Setelah mengecek ponsel dan membuka maps, Nara melihat ada taman kota terdekat dari tempatnya berjalan. Panggilan masuk dari Devan membuat ponselnya hampir tak bisa melakukan fungsi lain. Ada juga pesan dari Bu Widya namun tak cukup menarik perhatiannya.
Nara duduk di bangku taman yang dinaungi pohon rindang. Dia menengadah sambil mengulurkan tangan ke udara. Sudah lama dia tak merasakan hangat cahaya matahari.
Nara menekan tombol hijau begitu masuk panggilan dari Devan.
“Ra?” Suara Devan terdengar ragu-ragu memanggil namanya.
“Ya….”
“Ra, terima kasih, Tuhan. Akhirnya kamu angkat telepon dari aku.” Suara seraknya berubah semringah.
Nara mengayunkan kakinya. Mencoba mengalihkan perasaannya yang membuncah ketika mendengar suara laki-laki itu. Ternyata, dia juga kangen pada Devan.
“Ra, kenapa nggak sekolah?”
“Aku baru keluar dari rumah sakit.”
“Kamu dirawat?”
“He-emmh.”
Hening. Hanya terdengar deru napas Devan dari seberang.
“Aku boleh nengokin ke rumah kamu?”
Ujung bibir Nara terangkat. Dia tertawa geli.
“Rumah? Emang aku punya, Dev?”
“Terus kamu di mana, Ra?”
“Mau ke sini? Tapi bukannya kamu masih harus sekolah dan les?”
“Shareloc. Aku ke kamu sekarang. Aku kangen banget sama kamu, Ra.”
Jantung Nara berdebar kencang. Dia menyudahi percakapannya kemudian mengirimkan lokasi melalui chat.
***
Dari kejauhan Nara bisa melihat sosok Devan yang berlari ke arahnya. Nara melambaikan tangan sambil tersenyum canggung. Devan mengatur napasnya yang tersengal kemudian memeluk Nara erat. Nara bisa merasakan hangat napas Devan di bahunya yang mulai basah.
“Udah, udah.” Nara menepuk-nepuk punggung Devan. Alih-alih melepaskan Nara, dia justru memeluk Nara semakin erat.
“Aku pikir kamu udah nggak mau ketemu aku lagi, Ra." rengeknya.
Nara menyerah. Dia membiarkan Devan terus memeluknya sambil mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya. “Keano bilang kamu ngobat dan jadi simpanan om-om. Aku nggak bisa lagi menahan emosi aku dengar omong kosong itu. Itu sebabnya aku pukul dia di lapangan.”