Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #5

Pahlawan Kesiangan

Bagi Nara, sinar matahari yang sedikit menyengat dan semilir angin lembut yang menggerakkan poni, tercium seperti aroma kebebasan. Dia duduk tenang di bangku taman belakang sekolah sambil sedikit menengadahkan kepala untuk menatap langit. Dia memejamkan mata sambil menghirup udara perlahan untuk memenuhi paru-parunya.

Sayang sekali Nara harus mengenakan cardigan dan celana panjang di balik roknya, demi menutupi luka cambukan. Hingga semilir angin tak cukup untuk menyejukkan tubuhnya.

“Ketemu!” Devan menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Nara. Membuatnya langsung membuka mata kemudian menyipitkannya.

“Siapa, ya?” ledek Nara, menahan senyum.

“Pacar lo. Emang siapa lagi?” Devan duduk di sampingnya. Dia membuka tutup minuman kaleng itu kemudian menyerahkannya kepada Nara.

“Tiga hari ini ke mana?” tanya Devan.

“Di rumah aja.”

“Harusnya lo ngabarin, Ra. Lo nggak tau, kan gimana kalutnya gue?”

“Sori, ya, Dev. Gue udah bikin lo khawatir.” Nara kembali menunduk. Dia tahu betapa egois sikapnya pada Devan yang selama ini selalu setia menemaninya. Tangan laki-laki itu terangkat. Nara refleks menghindar. Dia bahkan ikut terkejut dengan sikapnya.

“Dev, so—sori. Gue….” Nara tergagap. Dia tak ingin Devan salah paham.

“Ra, gue boleh usap kepala lo?” tanya Devan pelan. Nada bicaranya berubah lebih lembut dari sebelumnya. Nara mengangguk kecil. Laki-laki itu mengusap kepala Nara. Setiap gerakannya terasa sangat hati-hati. Seolah satu gerakan yang salah bisa langsung menghancurkan Nara.

“Ra, lo punya gue. Lo tau kalau gue selalu ada buat lo, kan?”

Nara meremas minuman kaleng di tangannya kemudian mengangguk ragu.

Btw, apa tema konsep berpakaian hari ini?” Devan menatap Nara dari atas sampai bawah. Pipinya menggembung, menahan tawa. Nara menepis tangan Devan dari kepalanya.

“Nggak usah nahan ketawa, deh!” serbu Nara. Tawa Devan semakin pecah.

“Senyum lo cantik, Ra.” Ucapan Devan refleks membuat Nara memegang ujung bibirnya.

“Emang gue senyum, ya?” batin Nara.


***

Bu Widya kembali memanggil Nara ke ruang BK. Sejujurnya, Nara sudah tak memusingkan soal keputusan apa yang akan diambil oleh pihak sekolah atas kasus pencurian yang dilakukannya setelah Ayah mencambuknya dengan gesper. Baginya, tak ada yang lebih buruk dari itu.

“Saya sudah pernah bilang tidak akan membiarkan kalau kamu terbukti mencuri uang temanmu, kan?”

Nara memainkan ujung kardigannya. Terlihat tak acuh seolah omongan Bu Widya barusan tak pernah sampai ke telinganya.

Lihat selengkapnya