Tangan Nara terangkat ragu hendak meraih pipi Devan yang tertutup perban. Sekilas dia membayangkan tangan Ayah yang sering membuatnya terlihat persis seperti keadaan Devan sekarang. Nara menggigit bibir mengurungkan niat kemudian kembali menarik tangannya.
“Lo berantem sama siapa? Kenapa semua orang tau tapi gue nggak tau apa-apa?” Suaranya serak. Terbata-bata.
Devan membalas pertanyaan Nara dengan tatapan yang tak bisa Nara mengerti.
“Jawab, Dev. Kenapa diem aja?” desak Nara. Emosinya mulai meluap. “Gue nggak ngerti kalau lo nggak kasih tau gue.”
“Gue berantem sama Ghani anak XI IPA 4.”
“Kenapa?”
Devan menyandarkan kepalanya ke bahu Nara. “Kenapa lagi? Udah pasti karena dia ngomong sembarangan soal lo.”
Hening. Nara meremas jemarinya. Dadanya berdenyut kuat.
“Dia bilang, lo nyuri uang Sabrina buat ngobat.” Seolah mengerti kebingungan Nara, Devan melanjutkan kata-katanya. Nara menganga tak percaya.
“Udah gila, ya dia?” Nara mengepalkan tangan.
“Gue percaya sama lo, Ra.” Devan meraih tangan Nara. “Tapi apa lo nggak bisa cerita uangnya buat apa?” Devan mengangkat kepalanya. Menatap Nara dengan serius.
Nara mengusap wajahnya kasar. “Gue lagi ngumpulin uang buat pergi dari rumah dan berhenti sekolah. Gue tau itu salah. Tapi….” Tenggorokan Nara tercekat. Dia tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Mata Devan bergetar. Dia langsung meraih kedua bahu Nara dan meremasnya.
“Lo bakalan pergi tanpa ngasih tau gue?”
“Sori, Dev.”
“Jadi selama ini kita pacaran sambil otak kecil lo itu mikirin gimana caranya kabur dan pergi ninggalin gue?”
“Gue nggak tau, Dev.” Pipinya sudah mulai basah. Luapan perasaan bersalah pelan-pelan menyiksa sekujur tubuh Nara.
“Lo minta gue buat nggak ninggalin lo, Ra. Tapi apa yang selama ini lo rencanain tanpa melibatkan gue itu udah cukup ngegambarin gimana perasaan lo ke gue.” Devan melepaskan bahu Nara. Dia meremas kepalanya kuat. Terlihat frustasi. “Gue beneran bukan apa-apa buat lo.”
“Itu nggak bener, Dev. Awalnya gue cuma nggak mau lo terlibat lebih jauh sama gue. Selama ini lo terlalu baik. Tapi ternyata gue yang nggak bisa tanpa lo.”
Nara gemetaran. Melihat raut sedih Devan, Nara merasakan sakit luar biasa di dadanya. Seolah ada yang menancap tepat di sana.
“Maafin gue, Dev.” Nara menangis sesenggukan. “Maafin gue….”