Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #22

Semula

Tatapan Nara terpaku pada sebuah kotak kaleng di atas meja belajar. Dia menemukannya kemarin saat sedang merapikan barang-barang. Kotak itu disembunyikan dengan baik di antara baju-baju.

Setelah menyisir rambut, Nara membuka tutupnya. Kotak itu berisi amplop-amplop kecil yang tersusun berantakan di dalamnya. Nama Sabrina, Lili, dan beberapa nama lain yang sudah nyaris dia lupakan. Jemarinya berhenti di atas satu amplop. Uang di dalamnya masih utuh. Bahkan tidak pernah sempat digunakan. Selama ini dia mengumpulkan semuanya untuk satu tujuan: pergi.

Nara meringis. Dadanya terasa berat meski hanya untuk menarik napas. Dia membuka gorden jendela dan melongok rumah Tante Kamila. Masih tak ada tanda-tanda kehidupan. Dia bersandar ke tembok sambil mengecek ponselnya. Padahal sudah seminggu berlalu. Tapi masih belum ada balasan dari Tante Kamila. Nara mengetikkan sesuatu di kolom chat bersama Tante Kamila. Tulis. Hapus. Tulis. Hapus. Nara menghela napas. Kehilangan setiap kalimat di kepalanya. Pada akhirnya, tak seperti janjinya, perempuan itu tak pernah kembali ke rumah sakit.

Nara memejam kuat. Sepertinya perselingkuhan Ibu dan Om Danu sudah terbongkar. Hati Nara seperti tersayat begitu menyadari bahwa dia tak akan pernah bertemu dengan Tante Kamila lagi.

Nara buru-buru menyambar tas sekolah dan kotak kalengnya.

“Kamu sarapan di sekolah aja,” ujar Ibu. Kedua tangannya penuh oleh barang-barang.

Sejak kemarin, Ibu masih sibuk menata barang ke kardus dan container.

Tanpa menanggapi ucapan Ibu, Nara langsung memakai sepatunya di teras. Sebelum beranjak, dia mengepalkan kedua tangan.

“Ibu tau Tante Kamila pergi ke mana?”

Dia melihat ke arah Ibu dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya meluap. Selain karena merindukan Tante Kamila, dia juga merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi. Bahunya bergetar.

“Aku nggak tau gimana perasaan Ibu. Tapi aku rasanya udah nggak sanggup lagi nanggung semuanya.” Nara berjongkok. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku benci terlahir di keluarga ini,” lirih Nara sambil terisak.

“Kamu boleh pergi kalau emang udah nggak mau tinggal sama Ibu.”

Nara mendongak. Tak percaya kalimat menyakitkan itu akhir keluar dari mulut Ibu.

“Tapi seperti yang kamu bilang. Anak seumuran kamu mau pergi ke mana?” Ucapan Ibu terdengar sangat tajam. Nara memukul dadanya keras. Berharap bisa menyadarkannya tentang bagaimana sifat asli perempuan itu selama ini.

Nara bangkit. Dia membalik badan sambil menyeka pipinya. Kini bukan hanya melangkah untuk berangkat ke sekolah. Namun dia bertekad untuk melepaskan diri sepenuhnya dari keluarga busuk ini.


***


Lihat selengkapnya