BAB IV AIR MATA CILIWUNG
4.1 — Suara di Tengah Genangan
Pukul tiga pagi. Hujan tidak berhenti sejak kemarin sore. Ia turun bukan lagi seperti butiran air, melainkan seperti tirai tebal yang menutupi seluruh wajah Jakarta, menyamarkan gedung-gedung tinggi dan menyamarkan batas antara jalan, trotoar, dan sungai. Trotoar Jalan Thamrin sudah tidak lagi terlihat seperti tempat pejalan kaki. Ia berubah menjadi sungai dangkal yang mengalir lambat dari arah Bundaran HI menuju Kali Ciliwung, membawa serta segala sesuatu yang terlepas dari genggaman manusia: sampah plastik yang mengapung berputar-putar, daun-daun basah yang membusuk, puntung rokok yang sudah lembek, hingga benda-benda yang masih menyimpan cerita: sandal jepit yang solnya terlepas, payung patah yang kainnya robek mengikuti arah angin, dan ponsel bekas yang layarnya masih sempat menyala sebentar sebelum akhirnya mati selamanya tertelan lumpur.
Di sudut yang paling rendah, di antara dua tiang lampu jalan, berdiri sebuah kios kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Di situlah Surya duduk, bersila di atas bangku kayu yang kini sudah terendam air setinggi lutut. Dinginnya merambat naik perlahan ke tulang-tulang kakinya, menusuk hingga ke punggung, tapi ia tidak bergerak. Ia hanya diam, menatap lurus ke depan pada sebuah lentera tua yang tergantung di tiang kayu penyangga atap. Nyala apinya yang berwarna kuning keemasan masih terlihat stabil, meski minyak tanah di dalam wadahnya sudah tinggal sedikit saja. Cukup untuk bertahan satu malam lagi, pikirnya. Mungkin.
Di rak paling atas, jauh dari jangkauan air, Si Belang meringkuk rapat. Matanya yang berwarna kuning menyala memantulkan cahaya lentera, menatap air yang terus naik dengan tatapan yang sulit dibaca. Kucing itu tidak mengeong, tidak menggaruk-garuk dinding, tidak meminta perhatian. Ia hanya mengamati, seolah sedang menghitung berapa lama lagi sebelum air akan mencapai tempat persembunyiannya.
Surya tidak merasa takut. Ia sudah terbiasa dengan banjir. Lima belas tahun hidup dan tidur di atas trotoar ini telah mengajarkannya satu kebenaran sederhana: air selalu datang, dan air selalu pergi. Yang membedakan satu banjir dengan banjir lainnya bukanlah seberapa tinggi airnya, melainkan apa yang dilakukan seseorang di antara kedatangan dan kepergian air itu.
Namun malam ini terasa berbeda. Sangat berbeda.
Malam ini, air datang lebih cepat dari biasanya. Malam ini, dalam waktu kurang dari tiga jam, permukaannya sudah naik hingga setinggi dada orang dewasa. Malam ini, Surya mulai ragu apakah ia bisa menyelamatkan semua barang yang ia miliki. Lebih dari itu, ia mulai bertanya-tanya apakah ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri jika arus semakin deras.
Matanya kembali terpaku pada lentera tua itu. Nyala apinya menari perlahan mengikuti hembusan angin yang masuk melalui celah-celah atap yang bocor. Menatapnya, Surya teringat pada Pak Hadi, pemilik kios ini sebelum dirinya. Lima belas tahun yang lalu, tepat di malam yang sama gelap dan sama basahnya, air juga naik hingga setinggi dada. Malam itu, Pak Hadi tidak memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih memeluk lentera ini sekuat tenaga. Dan akhirnya, ia hanyut terbawa arus, lenyap tanpa jejak.
Surya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ia tidak ingin mati hanya demi sebuah benda. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin mengkhianati janji yang diucapkan dengan air mata.
Malam itu, di tengah dingin dan kegelapan, ia mengambil keputusan dalam hatinya: ia akan menyelamatkan lentera itu, tapi bukan dengan cara memeluknya erat-erat sampai mati. Ia akan melepaskannya. Membiarkannya hanyut mengikuti arus. Membiarkannya pergi. Karena ia sadar, lentera ini bukan sekadar besi dan kaca. Lentera ini adalah simbol dari sebuah janji. Dan janji tidak bisa tenggelam, tidak bisa hanyut, dan tidak akan pernah mati hanya karena wadahnya rusak.
Namun sebelum ia sempat menjangkau tali penggantung lentera, telinganya menangkap sebuah suara.
Suara itu sangat pelan, hampir tertelan oleh deru hujan dan gemericik air yang mengalir. Tapi Surya mendengarnya dengan jelas. Suara tangisan anak kecil.
Ia menoleh cepat ke arah pintu masuk kios. Di luar sana, di tengah genangan air yang sudah setinggi lutut orang dewasa, berdiri sebuah bayangan mungil. Seorang bocah laki-laki, usianya sekitar enam atau tujuh tahun. Kaos oblong putih dan celana pendeknya basah kuyup menempel rapat di tubuhnya. Ia tidak terlihat menggigil kedinginan, tidak juga berteriak minta tolong. Ia hanya berdiri diam di tengah arus yang perlahan makin kuat, menatap lurus ke dalam kios, menatap tepat ke arah lentera yang menyala.
Surya menggosok matanya kasar. Ia pikir ini hanya ilusi akibat kurang tidur, perut yang sudah keroncongan sejak siang, atau pikiran yang terlalu lelah memikirkan masa lalu. Namun saat ia membuka matanya kembali, bocah itu masih ada di tempat yang sama. Masih menatapnya. Masih menangis tanpa suara.
“Hei, Nak! Jangan diam di situ, bahaya! Sini, cepat ke atas!” teriak Surya sekuat tenaga agar suaranya terdengar di atas gemuruh hujan.
Namun bocah itu tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya tetap menatap, lalu perlahan mengangkat tangan kecilnya, menunjuk tepat ke arah lentera yang tergantung di tiang.
Jantung Surya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada. Ada sesuatu yang terasa sangat janggal pada sosok itu. Cara ia berdiri tanpa terhanyut arus, cara tatapannya yang dalam dan tenang, cara ia tidak menggigil meski terendam air sedingin es.
“Siapa kau? Bagaimana bisa sampai di sini?” tanya Surya lagi, kali ini suaranya bergetar.
Bocah itu tidak menjawab dengan suara yang keluar dari mulutnya. Namun Surya mendengar jawabannya dengan sangat jelas, bukan di telinga, melainkan langsung di dalam kepalanya. Seperti bisikan halus yang datang dari tempat yang sangat jauh, namun tidak bisa diabaikan.
“Paman... apinya mau mati.”
Surya memejamkan matanya rapat-rapat. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi buruk. Tapi saat ia membuka mata kembali, bocah itu masih berdiri di sana, menunjuk ke arah lentera, dan senyum tipis yang sedih terukir di bibirnya.
“Apa... apa yang kau inginkan dari saya?” tanya Surya hampir berbisik.
Bocah itu melangkah mendekat, dan setiap langkah kakinya tidak menimbulkan riak air sedikit pun. Ia berjalan di atas permukaan air yang keruh itu seolah sedang berjalan di atas lantai yang kokoh dan kering.
“Aku adalah yang belum sempat lahir, Paman. Aku adalah nyawa yang ditelan air sebelum sempat melihat lentera ini menyala terang.”
Surya terhuyung mundur, punggungnya membentur dinding kayu kios. Lututnya terasa lemas. Ia tahu siapa bocah ini, atau setidaknya ia tahu siapa yang ia wakili.
Pak Hadi pernah bercerita, tepat lima belas tahun yang lalu, semalam sebelum banjir besar terakhir yang merenggut nyawanya. Istrinya saat itu sedang mengandung anak pertama mereka. Mereka sudah merencanakan nama: jika laki-laki bernama Hadi, jika perempuan bernama Hana. Namun banjir datang lebih cepat dari harapan. Istrinya selamat dibawa ke tempat tinggi, namun janin di dalam kandungannya tidak tertolong. Beberapa tahun kemudian, wanita itu pergi meninggalkan kota ini, tidak pernah kembali lagi.
Surya tidak pernah tahu jenis kelamin atau nama yang akhirnya dipilih. Tapi malam ini, di tengah hujan dan kegelapan, bocah ini berdiri tepat di tempat ayahnya dulu berdiri, menatap lentera yang dulu menjadi alasan kematiannya.
“Pak Hadi menitipkan ini kepada Paman,” suara itu kembali terdengar lembut. “Tapi ia tidak menitipkan besi dan kacanya. Ia menitipkan kehangatannya. Jika Paman sendiri merasa kedinginan dan takut, bagaimana mungkin kehangatan itu bisa tetap menyala? Kenapa Paman lebih menyayangi benda mati daripada nyawa Paman sendiri?”
Pertanyaan itu menghantam hati Surya lebih keras daripada air yang menerpa dinding kios. Kenapa aku lebih menyayangi benda mati? Kenapa aku membiarkan diriku terjebak pada wujudnya saja?
Air kini sudah naik hingga setinggi pinggangnya. Waktu untuk memutuskan semakin sempit. Tetap bertahan menjaga lentera, atau melangkah keluar menyelamatkan sosok di depannya—entah itu nyata atau hanya bayangan pikirannya.
“Jagalah nyala itu, Paman. Bukan di tiang kayu, tapi di sini.”
Bocah itu menunjuk tepat ke dada Surya, di sebelah kiri tempat jantung berdetak.
Tiba-tiba sebuah truk besar melaju kencang di jalan raya, menyemburkan ombak air yang tinggi memercik ke arah trotoar. Surya langsung mengangkat lengannya melindungi wajah dari semprotan air yang keruh dan dingin itu.
Saat ia menurunkan lengannya dan membuka matanya kembali, bocah itu sudah lenyap. Hanya tersisa genangan air yang beriak perlahan, memantulkan cahaya lampu neon dari gedung perkantoran yang mulai menyala kembali karena listrik baru saja pulih.
Surya berdiri terpaku, napasnya terengah-engah. Ia menoleh ke segala arah, tapi tidak ada siapa pun selain dirinya, Si Belang yang masih diam di atas rak, dan lentera yang terus menyala tenang.
Ia berjalan kembali ke tempat duduknya, tubuhnya gemetar bukan lagi karena dingin, tapi karena kesadaran yang baru saja datang. Ia mengerti sekarang. Entah itu pertanda nyata atau hanya suara hati yang akhirnya berani bicara, pesannya sama: besok malam, Kali Ciliwung tidak akan menguji kesetiaannya pada sebuah benda. Ia akan menguji kesetiaannya pada makna di balik benda itu. Ia akan menguji apakah ia masih manusia yang bisa membedakan mana yang lebih berharga.
Surya mengangkat lentera itu dari tiangnya. Bingkai besinya terasa dingin dan kasar di telapak tangan, kacanya sudah retak menjalar seperti jaring pembuluh darah, dan minyaknya hampir habis. Namun nyala apinya tetap hidup, hangat, dan stabil.
“Pak Hadi,” bisiknya pelan pada benda itu, “sekarang saya mengerti. Bapak tidak menitipkan besi ini. Bapak menitipkan kehangatannya. Dan kehangatan itu tidak ada di dalam wadah ini, melainkan di sini.”
Ia menepuk dadanya sendiri perlahan.
Lentera itu kembali ia gantungkan pada tiang. Ia tidak tahu apakah esok hari akan ada nyawa yang perlu diselamatkan. Ia tidak tahu apakah ia akan cukup kuat menghadapi apa yang akan datang. Tapi satu hal yang pasti, ia sudah siap. Bukan lagi untuk mempertahankan benda mati, melainkan untuk mempertahankan makna yang dikandungnya.
Hujan terus turun semakin deras, air terus merayap naik menelan trotoar. Namun di sudut Thamrin yang basah dan gelap itu, ada satu nyala yang menolak padam. Bukan karena wadahnya kuat, melainkan karena pemiliknya akhirnya memilih untuk memahami maknanya.
Malam itu, Surya tidak tidur. Ia hanya duduk diam, menatap lentera, menunggu fajar dan segala tantangan yang akan dibawanya. Ia tidak punya jawaban atas segala pertanyaan hidup, tapi ia tahu satu hal penting: ia tidak sendirian. Karena keluarga bukanlah soal darah atau ikatan lahir. Keluarga adalah mereka yang tetap datang meski hujan lebat, yang membawa minyak meski tidak diminta, yang mendengarkan cerita meski sudah ratusan kali didengar.
Keluarga adalah mereka yang kita pilih untuk tetap setia.
Dan malam itu, di tengah dinginnya air Ciliwung, Surya memilih untuk setia bukan lagi pada wujudnya, melainkan pada jiwanya.
-
4.2 — Bara di Dada
Pukul empat pagi. Air sudah naik hingga setinggi dada.
Surya kini berdiri di atas rangka atap kios kayu yang sudah miring sekitar empat puluh derajat ke arah sungai. Besi dan kayu penyangga di bawah kakinya terasa bergetar hebat, seolah merintih menahan beban air yang terus menggerogoti fondasi tanahnya. Di sebelah kirinya, Anjani duduk memeluk lututnya rapat-rapat. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu menatap kosong ke arah air hitam yang mengalir deras. Ia datang satu jam yang lalu, berlari dari gang sempit tempat tinggalnya yang sudah tenggelam seluruhnya. Rambutnya yang panjang basah menempel di dahi dan pipinya seperti gulma yang lembap. Ia tidak banyak bicara, tidak mengeluh, hanya duduk di samping Surya seperti kebiasaan selama bertahun-tahun.
Si Belang sudah tidak terlihat sejak pukul dua dini hari. Mungkin ia melompat ke atap rumah tetangga yang lebih tinggi, atau mungkin memang sudah hanyut terbawa arus. Surya tidak tahu, dan kali ini ia tidak punya waktu untuk mencarinya.
Di tangan kanannya, lentera tua itu masih tergenggam erat. Tinggal setinggi dua ruas jari minyak yang tersisa. Kaca pelindungnya sudah retak parah, dan bingkai besinya terasa panas hingga membakar kulit telapak tangannya yang sudah melepuh, namun ia tidak berani melepaskannya. Melepaskan lentera itu rasanya sama saja dengan mengakui bahwa lima belas tahun pengabdiannya sia-sia, sama saja dengan mengubur ingatan terakhir tentang Pak Hadi.
Sekitar sepuluh meter di depan mereka, menempel pada pagar besi pembatas trotoar yang mulai miring, terlihat sosok mungil. Bukan bayangan gaib yang ia lihat tadi malam. Ini nyata, daging dan darah. Seorang anak laki-laki mengenakan kaos tidur berwarna biru muda yang kini menempel rapat di tubuhnya. Air sudah naik hingga setinggi tulang selangkanya. Bocah itu tidak berteriak meminta tolong, tidak menangis histeris. Ia hanya menatap ke arah Surya dengan mata hitam yang lebar dan tenang, seolah sudah menerima apa pun yang akan terjadi.
Surya menatap lentera di tangannya. Lima belas tahun janji. Lima belas tahun menjaga.