Suasana panti asuhan berubah menjadi ceria setelah Devan datang membawa dua kantong besar penuh dengan berbagai macam camilan. Nara menjadi ikut sibuk membantu Bu Ella membagikannya.
“Siapa yang belum dapet coklat?” teriak Devan. “Ayo angkat tangan!” lanjutnya. Anak-anak berteriak riang sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Nara tersenyum begitu melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan biasanya. Bahkan Athaya terlihat sangat lincah bolak-balik mengabsen teman-temannya yang belum mendapatkan coklat sampai membuat Devan kewalahan.
“Kamu teman yang baik, ya.” Devan mengusap kepala Athaya sambil tersenyum lebar. Pipi bulatnya langsung bersemu merah dan matanya semakin berbinar. Nara tersentak kemudian refleks mengusap kepalanya sendiri. Devan yang ada di sebelahnya, balas menatap Nara kemudian menyambar tangannya. Pacarnya itu tersenyum usil sambil mengusap kepala Nara.
“Kenapa? Cemburu sama Athaya?” ledek Devan. Bibir Nara mengerucut. Dia memindahkan tangan Devan dari kepalanya ke sisi tubuhnya.
“Pede banget.”
“Terus kenapa lo usap kepala lo sendiri begitu?”
Nara terdiam, tampak berpikir.
“Bukan apa-apa. Tapi ternyata begitu, ya caranya.” Nara mengangkat tangan kemudian meniru yang dilakukan Devan kepada Athaya. “Baik banget, ya pacar gue. Makasih udah datang jauh-jauh ke sini, Dev.”
Menyadari kekonyolannya, Nara seketika membeku sambil menatap tak percaya tangannya yang sudah melakukan hal gila.
“Cie….” Beberapa anak panti langsung tertawa cekikikan sambil menunjuk ke arah Devan dan Nara bergantian.
“Bu, saya keluar dulu, ya,” pamit Devan pada Bu Ella. Kemudian tatapannya beralih ke anak-anak. “Kalian jangan makan coklatnya sebelum makan nasi, ya. Awas loh giginya berlubang nanti.”
Tanpa menunggu Devan selesai bicara, Nara buru-buru berbalik dan berlari kecil meninggalkan pacarnya.
“Dasar gila! Tungguin gue. Tanggung jawab lo, tiba-tiba usap kepala gue,” kejar Devan.
Sorakan dari anak-anak masih terdengar riuh di belakang. Nara menutup wajahnya yang memanas dan berlari semakin menjauh meski Devan terus meneriakkan namanya.
***
Nara turun dari motor Devan yang berhenti dekat gang rumahnya. Dia menyerahkan helm pada Devan.
“Makasih, ya,” ujar Nara tulus. Berkat bantuan Devan yang mengantarnya pulang, dia bisa sampai ke rumah sebelum gelap tanpa harus menghadapi kemarahan Ayah.
“Sama-sama, Ra. Kabarin gue terus, ya.”
Nara mengangguk. “Soal yang kemarin juga maaf, ya.”
“Minta maaf kenapa?”
“Nggak ngabarin lo.”