Tante Kamila terkekeh melihat Nara membersit hidungnya yang merah. Dia membantu Nara menyeka air matanya menggunakan tisu.
“Mana aja yang sakit? Biar Tante oles pake minyak tawon.”
Nara gelagapan. Mendadak pura-pura lupa yang dikatakannya sekitar lima belas menit yang lalu saat masih sesenggukan. Tante Kamila menatapnya lembut.
“Tadi kamu bilang semuanya sakit. Mau Tante bantu oles pake minyak tawon, nggak bagian yang sakitnya?”
Nara mengangguk ragu. “Tapi mungkin nanti Tante capek ngolesinnya.”
“Kalau Tante capek, berarti kamu yang bantu Tante cuci piring, ya.”
Nara menatap Tante Kamila. Kemudian dia tersenyum sambil perlahan menggulung lengan kaus panjangnya. Nara memperhatikan ekspresi wajah Tante Kamila yang tak berubah sedikitpun meski bekas luka cambuk yang mulai mengering itu terlihat jelas. Sungguh berbeda dengan raut Bu Widya saat itu.
“Bagian mana yang harus Tante oles?” tanya Tante Kamila. Suaranya terdengar menenangkan.
“Sebenernya….” Nara menggigit bibirnya. “Ada bagian lain yang lukanya masih basah karena tangan aku nggak nyampe.”
“Kamu mau Tante bantu obati bagian itu?”
Sekali lagi, Nara mengangguk.
“Kalau begitu ayo ikut Tante.”
Nara berjalan pelan mengikuti langkah perempuan di hadapannya. Dia masuk ke kamar kemudian memegang gagang pintu sambil menatap Nara.
“Kalau bagian tubuh yang nggak bisa kamu jangkau, kemungkinan area punggung, ya. Jadi lebih aman Tante obati di kamar. Kamu nggak keberatan?”
Nara terpaku di tempatnya. Andai Tante Kamila adalah anggota sindikat penculikan remaja, Nara mungkin bisa mengerti alasan dia memperlakukan Nara sebaik ini. Tapi melihat aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga yang tak mencurigakan sama sekali, semua sikapnya justru jadi lebih mencurigakan.
“Nara?”
“Sebentar, Tan.”
“Ya?”
“Tante itu anggota sindikat penculikan remaja?” Isi kepalanya menembus keluar sampai membuat Tante Kamila kebingungan sejenak kemudian tertawa lepas.
“Kamu serius nanya begitu?”
Nara mengangkat bahu. “Ini aneh. Semuanya nggak masuk akal.”
“Bagian mana yang aneh dan nggak masuk akal?” tanya Tante Kamila pelan. Dia terlihat sedang menahan tawa.
“Semuanya. Termos waktu itu. Kue. Piring. Bahkan sekarang aku kayak dihipnotis mau ikut masuk ke kamar Tante.”
Perempuan itu menyilangkan tangan. Raut wajahnya tampak berpikir keras.
“Iya, ya. Kalau dipikir-pikir, semuanya memang aneh. Apa lebih baik kita minum teh aja di luar?”
“Hah?” Nara melongo. Tak menyangka dengan respons Tante Kamila. Namun belum sempat Nara bereaksi, tangan perempuan itu sudah meraih bahunya.
“Kalau kamu merasa ini aneh, Tante nggak akan maksa kamu untuk diobati. Tapi kalau kamu tanya apa alasannya, mungkin Tante bisa kasih jawaban. Tiap lihat kamu, Tante ingat anak Tante.” Tante Kamila berhenti bicara. Dia menarik napas dalam. “Kalau dia masih hidup mungkin udah seusia sama kamu atau lebih tua.”
Seolah dipaksa untuk mencerna semua kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Tante Kamila, seluruh tubuh Nara mendadak gemetar. Dia adalah anak yang tiap harinya berharap untuk mati. Namun begitu mendengar sebuah kematian yang nyata terjadi, nyalinya menciut. Dia tidak yakin Ayah dan Ibu akan memiliki raut sedih yang sama seperti yang sekarang tergambar di wajah Tante Kamila. Kalau begitu, bukannya kematiannya agak sedikit sia-sia?
Nara terhenyak begitu menyadari telapak tangannya sudah lebih dulu menyentuh pipi Tante Kamila. Dia buru-buru menariknya, tetapi jemarinya justru ditahan oleh tatapan lembut perempuan itu.
Nara melangkah melewati Tante Kamila dan berdiri di ambang pintu kamar.
“Aku mau diobati sama Tante.”