BAB III HUJAN YANG MENGGUGAT
3.1 — Langit yang Runtuh
Tekanan udara turun drastis sejak pukul dua siang. Tidak ada angin yang berhembus, seolah seluruh udara di kota ini terjebak di antara tembok-tembok gedung pencakar langit. Udara di trotoar Jalan Thamrin terasa padat, lengket, dan berbau campuran antara ozon yang tertekan serta aspal panas yang menguap ke permukaan.
Surya berdiri di depan kios kecilnya, mengelap meja kayu tua dengan kain lap yang sudah basah oleh embun dan keringat. Gerakannya teratur, hampir mekanis. Satu lingkaran, dua lingkaran, tiga lingkaran. Kain lap itu meninggalkan jejak basah yang jelas di atas permukaan meja, lalu menghilang, menguap kembali dalam hitungan detik karena panas yang menyelimuti segalanya.
Di seberang jalan, gedung-gedung kaca di kawasan SCBD memantulkan langit yang berubah warna menjadi kuning pucat, seperti tembaga yang terbakar. Di balik dinding kaca itu, sistem pendingin ruangan bekerja mati-matian menjaga suhu tetap di dua puluh dua derajat Celsius.
Di dalam sana, karyawan-karyawan berpakaian rapi dan berjas hitam duduk tenang mengetik di depan layar komputer, membahas keuntungan dan strategi bisnis, tanpa pernah sekalipun menyadari bahwa hanya beberapa meter di bawah kaki mereka, di level trotoar, suhu tubuh manusia biasa mulai berjuang melawan kelembapan yang mencapai sembilan puluh persen. Keringat menetes deras dari pelipis Surya, meluncur turun melewati rahang, lalu jatuh memercik ke lantai kios yang sudah retak di beberapa titik. Ia tidak repot-repot mengusapnya. Biarkan saja, pikirnya. Toh lima menit lagi akan ada tetesan baru yang jatuh di tempat yang sama.
Burung-burung yang biasanya hinggap di pinggir jalan hari ini lenyap. Biasanya, pada jam segini, ada dua atau tiga ekor burung pipit yang berebut remah roti di dekat asbak di sudut kios. Kadang ada juga burung gereja yang berani dan tenang, hinggap di tiang lentera, mengintip Surya dengan mata bulat yang seolah tidak pernah berkedip. Namun hari ini, trotoar terasa sepi dan sunyi.
Hanya ada daun-daun kering yang bergeser perlahan di atas aspal, didorong oleh hembusan angin samar yang datang dan pergi tanpa tujuan. Surya pernah mendengar dari Bang Rojak, seorang pengemis tua yang sering duduk di dekat halte, bahwa hewan-hewan selalu tahu lebih dulu sebelum bencana datang.
“Mereka punya insting yang sudah lama kita manusia lupakan,” kata Bang Rojak suatu malam, sambil menyeruput kopi hitam pahit yang dibelikan Surya. “Kita terlalu sibuk menatap layar ponsel, mengejar notifikasi, dan memikirkan tenggat waktu. Kita lupa cara mendengarkan suara tanah, cara membaca perubahan angin. Kita sudah menjadi makhluk yang buta terhadap tanda-tanda alam.”
Surya berhenti mengelap meja. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah langit. Warnanya bukan sekadar abu-abu mendung biasa. Ia berubah menjadi ungu kehitaman, seperti memar yang melebar dan makin gelap di atas kulit. Awan-awan itu menggantung sangat rendah, seolah-olah langit sendiri akan segera runtuh dan menimpa seluruh bangunan di bawahnya.
Di kejauhan, di balik deretan gedung tinggi, kilat menyambar sesekali tanpa suara, hanya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan sebentar sebelum menghilang kembali. Seperti lampu strobo di dalam ruangan yang gelap, tapi tanpa irama musik apa pun.
Mang Ujang, petugas kebersihan dengan rompi oranye yang sudah pudar warnanya, berjalan melintas di depan kios. Rompi itu basah kuyup, bukan karena hujan, melainkan karena keringat yang merembes dari punggung dan ketiaknya seharian bekerja. Ia berhenti sejenak, menunduk menatap saluran air di depan kios yang mulutnya tertutup rapat oleh tumpukan kantong plastik hitam dan sampah kering.
Air di dalam selokan itu mulai meluap, naik perlahan dan menggenangi bibir trotoar setinggi dua sentimeter. Bau amis yang menyengat segera menguap ke permukaan, bercampur dengan bau sampah yang mulai membusuk karena terendam air panas.
“Pak Surya,” suara Mang Ujang terdengar datar, lelah, tanpa nada emosi apa pun. Matanya masih tertuju pada air yang meluap itu. “Saluran utama di depan mal besar sudah mampet total. Konstruksi pipa beton baru yang dipasang di bawah tanah memblokir jalur alami air menuju kali. Kalau nanti hujan turun deras, air tidak punya jalan keluar. Ia akan balik lagi ke sini, ke permukaan jalan.”
Surya hanya mengangguk pelan. “Terima kasih peringatannya, Mang.”
“Lebih baik bawa masuk dan naikkan barang-barang Bapak ke tempat yang lebih tinggi,” lanjut Mang Ujang, akhirnya menoleh sebentar. Matanya menangkap benda yang tergantung di tiang besi di sudut kios. “Termasuk besi tua dan lentera di tiang itu. Besi berkarat tidak sebanding dengan nyawa, Pak. Jangan sampai nanti menyesal.”
Surya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. “Ini bukan besi tua, Mang. Ini ingatan.”
Mang Ujang hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah mendengar kalimat itu ratusan kali selama lima tahun ia bertugas menjaga kebersihan di sepanjang trotoar ini. Awalnya ia mengira Surya gila, orang yang hidup di dunianya sendiri. Lama-kelamaan ia mulai mengerti bahwa Surya tidak gila. Ia hanya setia. Dan di kota besar seperti Jakarta ini, kesetiaan sering kali terlihat sama persis dengan kegilaan.
“Ingatan tidak bisa menghangatkan badan kalau Bapak sampai tenggelam kedinginan, Pak,” kata Mang Ujang lagi, suaranya makin pelan tapi tegas. “Hati-hati saja.”
Ia pun berbalik, kembali menyapu daun-daun kering yang menumpuk di bibir selokan. Sapu lidinya bergerak lambat, mengumpulkan daun-daun itu menjadi tumpukan kecil yang rapi. Sebuah usaha yang rasanya sia-sia, karena ia tahu dalam lima menit lagi angin atau air akan menghanyutkannya kembali. Namun ia tetap melakukannya. Karena itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Dan kadang, satu-satunya hal yang bisa dilakukan sudah cukup untuk menjaga agar pikiran tetap waras.
Surya menatap punggung Mang Ujang yang menjauh. Rompi oranye itu paling pudar di bagian bahu kiri, tempat sinar matahari paling sering menyengat seharian. Ia melihat Mang Ujang berhenti tiga meter lagi, lalu menyapu daun-daun yang sama persis yang baru saja ia kumpulkan tadi. Sebuah siklus yang tidak pernah berakhir. Surya merasa ia dan Mang Ujang sebenarnya tidak berbeda jauh. Keduanya melakukan hal yang sama setiap hari, dengan harapan yang sama: bahwa kali ini, hasilnya akan berbeda. Namun hasilnya tidak pernah berbeda. Dan mereka tetap melakukannya, hari demi hari.
Di dalam kios, Si Belang, kucing kampung berbulu tiga warna yang sudah tua, bangun dari tidurnya yang nyenyak di kolong bangku kayu. Ia melompat perlahan ke atas meja, duduk tegak di dekat lentera, lalu mulai menjilati kaki belakangnya yang diperban bekas luka. Matanya yang besar dan berwarna kuning menatap Surya sejenak, lalu kembali sibuk merawat dirinya sendiri. Surya pernah bertanya pada dokter hewan keliling yang lewat dua bulan lalu, kenapa Si Belang selalu memilih tidur dan duduk di dekat lentera itu.
“Kucing punya cara sendiri melihat benda,” jawab dokter itu sambil memeriksa gigi Si Belang. “Mereka tahu benda mana yang punya ‘nyawa’ lewat makna yang diberikan pemiliknya. Bagi dia, lentera itu bukan sekadar besi dan kaca. Bagi dia, lentera itu adalah bagian dari dirimu, Pak. Bagian yang paling hidup.”
Surya tidak paham sepenuhnya penjelasan itu. Tapi ia percaya.
Pukul tiga sore, hujan akhirnya turun. Bukan rintik halus yang menyegarkan, melainkan butiran air yang padat, berat, dan besar, memukul atap seng kios dengan suara yang konstan, keras, dan memekakkan telinga. Suara itu bukanlah musik, melainkan tekanan akustik yang memenuhi setiap inci ruang di dalam kios, seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk pikiran manusia. Surya segera menutup separuh bagian depan kios dengan terpal tebal, lalu mengikat talinya dengan simpul ganda yang kuat — simpul yang diajarkan Pak Hadi, pemilik kios ini sebelumnya, lima belas tahun lalu. Simpul yang tidak akan lepas meski ditarik oleh arus air yang deras sekalipun. Ia memeriksa kaleng berisi minyak tanah yang tersimpan di bawah meja. Tinggal seperempat isinya. Cukup untuk menyala selama dua malam penuh. Mungkin tiga malam jika ia mengatur sumbunya agar tidak terlalu besar.
Ia duduk kembali di bangku kayu, menatap lentera tua yang tergantung di tiang. Nyala apinya yang kuning dan kecil berkedip pelan, seolah sedang bernapas mengikuti irama hujan. Surya tidak menyalakan lampu neon di atas kepalanya. Ia lebih suka cahaya dari lentera di sore-sore seperti ini. Cahayanya tidak terang dan menyilaukan, tapi cukup untuk melihat wajah-wajah orang yang datang. Cukup untuk mengenali siapa yang butuh kopi pahit, dan siapa yang sebenarnya hanya butuh tempat berteduh dari badai.
Si Belang melompat ringan ke pangkuan Surya. Kucing itu mulai mendengkur pelan, bulunya yang tebal menghangatkan paha Surya yang mulai terasa dingin karena udara lembap. Surya mengelus punggungnya perlahan, tapi pikirannya tidak ada di situ.
Pikirannya melayang kembali ke lima belas tahun yang lalu.
Ke malam ketika air naik sampai setinggi dada orang dewasa. Ke malam ketika Pak Hadi terbawa arus deras sambil tetap memegang lentera ini erat-erat di tangannya. Ke malam ketika Surya belajar satu pelajaran pahit: bahwa kesetiaan kadang harus dibayar dengan kehilangan.
Dan malam ini, hujan datang lagi. Air mulai naik perlahan di permukaan trotoar. Dan Surya tahu, ia harus siap. Bukan untuk sekadar menyelamatkan benda mati ini. Tapi untuk menyelamatkan makna dan janji yang dibawa lentera itu.
Pukul empat sore, pelanggan pertama datang. Pak RT dari kampung sebelah, pria tua bertubuh pendek dengan kopiah yang selalu miring ke kiri. Ia berlari kecil dari arah halte TransJakarta, jas hujannya terbuka lebar, air hujan menetes deras dari ujung hidung dan dagunya.
“Sur, kopi hitam. Cepat sedikit,” katanya sambil duduk tergesa-gesa di bangku kayu, napasnya memburu dan tidak teratur. “Gila sekali hujannya ini. Dari tadi pagi awannya sudah gelap, tapi baru sekarang benar-benar turun deras.”
Surya segera menuangkan kopi panas dari termos ke dalam cangkir plastik tebal. Gerakannya cepat dan terlatih, sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. “Dari tadi siang memang sudah terasa berat, Pak.”
Pak RT menerima cangkir itu dengan kedua tangan, lalu meneguknya setengah isinya sekaligus. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru sadar dari tidur panjang. “Enak. Kopimu nggak pernah bohong, Sur. Kalau pahit ya pahit rasanya. Tidak pernah dicampur gula atau bahan lain supaya kelihatan manis dan enak padahal tidak asli.”
Surya hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu. “Itu janji, Pak.”
“Janji apa?”
“Janji yang saya buat sama Pak Hadi dulu. Katanya, kopi harus jujur. Seperti orang bicara. Kalau tidak jujur, rasanya akan terasa aneh di lidah.”
Pak RT menatap wajah Surya lama sekali, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik matanya. Lalu ia mengangguk pelan, setuju. “Pak Hadi memang orang yang baik. Kamu juga orang yang baik, Sur. Tapi ingat, orang baik di kota ini sering kali kalah lebih cepat dibandingkan orang yang pintar mencari jalan pintas.”
Ia membayar dengan uang receh yang ia keluarkan dari saku dalam jasnya, lalu berdiri bersiap pulang. “Saya harus lanjut ke rumah. Kalau air makin naik, kamu hati-hati saja ya. Jangan terlalu keras kepala menahan diri di sini kalau sudah berbahaya.”
Surya mengangguk tanpa banyak bicara. Ia menatap punggung Pak RT yang berlari kecil kembali ke arah halte, jas hujannya berkibar tertiup angin seperti sayap burung yang patah. Ia sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apakah ia ini orang yang keras kepala, atau hanya orang yang sedang berusaha setia? Kadang dua hal itu terlihat sama persis jika dilihat dari luar.
Pukul lima sore, pelanggan lain datang.
Seorang wanita kantoran muda dengan sepatu hak tinggi yang melangkah sangat hati-hati, menghindari genangan air yang makin meluas. Rambutnya yang panjang diikat rapi, tapi beberapa helainya terlepas dan menempel di pipi serta lehernya yang basah. Ia memesan kopi susu, lalu duduk di ujung bangku, segera membuka ponselnya yang sudah terbungkus plastik agar tidak basah.
Surya tidak pernah bertanya apa yang sedang dikerjakan orang-orang yang datang. Ia hanya menuangkan kopi, mengulurkannya, menerima uang pembayaran, lalu kembali diam menatap hujan. Wanita itu minum perlahan, matanya terus tertuju pada layar ponsel. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan atau membaca sesuatu. Kadang ia tersenyum tipis, kadang mengerutkan dahi seolah membaca berita yang membuat resah. Surya tidak tahu apakah ia sedang bekerja, mengobrol dengan keluarga, atau membaca laporan soal banjir yang mulai meluas ke berbagai penjuru kota.
Yang ia tahu, wanita itu duduk di sana selama dua puluh menit penuh. Hujan tidak juga berhenti, bahkan makin kencang. Air sudah naik sampai setinggi mata kaki di trotoar. Wanita itu akhirnya berdiri, membayar pesanannya, lalu berlari kecil melintasi jalan raya menuju halte. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke arah Surya.
“Pak, kios ini masih buka besok pagi?”
“Masih, Mbak. Selama saya bisa berdiri di sini.”
“Semoga airnya tidak naik sampai ke sini ya, Pak. Hati-hati.”
Surya hanya mengangguk. Ia tidak yakin dengan harapan itu. Tapi ia tidak mengatakannya. Kadang kejujuran harus ditahan sejenak, bukan karena ingin berbohong, tapi karena ada hal yang lebih penting daripada kebenaran itu sendiri: harapan.
Pukul enam sore, hujan makin menggila. Air di luar sudah setinggi betis orang dewasa. Surya mulai bergerak cepat mengamankan barang-barang dagangannya. Kompor minyak tanah ia letakkan di atas bangku kayu yang lebih tinggi. Toples-toples berisi rokok, gula, dan teh ia susun rapat di rak paling atas yang menjulang dari dinding. Kaleng minyak tanah ia dorong ke sudut paling belakang, tempat yang paling kering dan aman dari rembesan air.
Si Belang mengeong pelan, suara yang menyatakan ketidaknyamanan. Ia tidak suka air. Kucing itu segera melompat naik ke atas rak, duduk di samping tumpukan toples, matanya yang kuning besar menatap air yang mulai merembes masuk lewat celah lantai kios.
“Tenang saja, Bel,” bisik Surya sambil mengelus punggungnya sebentar. “Kita akan aman. Airnya belum sampai ke sini.”
Tapi dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin apakah ucapannya itu benar.
Pukul tujuh malam, listrik mulai berkedip-kedip. Lampu neon di atas kepala mati sebentar, nyala sebentar, lalu mati lagi, seolah mata seseorang yang sedang berjuang keras untuk tetap terbuka dan tidak terpejam karena lelah. Surya segera mengambil lentera itu dari tiang, menyalakan sumbunya, lalu meletakkannya kembali di tempat yang lebih aman di tengah meja.
Nyala apinya yang kuning dan kecil ternyata stabil, tidak terpengaruh oleh arus listrik kota yang sedang bermasalah.
Di luar kios, trotoar sudah berubah menjadi sungai kecil yang mengalir deras. Airnya keruh kecokelatan, membawa sampah plastik, daun-daun basah, ranting pohon, dan kadang benda-benda aneh yang tidak seharusnya mengapung di air: sandal jepit, payung yang patah, bahkan ponsel yang terjatuh dan menyala sebentar sebelum akhirnya mati selamanya tertelan air.
Surya menatap semua itu dari balik terpal yang tertiup angin. Ia tidak merasa takut. Ia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini selama bertahun-tahun. Lima belas tahun hidup di trotoar ini mengajarkannya satu hal: air selalu datang, dan air selalu pergi. Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi airnya, tapi apa yang kita lakukan selama air itu masih ada di sekitar kita.
Pukul delapan malam, Anjani datang.
-
3.2 — Kota Gelap, Satu-Satunya Nyala