Air asin menusuk mata seperti pisau. Elias terhuyung di antara ombak, tubuhnya naik turun tanpa kendali, seolah laut sedang mempermainkannya. Tenggorokannya perih, setiap tarikan napas yang bercampur air asin, membuat dadanya seperti terbakar dari dalam.
Dalam gulungan ombak yang berusaha melahapnya, dengan sisa tenaga ia berusaha untuk tetap berada di permukaan. Ia akan bertahan, tidak akan menyerah begitu saja meski ia tahu kematiannya sudah didepan mata.
Elias masih bisa mendengar, atau mungkin hanya membayangkan, jeritan awak kapal yang karam bersamanya. Itu mungkin suara teman-temannya, yang entahlah sekarang ada di mana.
“Tali! Tali!”
“Tolong!”
Suara-suara itu berbaur dengan deru badai yang kini perlahan mereda, hanya menyisakan suara ombak yang berat dan berdebum.
Tapi ketika ia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Hanya potongan kayu, layar robek, dan gelap pekat yang tak berujung.
Tangannya meraih sesuatu, sepotong papan kapal. Ia memeluknya, membiarkan kayu itu menahan tubuhnya yang lemah. Udara malam yang dingin menggigit, membuat tulangnya bergetar.
“Aku bisa! Aku pasti bisa bertahan!” serunya pelan dengan suara bergetar. Ia terus mengulang kalimatnya itu, sambil berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya.
Laut tak lagi bergolak, tapi keheningannya lebih menakutkan daripada badai tadi. Bulan sesekali terselip di antara awan, menyalakan kilau pucat di permukaan air, memperlihatkan betapa kecil dirinya dibanding hamparan gelap tak bertepi itu.
“Masih hidup… aku masih hidup,” gumamnya serak, seolah dengan mengucapkannya keras-keras, ia bisa meyakinkan dirinya sendiri. Tapi suara itu segera tenggelam ditelan ombak, seakan laut sedang menertawakannya.
Elias mengeratkan pelukannya pada papan kayu ketika tiba-tiba saja ombak besar menggulung kearahnya. Membuat papap kayu yang menompang tubuhnya sedikit limbung, jika saja ia tidak sigap menyeimbangkan tubuhnya, ia akan tenggelam. Namanya akan berakhir ditengah laut yang entah ia sendiri tidak tahu dimana.
“Laut ini seperti ingin membunuhku,” gumamnya pelan. Ia terus berpegangan pada sebilah papan yang kini menjadi menompang tubuhnya.
“Tidak. Aku tidak mau mati di sini! Setidaknya jika aku selamat, aku bisa kembali ke rumahku. Memberikan salam perpisahan pada semua teman-temanku yang mati disini.”
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat wajah kawan-kawannya di kapal. Kapten Rowan dengan mata tajamnya. Bram si tukang masak yang selalu bercanda.
Luka di pelipisnya terasa mengalirkan darah hangat ke pipi, bercampur asin laut yang membuat perih. Elias menggertakkan gigi. Kalau ia selamat, apakah ada orang lain juga? Atau laut telah menelan semuanya?
“Seharusnya aku tidak melakukan hal yang bodoh itu!” Elias meremas kepalanya yang pusing karena benturan keras saat ia berusaha naik kepermukaan hingga menyebabkan luka di pelipisnya.