Nyala di Tengah Hujan

Umar alattas
Chapter #4

BAB II TAWARAN DAN KERAGUAN

BAB II: TAWARAN DAN KERAGUAN

 

2.1 — Jas Basah dan Tablet

Pukul dua siang, langit Jakarta Timur berubah jadi warna timah. Tidak ada angin, cuma kelembapan yang nempel di kulit seperti plastik pembungkus yang kepanasan. Surya sedang mengelap meja kayu yang permukaannya sudah mulai menggelembung di beberapa titik karena sering kena air hujan. Gerakannya pelan, berulang-ulang. Satu usap ke kiri. Satu usap ke kanan. Kain lap yang sudah berwarna abu-abu itu meninggalkan jejak lembap, lalu mengering lagi dalam hitungan detik.

Deru mobil hitam berhenti di tepi trotoar, tepat di depan genangan air yang mulai meluas dari arah Bundaran HI. Pintu belakang terbuka. Sepatu kulit mengkilap turun ke aspal yang masih basah, menghindari genangan dengan ketelitian yang hampir terasa seperti perhitungan matematis. Widas melangkah keluar. Jas abu-abunya yang rapi terlihat basah di bagian bahu kiri, tapi ia tidak memedulikannya sedikit pun. Di tangannya tergenggam sebuah tablet tipis yang layarnya menyala, menampilkan deretan grafik dan angka yang tidak bisa dibaca Surya dari jarak lima meter.

“Pak Surya,” sapa Widas. Suaranya halus, terkontrol sempurna, seperti suara pembawa berita yang sudah berlatih di depan cermin berkali-kali sebelum tampil di hadapan publik.

Surya berhenti mengelap meja. Ia menegakkan punggungnya yang sedikit membungkuk, lalu menatap tamunya dengan pandangan tenang tapi waspada. “Ada apa, Pak?”

Widas berjalan mendekat, langkahnya tidak terburu-buru tapi pasti. Ia berhenti tepat di depan meja, lalu meletakkan tablet itu di atas permukaan kayu yang masih lembap. Layarnya memperlihatkan peta udara kawasan trotoar Jalan Thamrin, lengkap dengan garis-garis merah tebal yang membatasi zona yang ditandai sebagai area “rencana penataan ulang”.

“Saya tidak akan menggunakan basa-basi yang tidak perlu,” kata Widas sambil membuka berkas digital di dalam tabletnya. “Trotoar ini akan ditata ulang dan diperluas mulai bulan depan. Kios Bapak berada persis di dalam zona yang akan dibongkar. Bukan karena kami ingin mengusir sembarangan. Tapi karena kota membutuhkan ruang yang lebih fungsional, lebih aman bagi pejalan kaki, dan lebih modern sesuai perkembangan zaman.”

Surya tidak menjawab sepatah kata pun. Matanya hanya terpaku pada garis merah yang melintang tepat di bawah tempat usahanya berdiri selama lima belas tahun. Bagi Surya, garis itu terasa seperti garis kapur yang digunakan polisi untuk menandai batas antara kehidupan dan kematian.

Widas menggeser layar ke halaman berikutnya. Kini tampil dokumen resmi dengan kop surat dinas kota. “Kami menawarkan solusi relokasi. Lokasi barunya ada di lantai dasar gedung perkantoran yang persis bersebelahan dengan kawasan ini. Luasnya empat kali lipat dari kios yang sekarang. Fasilitasnya lengkap: listrik menyala dua puluh empat jam, pendingin ruangan, jaringan internet nirkabel, hingga sistem pencatatan penjualan digital. Bapak tidak perlu lagi bangun pukul empat pagi hanya untuk menyalakan kompor, tidak perlu khawatir jika hujan turun deras, dan jumlah pelanggan diprediksi akan meningkat pesat. Penghasilan bisa naik sampai tiga ratus persen dalam waktu enam bulan saja.”

Surya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Widas. “Saya tidak butuh pendingin ruangan, Pak.”

Widas tersenyum tipis. Bukan senyum yang menghina, tapi lebih mirip senyum orang yang sedang menjelaskan hal sederhana kepada anak kecil yang masih keras kepala. “Ini bukan soal kenyamanan semata, Pak. Ini soal keberlangsungan hidup usaha Bapak. Usia Bapak sudah mendekati lima puluh tahun. Kios ini tidak memiliki izin usaha resmi, atapnya sering bocor saat hujan, dan saluran air di depannya sudah lama tersumbat. Jika Bapak tetap bertahan di sini, dalam waktu dua tahun ke depan Bapak akan kehilangan segalanya — bukan karena kami jahat, tapi karena alam dan perubahan zaman tidak akan menunggu orang yang menolak untuk bergerak maju.”

Ia mengetuk layar tablet satu kali. Sebuah kode kotak-kotak berwarna hitam putih muncul di tengah layar. “Ini adalah tawaran tertulis secara resmi. Bapak bisa memindainya, membaca seluruh isinya, lalu menandatanganinya secara digital. Kami memberikan waktu tujuh hari untuk memutuskan. Jika sampai batas waktu itu Bapak tidak memberikan tanggapan, kami anggap Bapak menolak tawaran ini. Dan sesuai prosedur yang berlaku, kios ini akan dibongkar oleh petugas kebersihan dan penataan kota tepat pada tanggal satu bulan depan.”

Widas mengambil tabletnya kembali, memasukkannya rapi ke dalam tas kulit yang tergantung di lengannya. “Saya paham Bapak memiliki banyak kenangan di tempat ini. Tapi sejarah dan kenangan itu tidak bisa dimakan, tidak bisa membayar tagihan listrik, dan tidak bisa memberikan masa depan yang lebih pasti bagi keluarga.”

Ia berbalik melangkah pergi. Sepatu kulitnya sesekali menginjak genangan air, meninggalkan jejak basah di atas aspal yang baru saja disiram hujan. “Pikirkan dengan matang, Pak Surya. Keluarga membutuhkan jaminan, bukan sekadar kenangan.”

Mobil hitam itu melaju perlahan, lalu menghilang di balik tirai gerimis yang mulai turun semakin lebat.

Surya masih berdiri di tempatnya. Ia menatap meja kayu yang kosong. Tidak ada tablet, tidak ada kode tanda tangan, hanya genangan air hujan yang mulai merembes masuk melalui celah-celah papan yang sudah lapuk dimakan usia.

Ia tidak bergerak, tidak melanjutkan pekerjaannya, hanya berdiri mematung menatap titik kosong di hadapannya. Kalimat terakhir yang diucapkan Widas terus berputar di dalam kepalanya, bergema pelan namun menusuk: Keluarga butuh jaminan, bukan kenangan.

Surya menoleh ke arah tiang besi tua di sudut kios. Sebuah lentera minyak tergantung di sana, nyala apinya berwarna kuning kemerahan dan terlihat stabil meski angin mulai bertiup lebih kencang. Ia mengangkat tangannya, menyentuh bingkai besi yang terasa dingin dan sudah mulai berkarat.

“Kau dengar apa yang dia katakan, Pak?” bisiknya pelan, seolah berbicara pada seseorang yang sudah lama tiada. “Dia bilang keluarga butuh jaminan yang pasti.”

Nyala api di dalam lentera itu berkedip sejenak, seolah terkejut mendengar suara tuannya. Tidak ada jawaban yang terdengar, hanya gerakan nyala yang menari pelan di balik kaca yang sudah retak di beberapa sisinya.

Surya menurunkan tangannya perlahan. Ia mengambil kembali kain lap yang basah itu, lalu kembali mengelap meja. Satu usap ke kiri, satu usap ke kanan. Namun kali ini gerakannya tidak lagi terasa otomatis dan tenang. Ada getaran halus yang terasa di pergelangan tangannya, ada rasa ragu yang mulai merayap masuk ke dalam dadanya, perlahan namun pasti — seperti air hujan yang meresap masuk ke dalam kayu yang sudah lapuk.

Ia tidak tahu lagi harus percaya pada janji kesetiaan yang dipegang selama lima belas tahun terakhir, atau justru pada kenyataan yang berkata bahwa kesetiaan saja sering kali tidak cukup untuk bertahan hidup di kota yang terus berubah ini.

Hujan turun semakin deras, membasahi seluruh permukaan trotoar Thamrin hingga tergenang. Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan hidupnya selama satu setengah dekade itu, Surya tidak lagi merasa yakin apakah ia masih ingin terus menjaga nyala api kecil itu tetap menyala.

-

2.2 — Kopi Tanpa Gula dan Kode Kotak

Malam itu, kios Surya ditutup lebih awal dari biasanya. Pukul tujuh malam, ia sudah menurunkan separuh terpal penutup, menyimpan rapi toples berisi rokok dan makanan ringan, serta mematikan kompor kecil yang digunakan untuk memasak air panas. Namun ia tidak langsung berjalan pulang ke tempat tinggalnya yang sempit di gang belakang. Ia justru duduk di bangku kayu panjang yang sudah usang, menatap lekat-lekat lentera yang tergantung di tiang besi. Isi minyak tanah di dalamnya sudah tersisa hanya seperempat bagian, sedangkan sumbu kain yang sudah menghitam di ujungnya bergerak pelan mengikuti hembusan angin malam.

Di dalam saku celana panjangnya, terselip selembar kertas kecil. Bukan dokumen resmi, bukan lembar kontrak, apalagi kode kotak yang bisa dipindai. Hanya secarik kertas bekas bungkus kopi yang ia robek, lalu ditulis tangan dengan tinta pena bolpoin berwarna biru:

“Tawaran: Pindah ke gedung di sebelah. Listrik nyala terus. Luas tempat empat kali lipat. Penghasilan bisa naik 300%. Batas waktu: tujuh hari. Tanda tangan lewat ponsel.”

Ia sudah membaca tulisan itu puluhan kali sejak siang tadi. Kata-katanya tidak berubah, namun maknanya terus bergeser dalam pikirannya. Awalnya terdengar seperti ancaman yang memaksa, lalu berubah menjadi godaan yang sulit ditolak, dan akhirnya menjadi pertanyaan besar yang tidak memiliki jawaban yang pasti.

Bang Rojak datang menghampiri tepat pukul delapan malam. Suara ketukan tongkat kayunya terdengar jelas memukul aspal yang masih basah, menandakan kedatangannya sebelum ia terlihat oleh mata. Punggung pria tua itu terlihat lebih membungkuk dari biasanya, seolah menanggung beban berat yang tak terlihat.

Lihat selengkapnya