Nyala Kecil untuk Nara

Jati
Chapter #23

Perpisahan

Seolah sudah mengetahui hal yang ingin Nara bicarakan di taman belakang gedung sekolah, Devan hanya duduk diam dan menyibukkan diri dengan bermain game di ponselnya.

“Dev,” panggil Nara.

“Hmmm.” Devan menyahut tanpa mengalihkan fokusnya.

“Aku boleh minta akses akun instagram yang kamu pake buat unggah video Cella kemarin?”

Devan menoleh ragu. “Buat apa?”

“Aku mau minta maaf ke dia.”

“Ra! Mereka yang jahat sama kamu.” Devan duduk tegak menghadap ke Nara. “Dia nuduh kamu ngobat. Belum lagi soal simpanan om-om. Dia punya hak apa sampai segitunya sama kamu?” Nada bicara Devan meninggi. Nara menggigit bibir.

“Aku udah lelah, Dev. Selama ini aku melawan, bertahan, terus melawan. Sekarang aku mau berhenti.” Setetes air mata Nara jatuh. Rasanya seperti setiap inci tubuhnya perlahan retak. Devan mendengus dan memalingkan wajah.

“Aku udah kirim lewat chat.” Devan mengusap wajahnya kasar. “Ah sial!” Devan meninju bangku panjang sambil menggenggam erat ponselnya. Tangannya mengepal penuh amarah.

Nara terkejut. Tubuhnya menciut.

“Aku minta maaf, ya. Selama ini banyak repotin kamu.” Nara mengusap tangan Devan. Laki-laki itu menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan.

“Aku nggak marah sama kamu, Ra. Kamu nggak pernah merepotkan,” sahut Devan. Dia memasukkan ponselnya ke saku kemudian menatap Nara dengan tatapan yang entah. Nara hanya terdiam tak merespons ucapan Devan. Hanya air matanya yang terus mengalir di pipi.

“Jangan pernah minta putus, Ra. Kamu boleh minta apapun kecuali putus.”

Nara menggeleng lemah. Devan menatanya lama. Nara mengalihkan pandangan ke gerbang belakang. Suara anak-anak dari gedung sebelah terdengar jauh. 

“Kita masih muda. Kamu masih bisa ketemu orang lain selain aku. Sekarang kondisiku beneran rumit. Aku nggak bisa lanjutin hubungan kita, Dev.”

Air mata semakin membanjiri wajah Nara yang menangis tersedu-sedu. Setiap keping kenangan tentang Devan terus berputar di kepalanya. Dia mengingat semua yang sudah dilaluinya bersama Devan. Tapi Nara benar-benar sudah lelah. Dia tak memiliki cukup tenaga untuk memelihara perasaannya untuk Devan. Dia hanya ingin pergi jauh dan meninggalkan semuanya di belakang.

“Jangan hancur kayak aku, Dev.” Nara sesenggukan.

Devan tak membalas ucapan Nara. Namun rautnya yang semakin layu terlihat sangat sedih. Beberapa menit berlalu, Devan hanya menatap wajah Nara yang basah oleh air mata.

Nara meraih kedua tangan Devan dan meletakkan di dahinya. “Maafin aku. Maafin aku. Kamu berhak bahagia, Dev.”

Mata Devan membulat. Dia menarik tangannya dari genggaman Nara dan mencengkeram kedua bahu Nara.

“Ra! Jangan bilang kamu mau pergi ninggalin aku?”

Nara tak menyahut. Andai bisa, Nara memang ingin pergi selamanya. Dia menyerah.


***

Nara menyerahkan kotak kaleng kepada Cella sambil mengulurkan tangan. Cella memicingkan matanya. Terlihat bingung atas sikap Nara yang tak biasa.

“Ngapain lo?” bentak Cella.

Nara tertunduk dalam. Dia menarik kembali tangannya yang terulur.

“Gue minta maaf soal video yang di instagram. Barusan gue bikin klarifikasi buat bersihin nama lo. Bisa lo cek, ya.” Cella buru-buru merogoh ponselnya dari saku dan mengabaikan permintaan maaf Nara.

Nara menghela napas panjang. Menunggu Cella selesai memeriksa postingannya di instagram. Lili dan Sabrina merangsek bangku Cella dan ikut membaca klarifikasi yang Nara buat.


Hai, gue Nara yang kemarin unggah video Arcella Kanaya Putri, model dari agensi Qiel Entertainment dan menggiring narasi kalau dia ngebully gue di sekolah. Setelah postingan itu naik dan viral, gue tau Cella mengalami banyak kerugian. Gue pengen minta maaf yang sedalam-dalamnya. Kejadian yang sebenarnya bukan Cella membully gue. Tapi dia cuma bantu temannya yang bernama Lili dan Sabrina buat minta gue balikin uang mereka yang gue curi.

Lihat selengkapnya