Gagang pintu bergerak pelan. Tante Kamila menoleh lebih dulu. Nara ikut mengangkat pandangan. Rautnya seketika mengeras. Pintu ruang rawat inap terbuka pelan menampilkan sosok Ibu yang terlihat canggung saat berjalan masuk. Ibu berhenti di ambang pintu lebih lama dari yang seharusnya.
Setelah bergerak mendekat, dia mengangguk ke Tante Kamila.
“Biar saya saja,” ujar Ibu mengambil alih nampan stainless berisi sarapan Nara dari tangan Tante Kamila. Ibu mengambil posisi di samping Nara sambil mengaduk bubur. Dia menyendok satu suapan, meniupnya pelan-pelan lalu mengangkatnya ke arah Nara.
Melihat sendok itu, perasaan Nara mendidih. Dia menepis nampan hingga meluncur bebas ke lantai. Suaranya menggema sampai keluar koridor rumah sakit yang senyap. Satu orang perawat datang tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Bu?”
Tante Kamila sudah lebih dulu berjongkok dan merapikan makanan yang tercecer di lantai. Ibu mengambil tisu dari nakas kemudian ikut membantu membersihkan.
“Maaf, Sus. Tidak sengaja.” Ibu mencoba menjelaskan.
Perawat itu tersenyum. “Saya minta untuk dibawakan gantinya, ya Bu. Mohon ditunggu sebentar.”
Tak ada yang bersuara lagi. Kedua perempuan paruh baya itu hanya mengangguk lalu sibuk mengelap lantai dan membuang sampah.
Nara merebahkan tubuh membelakangi tempat Ibu berdiri.
“Pergi!” usirnya.
“Jangan mentang-mentang ada yang nolongin, kamu jadi belagu. Jangan merepotkan orang lain!” sembur Ibu.
“Pergi!” ulang Nara. Menekan dadanya kuat.
“Mohon maaf, Mbak. Sebaiknya kamu pulang sekarang,” pinta Ibu kepada Tante Kamila yang masih berdiri di samping Nara. Perempuan itu mengusap bahu Nara.
“Tante tinggal dulu, ya. Nanti Tante balik lagi.”
Nara tak menjawab. Tante Kamila semakin mendekat. Dia menepuk-nepuk pelan kepala Nara. Hampir saja Nara menggenggam tangan itu. Namun begitu melihat cincin di jari Tante Kamila, Nara berhenti. Perlahan dia menarik kembali tangannya sambil merapatkan selimut.
***
Sejak kepulangan Tante Kamila, Nara lebih memilih makan dengan tangannya sendiri daripada disuapi oleh Ibu. Selesai menyuapkan makanan terakhir, dia melihat perempuan itu terpejam di kursi sambil melipat tangan.