliki seseorang.

Lihat selengkapnya