Hutan Sancang bukanlah hutan biasa. Ia adalah tanah yang paling tua di Pasundan lebih tua dari kerajaan, lebih tua dari nama, lebih tua dari manusia. Akar-akarnya menembus lapisan-lapisan waktu yang tidak bisa dihitung dengan tahun.
Di dalamnya, Purbasari belajar berjalan di atas tanah yang tidak pernah meminta izin.
Pada hari-hari pertama, ia hampir mati. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Hanya kabut dan pohon-pohon yang begitu tinggi hingga langit terlihat seperti kain yang robek di antara daun-daunnya.
Tapi kemudian, tanah mengajarinya.
Ia belajar bahwa akar pohon beringin menyimpan air di celah-celahnya. Ia belajar bahwa daun tertentu bisa dimakan jika direbus dengan cara yang benar. Ia belajar bahwa ada jejak-jejak yang ditinggalkan oleh mereka yang datang sebelumnya jejak yang tidak bisa dilihat oleh mata, tetapi bisa dirasakan oleh telapak kaki yang membumi.
Dia belajar bahwa tanah tidak pernah memilih.
Tanah menerima siapa pun.
Dan di situlah Purbasari menemukan ketenangan pertamanya.
─────────────────
Tanah berbicara:
Aku tidak pernah memilih.
Aku menerima.
Aku menerima biji yang jatuh.
Aku menerima akar yang menembus.
Aku menerima kaki yang berjalan.
Aku menerima tubuh yang terkubur.
Mereka yang percaya bahwa tanah memilih
telah melupakan apa artinya menjadi tanah.
Tanah tidak memilih siapa yang hidup di atasnya.
Tanah hanya mengingat siapa yang pernah singgah.
Dan Purbasari aku mengingatnya.
Aku mengingat kakinya.
Aku mengingat tangannya.
Aku mengingat bahwa ia pernah menangis di sini