Nyanyian Dari Lautan

Rey Orphan
Chapter #3

3. Jejak yang Hilang

Baru sebentar rasanya matanya terlelap, Elias kembali terbangun. Tapi kali bukan karena serangan badai mematikan, melainkan karena mimpi buruk. Elias mengembuskan napas, mengusap wajahnya yang gusar.

Kejadian ditengah lautan itu terus menghantuinya, bahkan merasuk kedalam mimpinya. “Ayolah Elias, tenang," katanya pelan, sembari mengusap dada.

Jantungnya berdegup kencang, dan keringat mengucur deras di pelipisnya. Padahal angin kencang terus berhembus menusuk tulang.

Setetes air turun dari langit, membuat Elias mendongak. Awan hitam bergumpal, menutup langit malam, menghalangi bulan yang menjadi satu-satunya cahaya di Pulau itu.

Elias beranjak berdiri, ketika kilatan petir pertama mulai menyambar. Membuat terang diiring gemuruh memekakkan telinga.

Elias menyeret dirinya lebih jauh ke daratan, mencari sesuatu yang bisa dijadikan tempat bernaung, berteduh dari hujan yang sebentar lagi menderas.

Ia menemukan sebuah celah dangkal di antara batu karang, cukup untuk menahan angin laut dan melindunginya dari hujan. Di sana, ia kembali terjatuh, tangannya gemetar. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya.

“Dingin sekali.”

Angin kencang yang berhembus membuat udara semakin dingin. Ia memeluk tubuhnya, berusaha mencari kehangatan. Dan satu hal terlintas di kepalanya, ia butuh api. Tanpa api, tubuh basahnya akan membeku sebelum fajar tiba.

Ia meraba-raba pasir, lalu merangkak ke pinggir hutan, mengumpulkan ranting-ranting kering yang tergeletak di bawah pohon. Jari-jarinya luka, setiap sentuhan membuatnya meringis, tapi ia terus mengumpulkan kayu itu dan menumpuknya di celah batu.

Setelah dirasa cukup untuk membuat api unggun, ia kembali keluar dari celah batu, mengambil batu tajam dari pantai, dan mulai mencoba memercikkan api.

Percikan pertama gagal. Kedua, ketiga, sama saja. Elias menggertakkan gigi, mengingat wajah Kapten Rowan yang sering mengejeknya karena tidak pernah bisa bersabar.

“Api butuh kau beri napas, bukan amarah,” suara Kapten terngiang jelas di kepalanya. Seakan-akan ia benar-benar sedang diceramahi oleh kaptennya itu. Ia bahkan bisa mengingat dengan jelas, bagaimana Kapten Rowan terkekeh melihatnya yang tidak sabaran.

Ia mencoba lagi. Percikan kecil akhirnya menyulut serat kering. Elias menunduk, meniup perlahan, matanya tak berkedip. Berhenti sejenak karena matanya perih akibat asap yang mulai tebal. Lalu kembali meniup hingga api kecil menyala, kemudian membesar, menelan ranting. Ia mengangkat tangannya, menyentuh cahaya hangat itu, seakan ingin meyakinkan diri bahwa ia masih hidup.

Tapi kehangatan itu tak menghapus bayangan di kepalanya. Ingatan tentang malam itu datang bertubi. Layar yang robek, air yang masuk ke kapal, wajah Bram, temannya, yang terakhir kali ia lihat sebelum dihempas ombak.

Elias menggenggam kepalanya, rasa bersalah menusuk seperti belati. Kalau saja aku lebih cepat mengikat tali… kalau saja aku—

“Tidak!” Elias berseru, mengepalkan kedua tangannya.

Lihat selengkapnya