Nara menggosok kedua tangannya yang sudah memakai sarung tangan anti panas bermotif nanas dengan penuh semangat. Dia menatap lekat fudgy brownies dalam oven. Menghirup napas dalam-dalam.
“Wangi banget, Tan,” ocehnya. Tante Kamila yang sedang mencuci piring sekaligus beberapa peralatan yang mereka gunakan untuk membuat adonan itu hanya mengangguk sambil menarik ujung bibirnya.
Suara tring yang berasal dari oven membuat Nara melompat kegirangan.
“Tan, Tan, Tan. Mateng mateng mateng!” serunya. Tante Kamila melepas sarung tangan yang basah kemudian membantu Nara mematikan oven.
“Coba kamu yang ambil.”
“Nanti panas nggak, Tan?”
“Kan kamu udah pake sarung tangan anti panas.”
Nara ber-oh panjang. Mengangguk penuh tekad. Dia sungguh ingin segera mencicipi kue pertama yang dia buat. Perlahan dia mengeluarkan loyangnya dari oven dan berjalan ke meja dapur. Perasaan gugup yang menguasainya sekaligus sarung tangan yang kebesaran membuat tangannya tergelincir.
“TAN!” teriak Nara begitu loyang kuenya menyentuh meja dalam posisi terbalik. Tawa Tante Kamila pecah disertai kekehan usil.
“Gimana, dong?” Nara menekan kepala panik.
Tante Kamila mengambil alih dengan sangat terampil. Dia memindahkan fudgy browniesnya ke piring lebar meskipun bentuknya sudah tidak sempurna.
“Maaf, Tan.” Sorot matanya meredup. Nara menggigit bibirnya sambil menatap lantai.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan. Kamu nggak melakukan kesalahan dengan sengaja. Loyangnya jatuh memang karena itu pertama kalinya untuk kamu.” Sentuhan tangan yang lembut sudah berada di puncak kepala Nara. Dia mendongak dan menatap lekat ke mata Tante Kamila. Mencari kesungguhan dalam setiap kalimatnya.
“Tante nggak marah?”
“Kalau hal-hal kecil kayak gini bikin Tante Marah, Tante udah kena serangan jantung kayaknya,” balas Tante Kamila.
Nara menatap perempuan itu beberapa saat. Mencari-cari nada marah yang mungkin sengaja disembunyikan. Namun yang ditemukannya hanya wajah yang tetap tenang.
“Terus ini boleh dicoba, Tan?”
“Boleh. Tapi hati-hati masih panas banget.”
Nara kembali menatap fudgy brownies yang bentuknya sudah penyok di sana-sini. Aneh. Kue itu rusak, tetapi tak seorang pun memarahinya. Banyak hal di luar pemahaman Nara yang terjadi sejak dia mulai dekat dengan Tante Kamila. Seolah setiap hari, jam, menit dan detiknya hanya ada hal-hal yang baru bagi Nara.
***
Bel tanda pelajaran berakhir disambut sorak para siswa yang sudah kelelahan menerima penjelasan rumus matematika dari Pak Suryo. Nara membuang pandangannya ke jendela. Dia tak tertarik dengan keriuhan kelas yang sibuk tertawa, bergosip, atau sekadar berdebat soal jajan yang akan mereka beli di kantin.
Dari jendela kelasnya, terlihat jelas lapangan basket yang berada di tengah gedung sekolah. Bagi Nara, kerumunan di sana juga bukan apa-apa. Dia lebih suka menghabiskan jam istirahat bersama dengan Devan di taman belakang gedung sekolah. Anehnya, lima menit berlalu, pacarnya tak kunjung datang. Nara celingukan.
“Nyari siapa?” sambar Cella yang sudah berada di hadapannya. Nara memalingkan wajah tak peduli.
“Kayaknya nungguin pacarnya jemput,” sahut Sabrina dari bangkunya.
“Gara-gara keseringan bergaul sama lo, tuh. Devan jadi troublemaker.” Ucapan Cella mengusik rasa penasarannya. Nara mulai gusar. Kakinya bergerak tak beraturan.