Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #18

Tak bisa diselamatkan

Udara di kamar Nara terasa pengap. Sudah tiga hari tirai jendela tidak pernah dibuka. Baju sekolahnya pun masih tergantung. Ponselnya tergeletak begitu saja dengan layar yang sudah lama padam. Samar masih tertinggal aroma minyak tawon di bantalnya. Aroma yang biasanya membuat Nara merasa aman itu kini hanya memenuhi kamar yang lembap. 

Seseorang menggedor pintu kamar Nara.

“Kalau kamu mati di sini, ngerepotin semua orang,” teriak Ibu dari luar.

Nara tak menyahut. Bahkan gelas air di samping tempat tidur masih utuh. Tubuhnya terlalu berat untuk sekadar bergeser ke kamar mandi. Dia hanya meringkuk tak berdaya.

Ibu membuka paksa pintu kamar Nara. Tak berhenti di sana, dia menarik selimut Nara dengan kasar. Ibu juga menyalakan lampu dan membuka jendela kamar. Nara sontak memejam saat cahaya pagi menusuk kelopak matanya. Udara pagi yang mulai hangat masuk dari jendela. Untuk sesaat, Nara seperti mencium aroma dapur Tante Kamila setiap kali oven baru dibuka.

“Mau sampai kapan kamu bersikap begini?” 

“Bangun! Mau ditampar lagi sama Ayah kamu karena bolos sekolah terus?” serbu Ibu hampir kehabisan napas.

Ibu mengguncang bahu Nara. Namun tubuhnya tetap menggulung rapat.

“Kamu begini cuma karena orang lain. Padahal Ibu kamu dipukuli sampai sekarat aja, kamu cuma diem.” Ibu memukul paha Nara.

“Mati aja sana!” lirih Nara masih di posisinya yang sama.

“Apa kamu bilang?!” pekik Ibu, menarik kedua tangan Nara. Suaranya tajam menusuk gendang telinga. Nara meremas seprei kemudian perlahan duduk. Membalik tubuhnya menghadap ke Ibu.

“MATI AJA SANA, SIALAN! Aku juga udah nggak mau hidup jadi anak kalian!” balas Nara dengan suara bergetar.

Mata Ibu terbelalak. Tangannya menyambar pergelangan tangan Nara. Menyeretnya turun dari kasur. Kaki Nara yang tak mampu menopang membuat tubuhnya menghantam pinggiran kayu dipan. Tumitnya bergesek dengan lantai. Seolah tak peduli dengan kondisi Nara, perempuan itu tetap menariknya keluar dari kamar.

“Cepat makan, mandi, terus berangkat ke sekolah. Lama-lama kamu bisa gila kalau cuma diam di kamar!”

Sesampainya di kamar mandi, Ibu menyambar ujung baju tidur Nara. Dia tidak bergerak. Begitu kancing pertama terbuka, Ibu meraih gayung dan mengguyur kepala Nara. Air dingin mengalir melewati pelipis hingga leher. Nara masih diam meski giginya bergemeletuk.

Ibu kembali meraih kerah bajunya, jemari Nara akhirnya bergerak. Dia menepis tangan itu pelan.

"Cukup!" rintih Nara. “Lepas!”

Ibu tak melepaskan tangannya. Dia justru semakin dalam mencengkeram lengannya. Nara meraih ember di samping dan melemparkannya sekuat tenaga.

“Dasar anak kurang ajar!” Ibu beranjak meninggalkan Nara yang terlanjur basah kuyup. Tubuhnya menggigil. Dia kembali ke kamar dengan rambut yang masih meneteskan air. Nara menjatuhkan diri ke kasur. Dia menarik selimut yang sudah ikut basah sampai menutupi kepalanya.


***

Nara mengerjapkan matanya yang terasa berat. Sekujur tubuhnya nyeri seperti ditusuk-tusuk. Namun cahaya lampu yang terlalu terang menyakiti retinanya. Dia kembali menutup mata. Nara bisa mendengar suara monitor yang berbunyi teratur seperti detak jarum jam. Derap langkah yang sibuk dan bau obat yang menusuk hidungnya membuat Nara menyadari bahwa kini dia sedang berada di rumah sakit.

Seseorang meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat.

“Dok, dia sempat buka mata sebentar. Tolong dicek kondisinya.”

Lihat selengkapnya