Ayah yang hanya bekerja sebagai kurir cabutan ekspedisi namun sudah hampir seminggu tak pulang, pasti sedang sibuk berjudi di luar sana. Oleh sebab itu, Nara pikir dia masih bisa bernapas sedikit lebih lega hingga beberapa hari ke depan.
Namun ternyata dia keliru.
Begitu bel istirahat pertama usai, Cella sudah menghadangnya di depan kelas. Gadis itu mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Nara.
"Lo udah nggak bisa ngelak lagi. Sekarang gue punya rekaman video lo nyuri uang Sabrina."
"Gue udah pernah bilang jangan usik gue, sialan!" Nara balas menatapnya tajam.
"Emang lo siapa sampai gue harus nurut?" Cella mencengkeram pergelangan tangan Nara dan mendorongnya hingga punggung gadis itu membentur tembok. Bahu Nara menegang. Dia langsung mengangkat tangan dan merunduk melindungi kepalanya.
Napasnya memburu. Telapak tangannya dingin, sementara dengung tipis mulai memenuhi telinganya. Pandangan Nara mengabur sesaat. Tembok di belakang punggungnya terasa berubah menjadi tembok rumah yang begitu dikenalnya.
Beberapa siswa yang melintas melambatkan langkah.
"Dia kenapa, sih? Kok nutupin kepala?"
"Gue juga nggak ngerti…."
Bisik-bisik itu saling bersahutan.
Nara berkedip beberapa kali. Denging di telinganya perlahan memudar, berganti suara orang-orang yang memperhatikan. Napasnya mulai teratur. Pelan-pelan dia menurunkan kedua tangan dari atas kepala.
Cella melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal sejengkal.
"Segitu miskinnya lo? Sampai duit teman sendiri juga lo embat?"
“Minggir lo, sialan! Kepala gue sakit dengerin omong kosong lo!” Nara menepis tubuh Cella dan berjalan tertatih menuju bangkunya.
“Let’s see, kalau video ini sampai ke tangan Bu Widya, lo udah nggak akan bisa menghindar lagi. Dasar pencuri!”
***
Suara gesper yang bergesekan membuat jemari Nara berhenti bergerak. Derap kaki seseorang yang menghentak lantai membuat napas Nara tercekat. Dia bersembunyi dalam lemari sambil menyelubungi tubuhnya dengan selimut.
Suara tendangan keras di pintu kamarnya membuat Nara sontak membekap mulut dan menahan napas. Air matanya mengalir begitu saja.
“Anak setan. Anak anjing! Bikin malu aja lo, sialan! Gue mampusin lo!”
Melalui celah lemari, Nara melihat Ayah semakin mendekat. Napas Nara tercekat. Untuk pertama kalinya, dia berharap bisa terjebak dalam lemari selamanya. Namun, harapan memang selalu saja mengkhianatinya.
Pintu lemari terbuka. Tatapan mata Ayah yang penuh kegilaan membuat seluruh sel dalam tubuhnya menyalakan alarm bahaya. Nara gemetar hebat. Tangan besar Ayah menggapai lengan Nara. Dalam sekali tarikan, tubuh Nara terlempar hingga membentur dipan kasur.
“Siapa yang ngajarin lo jadi pencuri?” Satu cambukan gesper mengenai punggung Nara. Balutan selimut tak mampu meredam perihnya.
“Sakit!” desis Nara. Meski air mata mengalir deras membanjiri pipi Nara, tetapi tak ada lagi kata ampun yang keluar dari mulutnya.
Dua, tiga, lima, sepuluh cambukan menerjang tubuhnya. Pada cambukan berikutnya, suara Nara lenyap. Yang tersisa hanya mulut yang terbuka tanpa bunyi.
“Sialan! Mati aja lo semua,” gumam Nara. Hampir tak terdengar.
Kini cambukan itu berubah menjadi tendangan keras yang menghantam perutnya.
***
Sejak pagi ponsel Nara tak berhenti bergetar. Namun dia masih kesulitan menggerakkan tangan. Nara tak bisa melakukan apapun selain meringkuk di pojok walaupun bau amis darah menyengat memenuhi kamar. Bahkan saat menggerakkan bahu, Nara merasa seperti disayat.
“Biarin jangan diobati. Biar mampus sekalian.” Teriakan Ayah terdengar sampai ke kamar. “Malu-maluin banget gue jadi harus repot datang ke sekolahnya. Padahal hari ini lagi banyak paket yang harus dianter.”
Nara menekan dadanya kuat hingga menggigit bibir agar isak tangisnya tak keluar.