“LEPASIN AKU!” Ayah menjambak rambut Nara. Menyeretnya keluar dari kamar. Samar terdengar bunyi pisau beradu dengan talenan dari dapur. Ibu tetap mengiris sayuran dengan gerakan yang sama, seolah jeritan Nara tak pernah mencapai telinganya. Selain perih di kepala Nara, dadanya mendadak terasa panas dan nyeri.
“Siapa yang ngajarin lo ngunci pintu kamar? Kalau masih hidup sama orang tua jangan belagu! Bisa makan bisa sekolah bukannya bersyukur. Malah jadi anak pembangkang!” Dua tamparan keras mendarat di pipi Nara. Bibirnya pecah. Darah segar mulai menetes dan mengalir ke dagu. Tubuhnya kehilangan tenaga. Meski begitu, tangan kecilnya masih berusaha melepaskan cengkeraman Ayah di rambutnya. Kakinya terus meronta, menolak menyerah.
“Anak sialan! Gara-gara lo, lagi-lagi gue rugi jutaan. Lo tuh pembawa sial.”
“Makanya jangan judi, sialan!” Nara menatap lurus ke arah Ayahnya dengan sorot mata penuh kebencian.
“Nggak usah sok ngajarin gue!” Satu ayunan tangan Ayah membuat tubuh lunglai Nara menghantam tembok.
Nara meringkuk menahan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak berhenti di sana, Ayah kembali menendang perut dan menginjak kaki Nara. Alih-alih menangis, Nara malah tertawa keras. Bau amis yang menusuk hidung, membuat tawanya semakin liar. Seolah kewarasannya runtuh sedikit demi sedikit.
“Ngetawain apa lo, anjing?!” bentak Ayah disertai satu tamparan lagi di pipinya.
“Lagi ngebayangin Ayah sama Ibu masuk neraka. Tuhan cabik-cabik tubuh kalian, dibakar, mati, dihidupkan lagi, mati lagi.”
Mata Ayah seketika membelalak tajam. Bau alkohol yang menyengat menguar dari tubuhnya. Pukulan demi pukulan kembali menghantam tubuh Nara hingga kesadarannya perlahan memudar. Bagi Nara, hanya satu hal yang terlintas, kematian akan lebih baik daripada hidup di rumah neraka ini.
***
Wajah pucat Nara tak mampu menarik perhatian guru yang sedang menceramahinya panjang lebar. Buliran keringat dingin mulai memenuhi dahinya. Nara menekan tangannya kuat. Menahan sakit dan mual karena demam yang sejak semalam dia rasakan.
Ayah memukulnya sampai pingsan. Begitu membuka mata, Nara merasakan sakit dan kekakuan di sekujur tubuh. Meski suhu tubuhnya naik, tapi dia merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dengan sisa tenaga, susah payah dia menyeret langkahnya dari ruang tengah ke kamar yang pintunya sudah rusak karena didobrak oleh Ayah.
Nara mengeluarkan kotak P3K kecil yang sengaja diambil dari UKS tanpa sepengetahuan pengurus. Dia mengoleskan sedikit demi sedikit betadin ke bibirnya menggunakan kapas. Rasa nyeri dan perih membuat Nara mencengkeram kuat seprei agar tidak berteriak. Beberapa luka di pelipis dan tangannya juga tak luput dia obati sekadarnya.
Setelah meminum obat pereda nyeri, Nara membungkus tubuh kecilnya menggunakan selimut dan kembali memejamkan mata sambil mendoakan kedua orang tuanya masuk neraka.