Perjalanan kembali ke istana adalah perjalanan yang berbeda dari perjalanan ke hutan. Kali ini, Purbasari tidak berjalan sendirian. Di sampingnya, lutung hitam itu melangkah dengan tenang seolah-olah ia tahu persis ke mana ia pergi dan apa yang akan terjadi.
Mereka melewati sungai yang sama. Melewati rumpun bambu yang sama. Melewati bebatuan yang sama. Tapi semuanya terasa berbeda. Mungkin karena Purbasari sendiri yang berbeda.
Ia tidak lagi takut.
"Apa yang akan terjadi ketika kita sampai?" tanyanya.
"Purbararang akan marah," jawab lutung itu. "Ia akan mencoba segala cara untuk menghentikanmu. Ia akan menuduhmu. Ia akan memfitnahmu. Ia akan melakukan semua yang bisa ia lakukan."
"Lalu?"
"Lalu kau akan diam."
"Diam?"
"Diam." Lutung itu menatapnya. "Karena diam adalah senjata yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Ketika kau diam, mereka tidak tahu apa yang kau pikirkan. Mereka tidak tahu apa yang kau rencanakan. Mereka hanya tahu bahwa kau tidak takut."
Purbasari mengangguk. Ia mengerti.
─────────────────
Lutung berbicara lagi:
Aku bisa saja datang sebagai pangeran.
Aku bisa saja datang sebagai dewa.
Aku bisa saja datang sebagai sesuatu yang membuat mereka takut.
Tapi aku memilih untuk datang sebagai lutung.
Karena lutung adalah pengingat
bahwa kebesaran tidak selalu terlihat.
Bahwa kekuatan tidak selalu berwujud.
Bahwa mereka yang dianggap rendah
sering kali adalah mereka yang paling tinggi.
Purbararang akan melihatku dan tertawa.