Istana Pasundan tidak pernah sepi seperti malam itu.
Para penasihat berkumpul di ruang utama, berbisik-bisik tentang apa yang terjadi di tepi sungai. Rakyat berkumpul di halaman, menunggu keputusan. Purbararang duduk di singgasananya, tetapi tidak lagi seperti ratu—ia hanya seorang perempuan yang kehilangan segalanya.
Purbasari berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Purbararang, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Aku tidak menginginkan apa pun," jawab Purbasari. "Aku hanya ingin menunjukkan bahwa mahkota tidak pernah memilih berdasarkan darah. Ia memilih berdasarkan hati."
"Dan kau pikir hatimu lebih baik dari hatiku?"
"Aku tidak berpikir apa pun." Purbasari menatap adiknya dengan mata yang tenang. "Aku hanya tahu bahwa kau tidak bahagia. Dan tidak ada mahkota yang bisa mengubah itu."
Purbararang menunduk. Air matanya jatuh ke lantai.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya.
Purbasari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendekat, mengambil tangan adiknya, dan menggenggamnya.
─────────────────
Bayangan istana berbicara:
Aku telah melihat banyak hal di istana ini.
Aku telah melihat kebohongan.
Aku telah melihat pengkhianatan.
Aku telah melihat kekuasaan yang dipertahankan
dengan cara apa pun.
Tapi malam ini,
aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku melihat pengampunan.
Pengampunan yang tidak meminta balasan.
Pengampunan yang tidak menghitung luka.
Pengampunan yang datang dari tempat yang paling dalam
di dalam diri manusia.