Nyala di Tengah Hujan

Umar alattas
Chapter #2

PROLOG

PROLOG

Detak Hujan di Trotoar Thamrin

Hujan di Jakarta tidak pernah sekadar turun. Ia datang seperti tagihan yang tertunda, menagih dosa-dosa kota yang selama ini dipendam di bawah aspal, di dalam selokan, dan di dalam hati orang-orang yang berpura-pura tidak melihatnya.

Malam itu, langit Jakarta kembali runtuh.

Bukan runtuh dalam arti harfiah, tapi runtuh dalam bentuk guyuran air yang deras, dingin, dan tanpa ampun. Di kawasan Sudirman dan SCBD, hujan hanya menjadi pemandangan estetik di balik jendela kaca berlapis ganda. Di dalam sana, pendingin ruangan berdesing lembut, kopi pilihan diaduk dengan sendok perak, dan orang-orang berjas rapi membicarakan angka-angka yang tidak akan pernah tersentuh oleh lumpur atau genangan air. Gedung-gedung kaca itu berdiri angkuh, memantulkan cahaya lampu neon berwarna biru dan ungu, seolah-olah mereka adalah benteng yang kebal terhadap amarah langit.

Tapi di bawah sana, di level trotoar tempat orang benar-benar berpijak, ceritanya sangat berbeda.

Di sudut Jalan Thamrin, di mana bayangan gedung-gedung raksasa itu jatuh menimpa jalanan, hujan adalah musuh yang nyata dan terasa. Ia mengubah permukaan trotoar yang sudah retak menjadi cermin yang pecah, memantulkan lampu merah bus TransJakarta dan lampu kuning pengendara ojek daring yang kabur oleh riak air. Bau aspal basah bercampur dengan bau selokan yang naik ke permukaan, sebuah aroma khas yang hanya bisa dikenali oleh paru-paru yang sudah bertahun-tahun menghirup udara ibu kota. Bagi banyak orang, aroma ini bukan sekadar bau tak sedap — melainkan aroma bertahan hidup.

Di tengah kontras yang tajam itu, tersembunyi sebuah kios kecil.

Bukan kedai kopi dengan desain modern dan menu yang ditulis dalam bahasa asing. Bukan pula warung dengan peralatan canggih dan harga yang melambung. Itu hanyalah kios sederhana beratap seng yang sudah mulai berkarat, dengan dua bangku kayu yang catnya sudah mengelupas dimakan usia dan kelembapan udara. Di atas meja kayu yang permukaannya tidak rata, terhampar termos kopi hitam, toples berisi rokok kretek, dan sebuah asbak yang penuh dengan puntung-puntung yang sudah mati.

Dan di sudut meja, tergantung dari paku berkarat yang tertancap di tiang seng, tergantung sebuah lentera minyak tua.

Lentera itu bukan barang antik yang dipajang untuk menarik perhatian pengunjung. Kaca pelindungnya sudah menghitam oleh jelaga, bingkai besinya berkarat di beberapa titik, dan sumbunya hanyalah kain perca dari potongan kaos bekas. Minyak yang dipakainya dibeli secara eceran dalam kaleng-kaleng bekas di warung kecil sebelah. Nyalanya tidak terang menyilaukan. Ia hanya menyisakan cahaya kuning samar, berkedip pelan setiap kali angin malam atau tetesan air yang merembes dari celah atap seng mengganggunya.

Di tengah dominasi lampu LED putih yang terang benderang dan lampu neon yang berkedip cepat, nyala kuning itu tampak seperti hal yang tidak wajar. Seperti detak jantung yang tersisa di tubuh yang sudah dianggap mati.

Surya, pria berusia 48 tahun yang duduk di balik meja kios itu, menatap nyala api kecil itu. Matanya cekung, dikelilingi kerutan yang lebih dalam daripada retakan-retakan di aspal jalan raya di depannya. Tangannya yang kasar dan bernoda kopi serta tembakau sedang mengelap meja dengan kain lap yang sudah basah kuyup. Ia tidak terburu-buru. Di usianya yang hampir setengah abad, Surya telah belajar satu hal penting: terburu-buru di Jakarta hanya akan membuatmu tergelincir dan tercebur ke dalam selokan yang tersembunyi.

Lihat selengkapnya