Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #8

Nyala Kecil

Nara menyeka keringat dengan lengan setelah mengangkat satu ember besar berisi pakaian yang baru saja dia cuci ke area menjemur.

“Padahal saya sudah bilang kamu temenin anak-anak main saja. Ngapain malah beres-beres sampai cuci baju segala.” Suara Bu Hana, kepala panti melengking di belakang Nara.

“Saya lebih nyaman ngerjain kerjaan fisik, Bu.”

“Nyaman apanya. Kamu ngos-ngosan begitu. Sudah sana bergabung sama anak-anak di aula. Mereka mau mulai makan siang. Biar saya selesaikan jemur bajunya.” Bu Hana mendorong Nara pelan.

Tadi pagi Nara datang diantarkan oleh Bu Widya. Selain karena Bu Widya harus bertemu langsung dengan kepala panti untuk menitipkan Nara selama dua minggu masa pelayanan, dia juga memaksa untuk menemani Nara dan memastikannya sampai ke tempat ini. Setelah perkenalan dan sedikit basa-basi, Bu Widya meninggalkan Nara bersama Bu Hana.

Saat melihat beberapa anak bergerombol di sekitarnya, Nara merasa kikuk dan memilih membantu pekerjaan para staf yang mengurus panti mulai dari kebersihan hingga menyiapkan makanan.

Namun kini Nara berjalan ragu menuju aula yang tadi pagi sudah diberitahu letaknya oleh Bu Hana.

“Kak Nara? Mau makan bareng sama kami?” Anak perempuan dengan rambut kuncir dua yang tadi pagi memperkenalkan dirinya sebagai Athaya menghampiri Nara.

Nara mengangguk. Athaya meraih tangan Nara kemudian menuntunnya berjalan masuk ke Aula. Anehnya, tangan mungil itu tak membuatnya tegang, malah Athaya terlihat begitu menggemaskan.

Saat membantu staf memasak, Nara mendengar banyak cerita. Salah satunya tentang Athaya, dia hanya anak usia 6 tahun yang seharusnya masuk SD tahun ini. Tapi sekolahnya tertunda karena pihak panti memprioritaskan anak dengan usia lebih tua untuk masuk sekolah.

“Kak Nara dari mana? Kok bajunya basah semua?” Beberapa anak lainnya mulai mengerubungi Nara.

“Bilang terima kasih sama Kak Nara, dia yang bantu Ibu masak buat makan siang, loh.” Bu Ella tersenyum lebar sambil mengacungkan centong nasi di depan 15 anak yang rata-rata masih berusia 6 tahun itu.

Semuanya bergantian memeluk Nara dan berebut memegang tangannya. Napas Nara tersendat. Tangannya tertahan di udara. Dia tidak menghindar maupun mendorong. Tubuhnya seolah kehilangan instruksi. Berulang kali Nara menimbang untuk mengusap kepala Athaya. Namun jemarinya kembali jatuh di sisi tubuhnya. Nara tidak tahu cara membalas pelukan anak-anak itu.


***

“PRANG!” Satu gelas melayang melewati Nara dan pecah berkeping-keping setelah menabrak tembok. Hampir saja kepalanya bocor jika gelas itu mengenainya. Tubuhnya menggigil membayangkan hal itu terjadi.

“Gue udah bilang lo harus pulang sekolah tepat waktu. Jam berapa ini, sialan?! Ngapain aja lo di luar?”

Wajah Nara memucat.

“JAWAB GUE ANAK SETAN!”

“Aku habis pelayanan masyarakat di panti asuhan,” jawab Nara dengan suara serak—hampir hilang.

“SIALAN! Udah nggak pinter, di sekolah malah jadi pencuri. Sekarang bukannya belajar lo malah pelayanan masyarakat di panti asuhan? LO UDAH GILA, YA? Mau nyusahin gue seumur hidup?”

“Gara-gara siapa, sialan!” Nara melirik ayahnya tajam. Dia meremas jarinya kemudian berjalan ke kamar.

“Ngomong apa lo?”

Ayah bangkit dengan mata menyala dan langsung menyerbu Nara yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Ayah menempeleng kepalanya sampai oleng dan terkapar di lantai.

“Udah lama nggak dipukul jadi berani ngelawan lo?!” Ayah menendang Nara berkali-kali membuatnya menyilangkan tangan di perut demi melindungi bagian yang masih sakit akibat memar dari pukulan terakhir yang dia terima.

“Assalamualaikum…,” sapa seseorang di luar gerbang.

Lihat selengkapnya