Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #15

Main Api

Setelah mengoleskan minyak tawon pemberian Tante Kamila, Nara menutup lukanya dengan hansaplast. Dia menyiapkan tas sekolah dan merapikan baju seragamnya sekali lagi. Matanya langsung tertuju pada poni yang semakin panjang sampai menutupi pandangannya. Nara merasa lebih nyaman menutupi sebagian wajahnya. Namun perasaan ingin terlihat lebih baik di depan Devan membuatnya dilema.

Nara menggeleng keras. Dia buru-buru keluar kamar. Matanya berpapasan dengan Ibu yang berjalan tertatih dari dapur ke ruang tengah. Ujung bibirnya biru. Kelopak matanya menyipit karena pembengkakan. Belum lagi warna sekelilingnya yang sudah berubah biru kehitaman. Dalam keadaan seperti itu, dia masih menyiapkan sarapan di meja.

Sungguh ironi.

“Sarapan dulu,” ucap Ibu. Suaranya berat.

“Udah telat. Aku berangkat dulu.”

“Nanti pulang sekolah ke rumah tetangga depan aja dulu,” tekan Ibu sambil meletakkan tumis kangkung.

“Kenapa?” Nara menengok ke Ibu. Tak mengerti maksud ucapannya.

“Ayah kamu bakalan terus ngamuk selama berhari-hari.”

“Masalahnya apa? Dia kalah judi lagi?”

Bibir Ibu bergetar. “Kamu nggak perlu tau. Nurut aja.”

Nara berdecak kesal.

“Biasanya juga Ibu nggak peduli!”

Ibu terdiam. Nara terhenyak melihat bibir ibunya berdarah. Dia ingin tetap marah. Tapi tidak bisa sepenuhnya.

“Jangan ngebantah lagi!” Ibu menekan kalimatnya. Tangannya terkepal kuat memukul-mukul meja.

Nara membuang muka. “Terserah aku mau pergi ke mana. Ibu nggak usah ngatur-ngatur. Toh, selama ini aku emang nggak pernah punya tempat pulang yang aman. Selesaikan aja masalah Ibu sama Ayah.”

Nara membalikkan badan cepat. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika langkahnya terhenti. Dari balik bahunya, terdengar suara piring beradu pelan. Ibu masih berdiri di depan meja makan. Dengan tubuh yang gemetar, perempuan itu tetap merapikan letak tumis kangkung yang tak sempat disentuh siapa pun. Nara menggigit bibir. Lalu keluar tanpa menoleh lagi.


***

Bangku Cella kosong. Sabrina dan Lili duduk diam tanpa saling bicara. Tidak ada tawa maupun sindiran. Suasana kelas justru terasa lebih ganjil daripada kemarin. Dia berjalan ke belakang melewati keduanya.

“Lo suruh ke ruang BK.” Kala sudah berada di hadapannya.

“Sekarang banget?” tanya Nara lelah. Rasanya masih terlalu pagi untuk terlibat dalam sebuah masalah kecuali guru BK itu hendak membahas masalahnya dengan Cella.

“Iya. Cowok lo udah di sana,” jawab Kala datar.

“Devan? Kenapa?” Nara mengerutkan dahinya.

“Mana gue tau.” Kala menatap Nara sejenak lalu kembali ke bangkunya.

Nara bergegas keluar dan melangkah cepat ke ruang BK. Dia tak ingin Devan jadi ikut menanggung akibat dari kesalahan yang dia buat.

Belum sempat Nara meraih gagangnya, pintu itu sudah terbuka.

“Ra! Baru nyampe?” sapa Devan tersenyum semringah. Namun senyumnya seketika hilang. Tangannya naik begitu saja ke arah poni Nara. Jarinya berhenti.

“Kenapa lagi?” Rahangnya mengeras. Devan mengusap pelan hansaplast bermotif gajah di tulang pipi Nara.

Nara menggeleng. “Kamu sendiri nggak apa-apa?” Tangannya memilin ujung baju seragamnya hingga kusut.

Devan memalingkan wajah kemudian mengangguk.

“Kamu masuk dulu aja. Aku tunggu di luar, ya.”

Nara melangkah ragu. Dia terus menatap ke belakang. Tak ingin Devan lepas dari pandangannya. Dari luar, Devan mengangguk dan menutup pintu.

“Devan kenapa, Bu?” Tatapan Nara beralih ke Bu Widya yang ada di hadapannya.

Lihat selengkapnya