“Nara?” Suara Tante Kamila memecah lamunan Nara.
“Ya, Tan?”
“Kok nggak diangkat kuenya? Udah mateng dari tadi, loh.”
Nara gelagapan. Dia buru-buru mengeluarkan kue dari oven. Nara menggigit bibirnya, merasa tak enak pada Tante Kamila. Namun perempuan itu malah tertawa kecil.
“Mikirin apa, sih? Kok kayaknya sibuk banget.”
Nara menggeleng lemah. Kini tangannya sudah mulai cekatan mengeluarkan kue dari oven dan memindahkannya ke piring saji.
Ponsel di sakunya bergetar. Nara buru-buru membuka sarung tangan anti panas untuk mengeceknya.
[Sori baru bales, Ra. Aku baru pulang les.]
[Nggak apa. Kamu udah makan?]
[Udah. Kamu gimana?]
[Aku lagi bikin kue di rumah Tante Kamila.]
[Lagi? Minggu ini aja kamu udah tiga kali bikin kue di sana.]
“Ra? Nggak cobain kuenya?” Tante Kamila menepuk bahu Nara.
“Bentar, Tan.” Nara masih mengetik sesuatu di ponselnya.
[Sekalian belajar resep bikin kue, Dev. Besok aku bawain kuenya, ya.]
“Chat siapa, sih?” ledek Tante Kamila.
“Hah?” Nara buru-buru memasukkan ponselnya ke saku. “Bu-bukan siapa-siapa, kok.”
“Pacar?”
Pipi Nara langsung bersemu merah. Dia mengibaskan tangannya seperti kepanasan.
“Bukaaan!” elak Nara. Menyuapkan sepotong kue ke mulutnya.
“Ganteng nggak, Ra?” sahut Om Danu dari ruang tengah.
“Apaan, sih, Om?!”
“Malu dia, Pak.”
“Iya, serunya masa muda ya, Bu.”
Nara semakin salah tingkah saat kedua orang dewasa itu tak berhenti meledeknya. Terlalu sibuk mengelak sambil memotong kue, Nara tak menyadari ponselnya yang bergetar beberapa kali.