Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #3

Tempat Pelarian

Devan duduk di hadapan Nara yang kini terbaring lemas di UKS. Tubuhnya masih membeku setelah Nara menunjukkan semua luka yang dia dapatkan semalam. Matanya bergerak pelan, menyapu wajah pucat itu. Lalu turun ke pipi yang lebam dan lengan yang penuh memar.

“Ra.” Suara Devan keluar lebih pelan dari biasanya. Sedangkan tangannya terangkat ragu.

“Gue nggak apa-apa, Dev.”

Devan meraih selimut kemudian menutupi tubuh Nara sambil merapikan posisinya. Seolah ingin memastikan Nara merasa nyaman. Laki-laki itu meraih jemari Nara dan menggenggamnya erat.

“Maafin gue, Ra. Padahal gue udah janji buat melindungi lo apapun yang terjadi. Tapi nyatanya semua usaha gue nggak pernah cukup.”

Nara menggigit bibirnya. Tak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan sekolah tanpa Devan.

“Soal uang Lili, gue percaya sama lo.”

“Tuduhan dia nggak salah kok.” Nara memalingkan wajah. Tak sanggup menatap pacarnya.

“Maksud lo, Ra?”

Devan terdiam sesaat. Dia menatap Nara lekat, seperti sedang menimbang sesuatu.

“Lo ngomong gitu karena mereka maksa lo, kan, Ra?” Nada bicara Devan semakin pelan. Nara masih diam saja.

“Ra, gue udah bilang kalau gue percaya sama lo. Itu artinya, apapun yang lo lakuin, gue bisa ngerti.”

Air mata Nara mulai menetes. Sesaat dia masih diam, seolah menahan sesuatu. Hingga akhirnya tangisnya meledak.

“Gue mau mati aja, Dev. Rasanya gue lebih baik mati.” Devan menghela napas pelan sambil mengusap pipi Nara lembut. “Semuanya sialan. Gue benci banget sama mereka.”

“Lo masih punya gue, Ra. Lo nggak butuh orang lain.” Meski raut Devan terlihat tenang, namun genggaman tangannya yang semakin erat mulai menyakiti Nara.

Nara menarik tangan dan menutup wajahnya. Bahunya bergetar.

“Gue mau mati aja, Dev,” lirihnya.

Devan menghela napas dalam. “Gue harap, gue bisa jadi satu-satunya alasan lo tetap hidup, Ra.”

Entah bagaimana raut Devan saat mengucapkan hal itu. Namun tak ada lagi jawaban dari Nara. Hanya isak tangisnya memenuhi ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua. Devan juga tak lagi berkata-kata. Seolah hanya membiarkan Nara mengeluarkan semua emosinya. Sesekali tangannya menepuk-nepuk bahu Nara pelan, tanpa tergesa.

Nyeri di tubuh Nara terasa berkurang. Entah karena efek dari obat pereda nyeri yang diminumnya atau karena tepukan lembut yang dia terima dari Devan.


***

Kala menghampiri meja Nara saat dia sedang sibuk merapikan kotak pensil.

Lihat selengkapnya