Satu alasan yang keluar dari mulut Nara, berhasil membuat Bu Hana mengizinkan Nara untuk menginap beberapa hari tanpa menanyakan alasan lebih lanjut tentang mengapa dia tak memiliki tempat untuk pulang.
Selama tinggal di panti, Devan mengunjunginya setiap hari sambil bermain bersama anak-anak. Dia juga membawakan beberapa potong pakaian miliknya untuk Nara.
Nara menjalani hidupnya dengan rajin. Dia bangun pagi buta untuk membantu Bu Ella menyiapkan sarapan. Dia juga membantu staf lain untuk memastikan anak-anak mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Ada beberapa anak yang sulit dibangunkan membuat Nara sangat sibuk melakukan berbagai cara demi membawanya ke kamar mandi.
“Ra, bisa bantu bangunkan Budi?” Bu Ella teriak dari dapur.
“Budi ada di kamar nomor berapa, Bu?”
“Athaya, tolong antar Kak Nara ke sana.”
Athaya menarik tangan Nara. Menuntunnya ke kamar Budi. Sesampainya di sana, entah sudah berapa kali Nara memanggil dan menggoyangkan tubuhnya, Budi bergeming. Sedangkan Athaya sibuk mengunyah potongan roti coklat sambil bersandar di pintu menatap kehebohan Nara.
“Kalau bangunin dia, mah harus langsung didudukin sambil diajak ngobrol,” ujar Athaya. Dagunya terangkat menunjuk anak laki-laki yang masih tidur nyenyak di kasurnya. Nara menatap Budi dari atas sampai bawah. Melihat bentuk tubuhnya yang besar, Nara yakin 100 persen bahwa dia akan kewalahan mendudukkan anak itu sendirian.
“Kamu yakin?” tanya Nara. Merasa sangsi atas saran Athaya yang sedikit tidak masuk akal. Athaya memasukkan potongan terakhir roti ke mulutnya. Dia berjalan mendekat ke arah Nara.
“Yakin. Aku sering liat Bu Ella sama Bu Hana,” ucapnya serius.
Nara menelan ludah. “Ya kalau Bu Ella aja harus gotongan sama Bu Hana, gimana caranya aku angkat sendiri?”
“Mau aku bantu?” tawar Athaya. Gesturnya terlihat sangat angkuh. Khas anak-anak. Nara mengernyitkan dahi.
“Kamu tambah aku aja masih belum sama dengan dia, tau!” hardik Nara.
Athaya menatapnya bingung. Nara mengibaskan tangan.
“Ah udahlah! Biarin aja dia nggak usah sekolah.” Nara mendengus kesal lalu keluar dari kamar. Namun langkahnya tertahan oleh jemari kecil Athaya.
“Kita coba dulu, Kak. Kata Bu Hana, kita nggak akan pernah tau kalau nggak mencoba.”
Nara kehilangan kata-kata mendengar anak berusia enam tahun itu mengoceh hal yang menyebalkan. Dia mengentakkan kaki berbalik arah. Kembali ke tempatnya semula.
“Kamu naik, deh ke kasur. Hitungan ketiga kamu angkat tangan dia. Aku dorong punggungnya dari belakang. Oke?” Tanpa sadar, Nara berbicara panjang lebar memberikan instruksi. Dia berdeham kikuk lalu melihat Athaya mengepalkan tangan penuh semangat.
Begitu mereka sudah melakukan ancang-ancang, mata anak laki-laki itu terbuka.
“Kalian mau ngapain?” tanyanya bergantian menatap Athaya dan Nara.
Athaya menunjuk Budi, tawanya menyembur.
“Kak, Bang Budi udah bangun, Kak!” teriaknya riang.