Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #7

Hangat

Tatapan tidak ramah dari teman sekelas sudah menusuknya sejak Nara melewati pintu masuk. Dia menarik bangku dan duduk setelah meletakkan tas di sebelahnya.

“Katanya hukuman lo cuma suruh pelayanan masyarakat di panti asuhan, ya?” Cella mendatangi Nara sambil bersedekap. “Padahal buktinya udah jelas banget,” cecarnya.

Nara mengabaikan protes Cella dan lebih memilih mengeluarkan buku paket pelajaran. Dia membolak-balik halaman sambil mengingat materi terakhir yang dipelajari.

“Gue nggak sudi sekelas sama pencuri,” seru Cella. Lili langsung menarik tangan temannya itu. Begitu juga dengan Dinda dan Sabrina.

“Udah, Cel. Buang waktu sama tenaga ngomong sama orang gila kayak Nara,” ujar Sabrina menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah sengaja agar Nara mendengarnya dengan jelas. Beberapa siswa terdengar cekikikan di belakang.

“Iya, ya. Bisa ketularan gila!” Cella maju beberapa langkah, membuat Nara tersentak. Punggungnya membentur sandaran kursi. Nara mengaduh lirih. Dia menggenggam kuat pulpen dalam genggamannya dan terus membalik halaman hingga ujung bukunya kusut. Huruf-huruf mulai tidak terbaca sekuat apapun Nara mencoba untuk fokus. Jantungnya berdebar tak karuan.

“Tapi gue beneran nggak tenang kalau sekelas sama pencuri. Sekarang uang yang hilang. Besok apa lagi?” Cella masih terus mengoceh. Hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka. Nara menancapkan ujung pulpennya di lembaran buku pelajaran.

“Tinggal pindah kelas, sialan!” balas Nara tajam, bersamaan dengan patahnya pulpen dalam genggamannya. Kelas mulai gaduh hanya karena satu kalimat balasan dari Nara. Seolah mereka sedang menantikan hal gila apa yang akan Nara lakukan selanjutnya.

“Apa lo bilang?” seru Cella sambil melotot tak terima. Dia mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh.

“Cel, berisik!” sela Kala. “Kalian protes aja ke Bu Widya. Kepala gue sakit kalau ada orang yang teriak-teriak.” Nara menengok Kala. Namun ketua kelas itu justru sedang menatap tajam ke arah Cella dari balik kacamatanya.

“Nara, lo dipanggil Bu Widya.” Teman sekelas Nara yang baru masuk menghampiri mejanya. Pulpen dalam genggamannya terlepas. Nara mengatur napasnya yang mulai terasa sesak kemudian menyandarkan kepalanya di meja dan memilih memejamkan mata.


***

“Nara, saya minta maaf atas sikap tidak sopan saya beberapa hari yang lalu.” Bu Widya menautkan jemarinya dan meremasnya berkali-kali setelah Nara duduk di hadapannya.

“Apa luka yang kamu terima ada hubungannya dengan pemanggilan orang tua kamu ke sekolah?” Kini suara Bu Widya mulai bergetar.

“Saya baik-baik aja, Bu.” Nara menjawab cepat.

“Saya mulai memahami kalau ada sesuatu yang sedang kamu hadapi.” Bu Widya menarik napas dalam. “Tapi saya tetap harus menegur sikap tidak terpuji kamu dan saya berhak menerima penjelasan. Jadi, kenapa kamu mencuri uang teman sekelasmu?”

“Saya butuh uang.”

“Untuk apa?” Bu Widya menatap Nara dengan tatapan penuh selidik.

“Apa itu penting?” Nara membalas tatapan Bu Widya dengan berani.

Lihat selengkapnya