Devan tak berhenti mengekor langkah Nara melewati halte tempat biasa menunggu angkot atau busway.
“Ra, luka di punggung lo gimana jadinya?”
Nara semakin mempercepat langkahnya sambil merapatkan kardigan.
“Biarin aja, Dev.”
“Terus ini lo mau ke mana? Halte udah kelewat.” Devan mengejar langkah Nara.
“Gue mau pulang jalan kaki.”
“Jarak sekolah ke rumah lo kan, sekitar 5-10 km, Ra.” Devan memicingkan mata seolah tak percaya.
“Lah, orang pada maraton 10 km juga sehat-sehat aja tuh,” tukas Nara.
“Masalahnya badan lo lagi nggak sehat. Mending naik angkot.” Devan meraih bahu Nara. Tatapannya sendu terlihat sangat khawatir. “Nurut sama gue, Ra,” lanjutnya.
Seolah tak memberikannya waktu untuk menolak, Devan menarik tangan Nara dan memaksanya putar balik ke halte.
Melihat para siswa yang berimpitan dan berebut untuk duduk, Nara menahan langkah. Dia kembali merapikan poni panjangnya agar menutupi wajah. Pandangannya tertuju ke sepatu usang miliknya. Devan mengambil posisi di sebelah Nara, menutupi tubuh kecilnya dari tatapan para siswa yang berkerumun.
“Eh, gue denger Nara teriak-teriak di ruang BK gara-gara dikeluarin dari sekolah?”
“Dikeluarin kenapa?”
“Lo nggak tau? Dia ketahuan ambil uang Lili sama Sabrina.”
Nara mencengkeram kuat tali ranselnya setelah mendengar suara-suara sumbang yang begitu bersemangat membicarakan tentangnya.
“Mau dengerin musik?” tawar Devan sambil mengayunkan earbuds di hadapannya.
Nara menggeleng. “Lo dengerin sendiri aja.” Nara memeluk lengannya sambil mengalihkan pandangan.
Lalu busway datang membubarkan para siswa yang sedang bergosip dan satu per satu dari mereka mulai berpencar pulang menuju rumah masing-masing—kecuali Nara.
***
“Nara baru pulang sekolah? Eh benar Nara, kan namanya? Ibu kamu yang kasih tau Tante nama kamu.”
Nara berhenti sejenak kemudian menoleh. Tante Kamila sedang menyapu halaman dan menyapanya dengan bibir penuh senyum.
“Benar Nara, kan?” ulang Tante Kamila.