Nyala di Tengah Hujan

Umar alattas
Chapter #3

BAB I: PAGI DI TROTOAR BASAH

BAB I: PAGI DI TROTOAR BASAH


1.1 — Trotoar Thamrin dan Janji

Pukul lima pagi, trotoar Thamrin masih terbungkus kegelapan tipis. Lampu jalan di sepanjang jalan raya itu menyala redup, berkedip-kedip seolah malas, seolah belum yakin apakah hari sudah benar-benar dimulai atau malam masih berhak bertahan lebih lama. Surya berdiri tegak di depan kiosnya, kedua tangannya memegang kain lap yang sudah basah oleh embun sisa hujan semalam. Ia mengelap permukaan meja kayu tua itu dengan gerakan yang persis sama setiap pagi: satu lingkaran searah jarum jam, dua lingkaran, tiga lingkaran, lalu berhenti sejenak sebelum mengulanginya kembali. Jejak basah yang ditinggalkan kain lap itu mengilap sebentar diterpa cahaya lampu jalan, lalu perlahan menguap dan hilang begitu saja dalam hitungan detik.

Kios itu sangat kecil, luasnya tidak lebih besar dari ruang penyimpanan di dalam mobil keluarga. Atapnya terbuat dari lembaran seng yang sudah menua, berkarat di beberapa titik, dan meneteskan air hujan semalam ke dalam ember plastik besar yang selalu diletakkan di sudut belakang. Di dinding kayu yang sudah lapuk itu, tergantung papan tulisan buatan sendiri yang bertuliskan “KOPI HITAM 5.000” dengan cat yang warnanya sudah memudar dan hampir tidak terbaca jika dilihat dari kejauhan. Di sebelahnya, berjajar rapi di atas rak kayu pendek, toples-toples kaca berisi berbagai merek rokok: Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau, Gudang Garam Merah. Harga setiap barang tertulis di secarik kertas kecil yang digulung rapi dan dimasukkan ke dalam mulut toples, agar tidak hilang atau basah terkena embun.

Namun, yang membuat kios kecil ini berbeda dari sekadar tempat jualan kopi biasa bukanlah rasa kopinya, bukan pula merek rokok yang dijualnya, bahkan bukan lokasinya yang strategis di sudut pertemuan dua jalan raya utama. Yang membuat tempat ini memiliki nyawa adalah sebuah lentera minyak tua yang tergantung di tiang besi yang tertancap kuat di depan meja.

Lentera itu bukan barang antik yang mahal harganya, bukan pula barang langka yang diburu kolektor. Ia hanyalah lentera biasa, terbuat dari besi tipis yang sudah mulai berkarat, kacanya retak sedikit di bagian pinggir, sumbunya terbuat dari kain bekas baju yang sudah dipotong dan dipilin rapat, serta isinya adalah minyak tanah yang dibeli dalam kaleng bekas. Namun nyalanya — nyala api berwarna kuning samar yang tidak pernah padam sepenuhnya siang dan malam — adalah sebuah janji. Sebuah janji yang diucapkan Surya lima belas tahun silam, saat banjir besar Sungai Ciliwung merendam kampung dan mengambil nyawa Pak Hadi, sahabat sekaligus gurunya sejak ia masih kecil.

Surya kini berusia 48 tahun. Wajahnya terlihat persis seperti trotoar retak yang baru saja diguyur hujan: banyak garis kerutan, kulitnya menghitam terbakar matahari, matanya cekung menahan lelah yang terakumulasi bertahun-tahun, dan kedua tangannya kasar penuh kapalan karena setiap hari mengaduk kopi, mengangkat ember, dan memegang kayu selama puluhan tahun. Ia bukan pengusaha sukses yang punya cabang di mal atau rumah mewah di pinggiran kota. Ia hanyalah tukang kopi biasa, dengan satu tugas yang ia anggap paling penting di dunia: menjaga kios ini tetap berdiri, dan menjaga agar nyala lentera itu tidak pernah mati. Agar orang yang lewat tetap bisa menemukan tempat berteduh di pagi yang basah, agar malam yang gelap di sepanjang trotoar tidak sepenuhnya kosong, dan agar janji yang diucapkan itu tidak lenyap begitu saja seperti asap rokok yang terbawa angin.

“Pak Surya!”

Suara itu memecah kesunyian pagi, datang dari arah selokan yang mengalir di pinggir trotoar. Mang Ujang, petugas kebersihan dari PPSU dengan rompi oranye yang warnanya sudah pudar menjadi merah bata, berjalan mendekat sambil mengayunkan sapu lidi dan sekop kecil di tangannya. Ia berhenti tepat di depan kios, lalu menunduk melihat genangan air yang mulai naik perlahan merayap naik ke atas aspal.

“Pagi, Mang,” jawab Surya tanpa menoleh sedikit pun. Matanya masih tertuju pada meja kayu, tangannya terus bergerak mengelap dengan irama yang sama: satu lingkaran, dua lingkaran, tiga lingkaran.

“Air mulai naik pelan-pelan, Pak. Semalam hujan deras sekali di hulu sungai. Kalau siang nanti matahari belum terbit dan hujan turun lagi, bisa sampai setinggi lutut kita ini.”

Surya hanya mengangguk pelan, seolah sudah tahu persis apa yang akan terjadi. “Terima kasih sudah bilang, Mang.”

Mang Ujang lalu mengangkat kepalanya, menatap lentera tua yang tergantung di tiang itu. Wajahnya tampak khawatir. “Benda itu… lebih baik Bapak bawa masuk ke dalam saja, Pak. Besi tua, kacanya sudah retak. Kalau air makin naik dan terbawa arus, bisa pecah atau hilang. Nggak sebanding sama keselamatan Bapak sendiri.”

Surya akhirnya berhenti menggerakkan tangannya. Ia mengangkat kepala, menatap wajah Mang Ujang, lalu mengukir senyum tipis yang tidak sampai menjangkau matanya yang lelah. “Ini bukan sekadar besi tua, Mang. Ini ingatan. Dan ingatan tidak bisa saya lipat dan simpan di dalam laci.”

Mang Ujang menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. Ia sudah mendengar kalimat yang sama ini ratusan kali selama bertahun-tahun, dan ia tahu betul bahwa Surya tidak akan pernah berubah pikiran. “Ingatan memang berharga, Pak, tapi ingatan tidak bisa menghangatkan badan atau menyelamatkan nyawa kalau air sudah masuk sampai ke dada. Hati-hati saja ya, Pak.” Setelah mengucapkannya, ia berbalik badan dan kembali menyapu daun-daun kering yang basah yang mulai menumpuk di mulut selokan.

Surya menatap punggung Mang Ujang yang perlahan menjauh. Ia melihat bagian bahu kiri rompi oranye itu paling pudar, karena di situlah matahari paling sering menyengat selama berjam-jam setiap hari. Ia memperhatikan bagaimana Mang Ujang berhenti di tempat yang sama tiga meter ke depan, lalu menyapu kembali daun-daun yang baru saja ia kumpulkan. Sebuah siklus yang berulang tanpa henti, sama seperti hidupnya sendiri.

Di dalam ruang sempit kios, Si Belang mulai bangun dari tidur panjangnya di kolong bangku kayu. Kucing berwarna tiga itu melompat perlahan ke atas meja, lalu berjalan mendekati lentera, duduk bersila di dekatnya, dan mulai menjilati kaki belakangnya yang diperban karena tergores semalam. Matanya yang berwarna kuning keemasan menatap Surya sebentar, seolah bertanya mengapa ia begitu sibuk di pagi buta, lalu kembali menunduk merawat tubuhnya sendiri.

Surya kembali memulai gerakannya: satu lingkaran, dua lingkaran, tiga lingkaran.

Pukul enam pagi, pelanggan pertama datang. Pak RT dari kampung padat penduduk di belakang gedung perkantoran, seorang pria tua dengan kopiah hitam yang selalu miring ke kiri karena kebiasaan menggaruk kepalanya. Ia melangkah hati-hati menghindari genangan, lalu duduk di bangku kayu yang sudah disiapkan. “Kopi hitam, tanpa gula, Sur.”

Surya mengambil termos besar yang sudah dihangatkan sejak dini, lalu menuangkan cairan berwarna hitam pekat ke dalam cangkir plastik tebal. “Masih jaga benda itu, ya?” tanya Pak RT sambil menunjuk lentera dengan dagunya. Suaranya parau dan berat, seperti suara knalpot motor tua yang sudah lama tidak diservis.

“Masih, Pak. Sampai saya tidak bisa menjaganya lagi,” jawab Surya sambil menyodorkan cangkir itu.

“Kenapa tidak diganti saja dengan lampu LED? Lebih terang, lebih hemat listrik, tidak perlu beli minyak tanah setiap hari. Hujan begini kan bisa bertahan lama.”

Surya mengukir senyum yang sama seperti tadi. “Lentera ini bukan sekadar lampu penerang, Pak. Ini janji. Pak Hadi dulu pernah bilang, ‘Jaga nyala ini, Sur. Ia bukti kesetiaan kita pada hal-hal yang kecil: pada pelanggan seperti Bapak yang tetap datang meski jalan tergenang air, pada orang-orang yang tidak punya tempat lain untuk berteduh. Nyala lampu listrik atau LED tidak punya sumbu, tidak punya cerita, dan tidak mengingatkan kita pada apa-apa.’”

Pak RT hanya mengangguk pelan, seolah mengerti meski di dalam hatinya ia merasa itu hanya pemikiran orang tua yang terlalu memegang kenangan. Ia membayar dengan uang receh yang sudah disiapkan, lalu melangkah pergi kembali menembus udara dingin pagi.

Surya menatap lentera itu lama-lama. Nyala apinya menari pelan mengikuti hembusan angin kecil yang masuk dari celah-celah dinding. Janji itu lahir lima belas tahun silam, saat air Sungai Ciliwung naik seperti amarah yang tertahan terlalu lama. Pak Hadi, sahabatnya sekaligus gurunya, seorang mantan tukang becak yang tangannya selalu bau minyak tanah dan asap rokok, hanyut terbawa arus di kali itu. Ia ditemukan beberapa hari kemudian, masih menggenggam lentera yang sama, tubuhnya sudah dingin dan kaku, tapi sumbu lentera itu masih sedikit basah seolah baru saja dipadamkan.

“Sur,” ucap Pak Hadi sehari sebelum musibah itu datang, “kalau suatu hari saya tidak ada lagi, kau ambil alih kios ini. Jaga nyala lentera itu. Ia bukan sekadar cahaya untuk menerangi jalan. Ia adalah bukti bahwa kita setia pada orang-orang kecil di trotoar ini. Tanpa cahaya kecil ini, kota yang besar dan terang benderang ini akan terasa lebih gelap bagi mereka yang tersesat.”

Surya mengambil lentera itu dari air keruh sungai itu, memeluknya erat-erat meski tubuhnya menggigil kedinginan. Sejak saat itu, janji itu menjadi satu-satunya pegangan hidupnya. Bukan jabatan, bukan kekayaan, bukan nama yang dikenal orang banyak, melainkan sebuah nyala api kecil yang tidak bisa digantikan oleh listrik kota yang paling terang sekalipun.

Pukul tujuh pagi, trotoar mulai ramai. Pelanggan berdatangan silih berganti: supir taksi dan bus yang mampir sebentar untuk membeli rokok sambil mengeluh soal kemacetan dan banjir; wanita-wanita kantoran dengan sepatu hak tinggi yang melangkah hati-hati agar kakinya tidak basah; pemuda-pemuda yang baru berangkat kerja, memesan kopi sambil terus menunduk menatap layar ponsel tanpa pernah melihat apa yang ada di sekitarnya.

Surya melayani mereka semua dengan gerakan yang sama, tenang dan teratur: tuang kopi, ambilkan rokok, terima uang, ucapkan terima kasih. Ia tidak banyak bicara, tidak bertanya soal urusan mereka, tidak memuji atau mengeluh. Ia hanya ada, diam dan setia, persis seperti lentera yang menyala di tengah cuaca yang tidak menentu.

Dan hujan, seperti biasa, tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya beristirahat sebentar, lalu turun lagi dengan irama yang tak pernah berubah.

-

1.2 — Laki-Laki yang Hanyut

Sore itu, hujan turun lebih awal dari biasanya. Pukul tiga siang, langit di atas kota sudah berubah menjadi warna kuning pucat yang menakutkan, lalu berubah menjadi kelabu pekat. Angin bertiup lebih kencang, membawa bau tanah basah dan lumpur dari arah Sungai Ciliwung yang mulai meluap. Surya segera menurunkan terpal plastik tebal yang melindungi bagian depan kios, lalu mengikat setiap ujungnya dengan simpul ganda yang kuat — cara yang diajarkan Pak Hadi lima belas tahun silam, simpul yang tidak akan lepas meski ditarik arus air atau diterpa angin kencang sekalipun.

Ia duduk kembali di bangku kayunya, menyandarkan punggungnya yang mulai terasa kaku. Matanya menatap lentera yang tergantung di tiang besi, nyala apinya berkedip pelan seolah sedang menarik napas panjang. Surya tidak pernah menyalakan lampu neon yang tergantung di dalam kios. Ia lebih suka duduk dalam cahaya temaram lentera di sore-sore seperti ini. Cahayanya tidak menyilaukan mata, tidak terang benderang, tapi cukup untuk melihat wajah siapa saja yang datang, cukup untuk membedakan siapa yang butuh kopi panas dan siapa yang hanya butuh tempat berteduh sebentar dari hujan.

Si Belang melompat naik ke pangkuan Surya. Kucing itu mendengkur pelan, bulunya yang lembut dan hangat menghangatkan paha Surya yang mulai terasa dingin terkena angin. Surya mengelus punggungnya dengan gerakan lambat, tapi pikirannya tidak ada di situ. Ia sedang melayang jauh, kembali ke masa lima belas tahun silam.

Waktu itu, Surya baru berusia dua puluh sembilan tahun. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya di sebuah pabrik garmen besar di Cakung, karena ketahuan tertidur di jam kerja. Bukan karena ia malas atau tidak mau bekerja keras, melainkan karena ia sangat kurang tidur. Ibunya terbaring sakit di rumah kontrakan sempit, dan ia harus bekerja dua shift untuk menutupi biaya pengobatan, sehingga waktunya untuk beristirahat hampir habis. Bosnya hanya berkata singkat dan dingin, “Kalau kamu tidak bisa mengatur waktu dan mengikuti aturan, lebih baik cari tempat lain yang cocok untukmu.”

Surya tidak marah, tidak memaki, tidak memohon untuk dimaafkan. Ia hanya mengangguk pasrah, mengambil uang pesangon yang jumlahnya sangat sedikit, lalu berjalan pulang dengan langkah berat menuju kosannya yang sempit di Kampung Melayu.

Malam itu, ia duduk termenung di trotoar Thamrin yang masih sepi. Ia tidak tahu harus ke mana atau harus melakukan apa selanjutnya. Uang di sakunya hanya cukup untuk membeli makanan selama tiga hari ke depan. Ibunya butuh obat yang harganya terus naik. Adik perempuannya masih duduk di bangku sekolah menengah dan butuh biaya. Dan ia, seorang laki-laki yang sudah menginjak usia kepala tiga, merasa gagal total, tidak punya keahlian khusus, tidak punya tabungan, dan tidak punya siapa pun untuk dimintai pertolongan.

Di situlah ia pertama kali bertemu dengan Pak Hadi.

Pak Hadi duduk di bangku kayu yang sama persis dengan yang Surya duduki sekarang. Bedanya, waktu itu bangkunya masih baru, catnya belum mengelupas, dan terpalnya masih berwarna biru terang. Pak Hadi mengenakan kaos oblong putih yang sudah menguning di bagian ketiak, celana panjang batik lusuh, dan sandal jepit yang solnya tinggal separuh. Di depannya ada meja kayu kecil, kompor minyak tanah yang menyala pelan, cerek tembaga besar, dan toples-toples kopi yang masih baru.

Lihat selengkapnya