Aroma kue yang baru keluar dari oven menyeruak hingga ke area depan bakery. Jumlah antrian yang sudah mengular membuat beberapa pengunjung yang baru datang menghela napas kecewa.
Nara berdiri menyilangkan tangan tak jauh dari antrian. Dia mengenakan baseball cap berwarna putih, membiarkan rambut panjangnya tergerai sesekali tertiup angin. Wajahnya dipenuhi senyum mengamati dari luar sosok perempuan paruh baya yang begitu sibuk melayani pengunjung di dalam bakery.
Nara memasukkan tangan ke saku loose pants-nya dan berjalan pelan mendekat ke pintu masuk. Beberapa pasang mata menatapnya tajam. Jelas sekali Nara tak akan selamat jika berani memotong antrian. Dia terkikik geli. Melambaikan tangannya semringah saat tatapan matanya dan Tante Kamila bertemu.
"Aku lewat pintu belakang, ya." Nara berbicara tanpa mengeluarkan suara. Hanya memberikan gestur menunjuk dirinya sendiri dan pintu belakang secara bergantian. Tante Kamila mengangguk diiringi acungan jempol.
Melewati beberapa antrian, Nara tersenyum sambil berjalan memutar ke belakang. Begitu pintu terbuka, hidungnya dimanjakan oleh aroma yang selalu membuatnya rindu. Dia menghirupnya dalam-dalam.
Pelukan Tante Kamila menubruknya keras.
"Gimana kabarnya, Sayang?" Tante Kamila menepuk-nepuk punggung Nara.
"Baik, Tante Sayang,” jawab Nara, melepaskan pelukan Tante Kamila dan mencium pipi perempuan itu.
"Udah mulai libur kuliahnya?"
Nara mengangguk penuh semangat. "Iya. Sebulan ini aku bisa bantu Tante di sini." Sorot matanya berbinar penuh energi kehidupan. Sungguh berbeda dengan sosoknya lima tahun yang lalu saat Nara hampir menyerah atas hidupnya.
***
Setelah Ayah mendatangi sekolahnya, Nara pulang ke rumah dan hanya mendapati bangunan kosong. Ibu dan semua barang-barangnya sudah berpindah tempat entah ke mana. Meninggalkan Nara yang mematung sendirian di depan lima kardus besar. Kemungkinan besar berisi barang-barang milik Nara.
Beberapa tetangganya ikut meringis ngilu. Menepuk-nepuk pundak Nara.
"Nggak ada saudara yang bisa ditelepon?"
"Coba hubungi keluarga lain. Tadi, sih memang ada mobil pick up yang angkutin barang-barang."
"Mau duduk di rumah Ibu dulu?"
Namun Nara hanya diam tak bergerak. Pada akhirnya, perempuan itu benar-benar meninggalkannya. Nara tersenyum sinis. Kehilangan kata-kata.
Seseorang menyentuh bahu Nara lembut. Dia menoleh kaget.