Nyala di Tengah Hujan

Umar alattas
Chapter #7

BAB V SUMBU BARU

BAB V SUMBU BARU


5.1 — Fajar Abu-Abu

Fajar datang dengan warna abu-abu yang menyakitkan. Bukan abu-abu lembut yang terlihat dalam lukisan, melainkan abu-abu yang keras, pucat, dan menusuk pandangan — seolah langit pun masih lelah setelah menangis semalaman. Warna itu mengingatkan bahwa kegelapan telah berakhir, dan kini realita yang sesungguhnya perlahan mulai terungkap, telanjang dan tanpa penyangga apa pun.

Hujan berhenti tiba-tiba, menyisakan keheningan yang terasa asing dan berat. Tidak ada suara klakson kendaraan yang biasanya memecah pagi. Tidak ada deru mesin motor atau teriakan pedagang yang memulai hari. Yang terdengar hanyalah suara tetesan air yang jatuh perlahan dari sisa atap, dari dinding yang basah, dari ranting pohon yang terkulai: tik... tik... tik.... Irama yang lambat, teratur, persis seperti detak jantung yang baru saja belajar berdenyut kembali setelah lama terhenti.

Surya terbangun karena rasa kaku yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Setiap sendi terasa tertarik, setiap otot terasa nyeri. Punggungnya terasa pegal luar biasa karena semalaman tidur di atas tumpukan karung pasir yang tidak rata dan basah. Bahu kanannya terasa panas dan ngilu, bekas terbawa arus air yang deras semalam. Telapak tangannya melepuh kemerahan, bekas memegang bingkai lentera yang terasa makin panas saat terendam air. Namun, di tengah segala rasa sakit itu, satu hal yang paling ia syukuri tetap ada: ia masih bernapas. Ia masih hidup.

Ia membuka matanya perlahan. Langit berwarna abu-abu pucat membentang di atas kepalanya, tanpa celah untuk matahari menyelinap masuk. Hanya cahaya redup yang merembes perlahan melalui lapisan awan yang tebal. Ia mencoba duduk, menggerakkan tubuhnya yang terasa berat, dan melihat sekeliling. Di pangkuannya, Hadi masih terlelap dalam tidur yang dalam.

Napasnya teratur dan terasa hangat, warna bibirnya yang sempat membiru kini sudah kembali berwarna merah muda yang sehat. Kain tebal yang tadi malam ia gunakan untuk membungkus bara dan menghangatkan dada bocah itu kini hanya tinggal selembar kain basah yang dingin — baranya sudah lama padam, tapi tugasnya sudah selesai.

Surya menatap wajah kecil itu dalam-dalam. Wajah yang tenang, tanpa beban, tanpa rasa takut. Rambutnya yang basah menempel di dahi, dan tangannya masih menggenggam erat ujung lengan baju Surya, seolah-olah dalam tidurnya ia pun takut jika melepaskan, Surya akan lenyap terbawa arus air.

"Sur..."

Suara lembut itu datang dari atas. Surya mendongak dan melihat Anjani berdiri di atas sisa rangka atap kios yang miring dan hampir roboh. Rambutnya kusut tak tersisir, wajahnya pucat pasi, dan matanya terlihat cekung karena hampir tidak tidur semalaman. Di lengannya, Si Belang meringkuk tenang, kakinya yang diperban masih terangkat sedikit agar tidak terkena air. Kucing itu tidak menghilang seperti yang dikira Surya; ia hanya tahu tempat yang lebih tinggi untuk bertahan sampai air surut.

"Kau hidup," bisik Anjani, suaranya terdengar lega dan bergetar. Ia turun perlahan dari atas atap, kakinya menyentuh air yang kini sudah mulai surut dan hanya setinggi mata kaki, lalu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.

Surya hanya mengangguk pelan. Ia memutar kepalanya, menatap ke arah tempat ia berdiri selama lima belas tahun terakhir.

Kiosnya sudah tidak ada lagi. Atap seng yang dulu melindunginya dari hujan dan panas kini terlepas separuh, tergeletak terbalik di atas genangan air seperti bangkai hewan yang sudah lama mati dan membusuk. Meja kayu tempat ia menyeduh kopi setiap hari terbalik, salah satu kakinya patah dan terlepas. Toples-toples berisi rokok dan gula yang tersusun rapi di atas rak kini pecah berantakan, isinya hanyut entah ke mana terbawa arus. Kompor minyak tanah andalannya terendam lumpur di dasar genangan.

Dan di tengah-tengah semuanya, berdiri satu-satunya benda yang masih tegak: tiang besi tempat lentera tua itu digantung. Namun, tiang itu kini kosong.

Surya menatap tiang kosong itu lama. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Hanya ada kekosongan yang terasa tenang, seolah ia sedang berdiri di dalam rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya, tapi masih bisa melihat jejak langkah yang tertinggal di atas debu lantai.

"Sudah hilang," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Anjani duduk perlahan di sampingnya, menyandarkan tubuhnya yang lelah. Ia menatap tiang kosong itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hadi yang masih terlelap di pangkuan Surya. "Tapi dia tidak hilang."

Surya menunduk kembali, menatap bocah itu, lalu mengelus rambutnya yang masih basah dengan jari yang lembut. "Tidak, Nji. Dia tidak hilang."

Mereka berdua duduk dalam keheningan yang panjang. Menatap air yang perlahan menyusut meninggalkan jejak lumpur, menatap puing-puing yang tersebar di mana-mana, menatap tiang besi yang berdiri kokoh meski kosong melompong.

Pukul tujuh pagi, suara mesin perahu mulai terdengar dari kejauhan. Tim penyelamat datang dengan perahu karet berwarna oranye yang mencolok, menyusuri jalanan yang masih tergenang air. Saat mereka melihat tumpukan karung pasir itu, salah satu petugas segera melambaikan tangan.

"Bapak! Ada anak di situ? Apakah aman?" teriaknya keras agar terdengar di tengah angin pagi.

Surya mengangkat satu tangan sebagai tanda aman. "Aman. Tapi anak ini butuh perawatan."

Petugas itu melompat turun dengan hati-hati ke atas tumpukan karung, lalu memeriksa dahi dan nadi Hadi dengan gerakan cepat dan terlatih. "Ia masih demam ringan. Perlu dipindahkan ke posko untuk istirahat dan minum obat."

Surya mengangguk setuju. Ia mengangkat tubuh kecil Hadi dengan kedua tangannya, lalu menyerahkannya ke dalam gendongan petugas. Namun begitu tubuhnya terangkat, tangan kecil Hadi segera meraba-raba ke samping, mencari pegangan yang dikenalnya. Ia menemukan lengan Surya, lalu menggenggamnya erat seolah takut terpisah.

"Paman..." bisiknya dengan suara yang masih mengantuk.

"Iya, Nak. Paman di sini."

"Paman ikut juga, ya?"

Surya menatap wajah polos itu. Ia ingin sekali menjawab "iya", ingin ikut masuk ke perahu dan memastikan Hadi benar-benar aman. Tapi pikirannya langsung melayang ke puing-puing yang ada di sekelilingnya. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia jaga, meski ia belum tahu apa itu sebenarnya.

"Paman harus menjaga sesuatu di sini dulu, Nak," jawabnya pelan, berusaha meyakinkan. "Tapi Paman janji, nanti Paman akan menyusul dan mencarimu."

Hadi menatap matanya dalam-dalam, mencoba membaca apakah ucapan itu benar. Setelah beberapa detik, ia perlahan mengangguk. "Janji ya, Paman?"

"Janji."

Petugas itu membawa Hadi naik ke perahu. Sebelum perahu itu melaju pergi, Hadi menoleh lagi, suaranya terdengar lantang dan jelas melewati suara mesin: "Paman! Nama saya benar-benar Hadi! Ibu saya selalu bilang nama saya Hadi!"

Surya tertegun kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia berenang melawan arus semalam.

Perahu itu melaju menjauh, lampu merah di bagian belakangnya berkedip-kedip makin lama makin kecil, sampai akhirnya menghilang di balik kabut tipis sisa hujan.

Surya duduk kembali sendirian di atas karung pasir. Matanya terasa kering, tapi dadanya terasa sesak seolah dihimpit sesuatu yang berat.

Hadi. Namanya benar-benar Hadi.

Bukan kebetulan. Bukan ilusi karena lelah dan takut. Bukan sekadar mimpi yang muncul saat tubuhnya terasa dingin.

Pak Hadi masih ada. Ia tidak pergi selamanya. Ia hanya berubah wujud. Berubah menjadi janji yang baru, berubah menjadi bocah kecil yang kini ia selamatkan dari kematian.

Suara percikan air membawanya kembali ke kenyataan. Anjani berenang mendekat dari arah gang sempit di belakang, satu lengannya bergerak membelah air, sementara tangan lainnya memegang erat sebuah benda yang terbungkus kain. Saat ia tiba di tempat kering, Surya melihat apa yang ia bawa: sebuah kaleng bekas cat yang sudah berkarat, tapi tubuhnya masih utuh tanpa lubang.

"Dari mana dapat ini?" tanya Surya, suaranya terasa serak dan kering.

"Dari rumah saya. Semua barang di dalamnya hanyut atau rusak, tapi kaleng ini tersangkut di tiang kayu. Saya ambil saja, siapa tahu..." Anjani duduk sambil mengatur napas yang terengah-engah. "Saya pikir, mungkin kau butuh sesuatu yang bisa menampung lagi."

Surya mengambil kaleng itu dengan kedua tangannya. Permukaannya dingin, kasar karena karat, tapi terasa kokoh di genggamannya.

"Nji," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena datang. Karena membawa ini. Karena tetap ada, meski semuanya terasa hilang."

Anjani tersenyum tipis, senyum yang mengandung banyak makna. "Sama-sama, Sur. Kau juga sudah menjadi keluarga bagi saya selama ini."

Pukul sembilan pagi, air sudah surut hingga setinggi lutut orang dewasa. Surya dan Anjani turun dari tumpukan karung, berjalan menyusuri lumpur untuk mulai membersihkan sisa-sisa yang masih bisa diselamatkan. Mereka mengumpulkan beberapa toples yang tidak pecah, bagian meja kayu yang masih kuat, dan kompor minyak tanah yang hanya tertutup lumpur tapi tidak rusak.

Tidak lama kemudian, Mang Ujang datang mengenakan rompi oranye yang sudah basah kuyup, wajahnya terlihat lelah setelah bekerja seharian membantu warga. Ia berhenti tepat di depan tiang besi yang kosong itu, menatap sekeliling dengan pandangan sedih.

"Kios Bapak..." katanya pelan, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Sudah tidak ada lagi, Mang," potong Surya tenang.

Mang Ujang mengangkat wajahnya, menatap tiang besi itu. "Ini... tiang tempat lentera Bapak digantung, bukan?"

Surya mengangguk.

"Selama ini saya sering bertanya-tanya, kenapa Bapak begitu keras mempertahankan benda tua itu, seolah itu harta yang tak ternilai," lanjut Mang Ujang sambil menggeleng pelan. "Tapi semalam, saat air naik dan listrik mati total, saya lihat cahayanya menyala dari kejauhan. Bang Rojak juga melihatnya. Katanya, cahaya itu yang membuat dia tahu ada tempat yang masih aman. Dan Bapak akhirnya melepaskannya demi menyelamatkan anak itu."

Surya menunduk, memandang lumpur di bawah kakinya. "Pak Hadi pernah bilang, jagalah nyala ini sebagai bukti kesetiaan pada mereka yang kecil. Tapi saya salah paham selama lima belas tahun. Saya kira yang harus dijaga adalah benda itu sendiri — besinya, kacanya, rangkanya."

Ia mengangkat kepalanya, menatap mata Mang Ujang. "Ternyata yang ia maksud bukan wadahnya, Mang. Tapi apinya. Api yang membuat kita berani melawan arus air, api yang membuat kita peduli pada orang yang bahkan tidak kita kenal."

Mang Ujang mengangguk perlahan, seolah baru menyadari sesuatu yang besar. "Kalau begitu, Bapak tidak kehilangan apa-apa. Bapak hanya memindahkan tempat nyalanya."

Surya hanya diam, membiarkan kata-kata itu meresap masuk ke dalam hatinya.

Pukul sebelas siang, Bang Rojak datang berjalan tertatih-tatih, tongkat kayunya mengetuk-ngetuk permukaan aspal yang basah dan licin. Punggungnya terlihat lebih membungkuk dari biasanya, tapi langkah kakinya tetap mantap menuju tempat itu. Ia berhenti tepat di depan Surya, lalu memandang sekeliling tanpa banyak bicara.

"Sur..." panggilnya lembut.

"Bang Rojak... kios saya sudah tidak ada lagi," jawab Surya lebih dulu.

"Saya tahu itu. Tapi kau masih ada, dan itu yang paling penting." Bang Rojak duduk di atas balok kayu yang masih tersisa, lalu menatap tiang besi yang kosong itu dalam-dalam. "Tahu tidak, semalam saat seluruh kota tergelap, saya melihat cahaya itu dari jendela kamar saya. Saya pikir itu hanya bayangan atau halusinasi mata yang lelah. Tapi ternyata benar. Kau tetap menyalakannya, meski hujan deras dan air makin tinggi."

Surya menelan ludah, merasakan tenggorokannya terasa kering kembali.

"Kau tidak kehilangan apa-apa, Sur," lanjut Bang Rojak dengan nada yang lebih tegas, namun tetap lembut. "Kau hanya memindahkan nyalanya. Dari besi ke daging, dari kaca ke kulit, dari tiang ke dalam dada. Dan di sanalah tempat yang paling aman untuk nyala itu tetap hidup."

Kata-kata itu sama persis dengan yang diucapkan Mang Ujang. Namun dari mulut Bang Rojak, kata-kata itu terasa lebih berat, lebih nyata, dan lebih sulit untuk dibantah.

"Bang..." panggil Surya setelah beberapa saat hening.

Lihat selengkapnya