Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #17

Kehilangan

Selesai bubaran upacara bendera, para siswa berlarian ke ujung barisan. Tak lama kemudian, mereka mulai heboh menyoraki sesuatu. Nara berjalan cuek melawan arah. Saat yang lain justru penasaran dan bergabung ke kerumunan, dia memilih kembali ke kelas. Namun begitu seseorang meneriakkan nama Devan, Nara terdiam di tempat.

“Hajar, Dev!”

Nara berbalik arah, berusaha menyibak kerumunan dengan tubuh kecilnya. Akibatnya, dia terdorong sana-sini dan hampir terjatuh tepat di depan Devan yang sedang melayangkan tinjunya ke wajah seseorang.

Devan terus memukul tanpa menghiraukan kehadiran Nara.

“Devan!” panggil Nara.

Tangan Devan tertahan di udara. Dia menoleh ke Nara. Tatapan mereka bertemu. Membuat napas Nara berhenti. Melihat tatapan menyeramkan Devan, tubuh Nara mendadak gemetaran. Matanya terpaku pada kepalan tangan Devan. Bahkan bising dari suara sekitar seolah menjauh. Dia teringat sosok Ayah yang sedang menyiksa Ibu.

Nara sontak berjongkok sambil berusaha melindungi kepala dengan lengannya. Riuh kerumunan berubah menjadi ruang kedap suara di mana Nara hanya bisa mendengar suara napasnya yang pendek-pendek.

“Ra, ambil napas pelan-pelan.” Sentuhan dan suara lembut Devan perlahan membawa kesadarannya kembali.

Nara mendorong tubuh Devan kemudian beranjak keluar dari kerumunan. Dia berlari dengan tertatih keluar dari area gedung sekolah. Semakin menjauh, tenaga Nara mulai kembali. Dia terus berlari sampai ngos-ngosan.

Seseorang menarik lengannya. “Berhenti, Ra! Kamu bisa pingsan!”

“Lepasin aku!” Nara menepis tangan Devan. Namun cengkeramannya terlalu kuat.

“Lepasin aku, sialan!” Dia semakin kuat melawan.

“Oke aku lepas. Tapi kamu harus berhenti dan napas pelan-pelan.” Devan mengangkat tangannya. Tubuh Nara ambruk. Jantungnya seperti akan meledak. Nara mundur beberapa langkah saat Devan terus berusaha mendekatinya.

“Pergi, sialan! Gue nggak mau ketemu lo lagi!” usir Nara. Suaranya serak bercampur dengan isakan tangis.


***

Lihat selengkapnya