Suasana riuh kelas mendadak hening saat seorang gadis berseragam kusut dan rambut acak-acakan tertawa terbahak-bahak. Sebelumnya, penghuni kelas mengenalnya sebagai Nara, tetapi kini mereka menyebutnya Nara si gadis gila.
Nara menyeka air mata yang muncul di sudut matanya. Anehnya, semakin dia mencoba berhenti, semakin keras tawanya pecah. Sesekali dia memegangi perutnya yang terasa sakit.
Setelah beberapa detik berlalu, tawa Nara akhirnya mereda. Keheningan yang tersisa justru terasa lebih mengintimidasi. Sementara matanya mengunci Lili seolah sedang mengincar mangsa, Nara melangkah perlahan ke arah gadis itu.
“Jadi, barusan lo nuduh gue nyuri uang lo?” Nara mendorong bahu Lili. Membuatnya meringis.
“Bukan nuduh, ya. Kita semua tau kalau lo sering ambil uang anak kelas diem-diem,” balas Lili nyolot.
“Udahlah. Selesaikan di ruang guru aja. Jangan bikin kelas nggak nyaman.” Kala, sang ketua kelas menengahi perdebatan dua temannya kemudian beranjak dari kursi.
Nara mengepalkan tangan. Emosinya seketika meluap dan langsung mendorong tubuh Lili menghantam meja hingga terdengar bunyi keras. Kursi-kursi bergeser, beberapa siswa menjerit, sementara yang lain refleks mundur menjauh dari Nara.
“Gila lo, Ra!” Mereka berebut menolong Lili yang mulai menangis. Sedangkan para siswa laki-laki menahan tubuh Nara yang seperti orang kesetanan.
“Lepasin gue!” Nara terus meronta.
“Kalau lo nggak salah, kalem aja sih, Ra,” sahut Tama yang tangannya kini mencengkeram kuat bahu Nara.
“Gimana gue bisa kalem kalau fitnah lo semua bikin gue harus berurusan sama guru? Lo mau tanggung jawab kalau orang tua gue dipanggil? Sialan!”
Nara gemetaran. Membayangkan pukulan keras Ayah membuatnya panik bukan main. Laki-laki bajingan itu menyiksa Nara semalaman hanya karena kalah berjudi. Nara tak bisa membayangkan jika sampai guru memanggil sampah tidak berguna itu ke sekolah dan semakin mempermalukannya.
Kedua tangan Nara bergetar hebat. Kala meraihnya dan melepaskan cengkraman tangan Tama di bahu Nara.
“Biar gue yang bawa Nara. Tolong anter Lili ke UKS, Din.” Kala menatap Dinda yang sedang mengusap punggung Lili. Dinda mengangguk. Beberapa teman lain terlihat mengikuti mereka ke UKS.
“Sialan!” Begitu keluar kelas, Nara langsung melepaskan diri dari Kala. “Gue nggak butuh perhatian palsu lo,” hardiknya.
“Mau sampe kapan lo begini terus, Ra? Kita udah kelas 2 SMA. Bentar lagi kelas 3 terus lulus. Lo mau dikeluarin dari sekolah?” Kala menatap Nara dengan tajam.
“Peduli apa lo sama hidup gue?” tukas Nara sengit.
Kala meringis menahan tawa sambil mengibaskan tangannya.
“Nggak usah salah paham, Ra. Jujur gue nggak peduli. Tapi minimal jangan bikin kelas nggak nyamanlah. Gue udah sibuk belajar. Masa harus ngurusin lo juga, sih?”
Nara mendengus kesal sambil membalikkan badan. Dia berjalan cepat keluar dari lorong kelas, melewati lapangan hingga keluar dari gerbang belakang gedung sekolah. Tubuh Nara merosot. Dia berjongkok sambil bersandar ke tembok dan memeluk lututnya erat. Tangisnya mulai pecah.
“Sialan. Semuanya sialan!”