Setelah melihat notif DM Instagram di ponsel Devan, Nara jadi tahu bahwa Devanlah yang membuat akun atas nama dirinya dan mengunggah video Cella. DM-nya bersama Cella berisi ancaman-ancaman yang gadis itu layangkan.
Sudah tiga hari Nara menghindari Devan. Dia benar-benar tak siap mendengar penjelasan dari pacarnya itu. Memikirkan bagaimana Devan mencampurkan kebenaran dan kebohongan dalam ucapannya dengan mimik wajah yang tak bisa ditebak, membuat sekujur tubuh Nara gemetar.
Berbeda dengan kemarin, hari ini Devan mendatangi bangkunya dengan tubuh penuh luka. Pelipisnya pecah. Batang hidungnya membiru dan ada sedikit luka gores di sana. Buku-buku jemarinya penuh dengan luka yang masih basah.
“Ra,” panggil Devan lemah.
Nara menekan dadanya kuat.
“Dev, kasih aku waktu. Aku masih perlu mencerna semuanya.”
“Oke,” ujar Devan tanpa banyak membantah. Beberapa teman sekelasnya terlihat ikut mengembuskan napas lega mendengar jawaban Devan. Sepertinya mereka takut melihat penampilan Devan yang seperti preman.
Setelah agak lama menatap Nara, Devan keluar dari kelas. Nara menatap nanar kepergiannya dan melihat tangan Devan mengepal kuat hingga darah segar mengalir di sela-sela jarinya. Dada Nara berdenyut kuat.
Keesokan harinya, Nara baru tahu kalau kata “oke” yang diucapkan oleh Devan kemarin menandakan bahwa dia justru tidak baik-baik saja. Begitu banyak gosip menyebar tentang laki-laki itu yang mencari masalah dengan anak kelas lain.
Nara gelisah. Dia berusaha mencari Devan di kelasnya namun tempat duduknya kosong. Bahkan saat Nara mencoba mengirimkan chat, tetap tak ada balasan.
Setelah seharian tak terlihat, begitu bel istirahat kedua berbunyi lantang, Devan kembali datang ke kelas dengan banyak jejak luka baru. Kini wajahnya benar-benar babak belur.
“Ra,”
Nara bangkit. “Dev, kamu ngapain aja, sih, bisa jadi begini?!” Teriakannya mengundang banyak perhatian dari penghuni kelas. Meski tak ada yang berani berkomentar, mereka terlihat sudah muak melihat drama yang terjadi antara dirinya dan Devan.
Cella menarik Lili dan Sabrina keluar dari kelas. Disusul oleh Dinda dan Kala. Nara terduduk lemas.
“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak masuk les,” ujar Devan lirih.
“Dev, please….” Nara memukul tangannya frustasi.
“Aku bahkan nggak bisa makan, nggak punya tujuan, aku nggak tau harus gimana tanpa kamu,” lanjut Devan seolah tak memedulikan kondisi Nara sama sekali.
“Masih belum bisa, Ra?” tanya Devan dengan tatapan sendu penuh harap. Sejak kejadian di perpustakaan kota waktu itu, senyum Devan menghilang sepenuhnya. Kini rautnya terlihat benar-benar muram.
“Ra….”
Nara mengusap wajahnya kasar. “Ya udah nanti istirahat di tempat biasa.”
***
Sesuai janji, kini Nara dan Devan duduk berdampingan di bangku taman belakang gedung sekolah. Nara memainkan ujung jarinya. Pikirannya ke mana-mana. Dia terus berusaha memahami semua kebohongan Devan.