NUSANTARA MIRALOKA

Tourtaleslights
Chapter #5

GELARAN KABUT

Di tengah Hutan Sancang, ada sebuah lembah yang tidak pernah disentuh oleh matahari. Kabut di sana begitu tebal hingga ia terlihat seperti air yang mengalir di antara pohon-pohon. Udara di sana dingin, tetapi tidak menusuk dingin yang aneh, dingin yang terasa seperti pelukan.

Lutung itu berhenti di tepi lembah. Ia duduk. Menatap Purbasari.

Dan kemudian, untuk pertama kalinya, ia berbicara.

Bukan dengan suara manusia. Bukan dengan bahasa yang bisa didengar oleh telinga. Tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam seperti getaran yang langsung masuk ke dalam hati Purbasari, tanpa melalui kupingnya.

"Kau tahu mengapa kau di sini?"

Purbasari menggeleng. Ia tidak bisa bicara. Ia terlalu terkejut.

"Kau di sini," kata lutung itu, "karena takhta memilihmu. Dan takhta tidak pernah salah."

"Tapi..." Purbasari akhirnya menemukan suaranya. "Aku dibuang. Aku difitnah. Aku..."

"Semua itu tidak penting." Lutung itu menatapnya dengan mata yang dalam. "Yang penting adalah: apakah kau masih mau menerima mahkota setelah semua yang terjadi?"

Purbasari diam.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak tahu apakah aku layak. Aku tidak tahu apakah aku bisa. Aku tidak tahu..."

"Itulah jawaban yang benar," kata lutung itu. "Orang yang yakin bahwa ia layak adalah orang yang paling tidak layak. Orang yang bertanya apakah ia layak dialah yang paling layak."


─────────────────

Kabut berbicara lagi:

Aku adalah ruang di antara.

Aku adalah tempat di mana pertanyaan tinggal

sebelum jawaban datang.

Aku adalah ibu dari keraguan

dan keraguan, jika kau tahu cara mendengarnya,

adalah awal dari kebijaksanaan.

Purbasari datang kepadaku dengan hati yang penuh.

Penuh dengan pertanyaan.

Lihat selengkapnya