Nyanyian Dari Lautan

Rey Orphan
Chapter #2

2. Pasir Hitam

Kayu yang dipeluk Elias akhirnya menghantam sesuatu yang keras. Tubuhnya terhempas, membuatnya tersedak air asin sebelum akhirnya terdampar ke pasir. Ia terbatuk-batuk, memuntahkan ludah bercampur darah, paru-parunya berusaha merebut kembali udara segar disekitarnya.

Butir pasir menempel di wajahnya, dingin dan kasar. Elias berguling, membiarkan ombak terakhir menyapu punggungnya lalu mundur, meninggalkan jejak tubuhnya di atas pasir hitam basah. Ia terbaring lama, napasnya berat, telinganya berdengung oleh suara ombak yang berulang-ulang.

“Apa aku selamat?” gumamnya pelan, sembari menatap langit yang kini dipenuhi bintang. Bulan purnama bersinar terang, memantulkan cahayanya di riak air laut yang sesekali menyentuh ujung kakinya.

Elias masih berbaring telentang dihamparan pasir. Tubuhnya lelah, kepalanya sakit, bahkan untuk sekedar menggerakkan tangan pun sulit.

Badai itu benar-benar membuat fisiknya mengerahkan seluruh kemampuan, tapi ia bersyukur karena akhirnya ia berhasil melewati badai itu dan terdampar di Pulau yang entahlah, ia tidak tahu dan untuk sekarang ia tidak akan ambil pusing dimana ia terdampar.

Dengan prospek selamat dari badai besar, itu lebih baik daripada mati tenggelam di lautan luas. Namanya akan segera terlupakan begitu saja dari dunia.

Elias menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara segar. Menyeka wajah dari sisa air laut yang membuat lengket, dan menyentuh luka di pelipisnya. Ia mengembuskan napas lega karena luka itu tidak terlalu serius. Hanya robekan kecil yang akan segera sembuh bersama luka-luka lain di sekujur tubuhnya.

Ketika akhirnya ia berusaha bangkit, lututnya goyah. Pergelangan kaki kanannya terasa ngilu, entah karena terkilir atau menghantam sesuatu, ia tidak mengingatnya.

Elias menatap sekeliling. Bulan setengah bersinar di langit, menyoroti pantai asing itu. Pasirnya lebih gelap dari yang pernah ia lihat, hampir seperti abu. Di kejauhan, batu karang menjulang, tajam seperti gigi raksasa yang siap menelan siapa pun yang nekat mendekat.

Di balik garis pantai, hutan lebat berdiri pekat, batang-batang pohon seperti bayangan tinggi yang saling berdesakan. Angin malam menyusup dari celah daun, menghasilkan suara lirih seperti desahan panjang. Tidak ada cahaya, tidak ada api unggun, tidak ada tanda kehidupan.

Elias menekan pelipisnya yang masih berdarah, tubuhnya gemetar. Pulau kosong? Atau hanya terlihat kosong? Pikirannya melayang ke cerita para pelaut, tentang pulau-pulau yang dihuni roh laut, tentang pantai tempat jiwa-jiwa yang karam beristirahat.

Lihat selengkapnya