Di tengah istana, ada sebuah sungai kecil yang mengalir dari pegunungan di utara. Airnya jernih, dingin, dan tidak pernah berhenti mengalir bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun.
Sungai itu adalah saksi dari segalanya.
Ia melihat Purbasari tumbuh. Ia melihat Purbararang iri. Ia melihat fitnah dibuat dan kebenaran dikubur. Ia melihat semua yang terjadi di istana, tetapi tidak pernah bisa bicara.
Sampai sekarang.
Purbararang, dalam usahanya yang terakhir untuk mengalahkan kakaknya, menantang Purbasari untuk sebuah ujian.
"Jika kau benar-benar pemimpin yang dipilih oleh tanah," katanya, "maka tunjukkanlah. Lihatlah ke sungai ini. Jika Wajahmu benar, air akan memperlihatkannya. Jika kau bohong, air akan memperlihatkan itu juga."
Purbasari mendekati sungai. Ia tidak takut. Ia tahu apa yang akan terjadi.
─────────────────
Air berbicara:
Aku adalah cermin yang paling jujur.
Aku tidak pernah berbohong.
Aku tidak pernah memihak.
Aku hanya memperlihatkan apa yang ada.
Purbararang percaya bahwa aku akan memperlihatkan
keburukan Purbasari.
Ia percaya bahwa aku akan menjadi alatnya.
Tapi air tidak pernah menjadi alat siapa pun.
Ketika Purbasari menatapku,
aku memperlihatkan apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya.
Aku memperlihatkan hatinya.
Aku memperlihatkan pengorbanannya.
Aku memperlihatkan cintanya.