EPILOG
Nyala yang Pindah
Dua puluh tahun kemudian, hujan masih turun di Jakarta.
Tapi Jakarta sudah berubah. Trotoar Thamrin yang dulu retak dan berlubang kini mulus, dilapisi beton polimer yang menyerap air hujan dalam hitungan detik. Tidak ada lagi genangan. Tidak ada lagi bau got yang naik ke permukaan. Tidak ada lagi kios-kios liar yang beratap seng berkarat.
Gedung-gedung kaca di Sudirman dan SCBD masih berdiri, tapi sekarang mereka lebih tinggi, lebih angkuh, lebih efisien. Di dalam sana, orang-orang masih membicarakan angka-angka yang tidak akan pernah tersentuh oleh lumpur. Tapi sekarang, ada satu perbedaan: beberapa dari mereka memakai pin dengan ukiran nyala kecil di dadanya. Pin itu adalah simbol komunitas relawan bencana yang didirikan oleh seorang pria tua yang dulu menjaga lentera di sudut trotoar.
Pria itu sudah tiada.
Surya meninggal tiga tahun yang lalu, di usia 68 tahun, di kamar kecil di belakang posko relawan yang ia dirikan bersama Anjani, Bang Rojak, dan Bimo. Ia meninggal dengan tenang, dikelilingi oleh orang-orang yang ia pilih untuk setia, dan yang memilih untuk setia padanya. Tidak ada keluarga darah yang datang. Tidak ada yang menangisi warisan. Yang ada hanya nyala kecil yang ia titipkan kepada mereka semua.
Anjani masih hidup. Ia sekarang berusia 70 tahun, rambutnya sudah putih seluruhnya, tapi matanya masih tajam. Setiap pagi, ia datang ke posko, membuat kopi untuk para relawan, dan bercerita tentang Darto—suaminya yang hilang di Ciliwung dua puluh tahun lalu. Ia tidak lagi menunggu Darto pulang. Ia sudah mengerti bahwa kesetiaan bukan tentang menunggu. Kesetiaan adalah tentang melanjutkan.
Bang Rojak juga sudah tiada, meninggal lima tahun yang lalu di apartemen kecilnya di Menteng. Tapi sebelum ia pergi, ia menulis buku. Judulnya Trotoar dan Kesetiaan: Sejarah Kecil Jakarta yang Dilupakan. Buku itu tidak laku keras. Tapi di kalangan aktivis kota dan sejarawan alternatif, buku itu dianggap sebagai manifesto. Di halaman terakhir, Bang Rojak menulis: “Keluarga bukan hanya darah. Keluarga adalah mereka yang kita pilih untuk setia. Dan kesetiaan itu bukan tentang tidak pernah pergi. Kesetiaan adalah tentang tetap ada, meski dalam bentuk yang berbeda.”
Bimo sekarang berusia 42 tahun. Ia masih bekerja di bidang properti, tapi bukan sebagai manajer yang mengusur kios-kios liar. Ia sekarang memimpin divisi “ruang publik inklusif” di perusahaannya. Ia yang mendesain trotoar Thamrin yang baru—trotoar yang tidak hanya efisien, tapi juga manusiawi. Di sudut trotoar, di antara dua pohon beringin yang ia pertahankan dari rencana penggusuran, ada sebuah tiang besi pendek. Berkarat. Tidak fungsional. Tapi sengaja dipertahankan.
Di pangkal tiang itu, ada ukiran yang hampir tertutup lumut:
“Nyala boleh mati. Tapi pengakuan kesetiaan abadi seperti hujan Thamrin.”
Setiap tahun, pada tanggal yang sama dengan banjir besar dua puluh tahun lalu, Bimo datang ke tiang itu. Ia membawa korek api logam. Ia menyalakan korek api itu, mendekatkan apinya ke tiang besi yang dingin, dan berdiri di sana selama satu menit. Tidak ada yang tahu kenapa ia melakukan itu. Tidak ada yang tahu tentang Surya, tentang Pak Hadi, tentang lentera tua yang pernah tergantung di tiang itu.
Tapi Bimo tahu. Dan itu sudah cukup.
Dan di suatu tempat, di posko relawan yang sekarang sudah menjadi komunitas bencana terbesar di Jakarta, ada seorang pemuda berusia 26 tahun yang sedang mengkoordinir distribusi logistik untuk korban banjir di Ciliwung.
Namanya Hadi.