Api kecil di celah karang masih menyala, meski tinggal arang dan ranting patah. Elias duduk meringkuk di sampingnya, tubuhnya setengah kering, matanya tetap terpaku pada laut.
Malam berjalan pelan, bulan naik semakin tinggi, dan angin laut menusuk kulitnya dengan dingin basah.
Ia tidak bisa melupakan suara itu. Nyanyian samar yang muncul dari kegelapan, menelusup ke dadanya, lalu lenyap begitu saja.
Itu bukan halusinasi. Tidak mungkin. Ada sesuatu di sana, ia yakin.
Ketika angin berhenti sejenak, keheningan terasa menekan. Ia bisa mendengar bunyi kecil, air menetes dari rambutnya sendiri, dengungan serangga dari hutan, bunyi pasir berderak setiap kali ia menggeser tubuh. Semua terdengar terlalu jelas.
Dan kemudian, suara itu kembali.
Nada panjang, lembut, bergetar di udara. Tidak ada kata, hanya melodi yang mengalun seperti ombak itu sendiri. Elias menegakkan punggung, napasnya tercekat. Api di depannya mendesis, seperti menunduk kalah pada lagu itu.
Ia berdiri perlahan, seolah takut membuat suara sekecil apa pun. Matanya menatap lurus ke arah laut. Ombak bergulung tenang, bulan memantulkan kilau keperakan di permukaan air. Dan di tengah kilau itu, suara seolah semakin dekat, semakin nyata.
Elias melangkah.
Pasir hitam dingin merayap di telapak kakinya. Ia berjalan ke tepi air, lalu membiarkan ombak kecil menyentuh mata kaki. Jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu yang aneh dengan suara itu—bukan hanya indah, tapi juga mendesak. Seperti tangan tak terlihat yang mendorongnya maju.
Ia menelan ludah. “Siapa… di sana?” suaranya serak, terhempas ombak.
Lagu itu tidak menjawab, hanya berubah sedikit nadanya. Tinggi rendahnya seperti gelombang yang mengatur napasnya sendiri.
Elias merasa tubuhnya merespons, seakan lagu itu menyatu dengan detak jantungnya. Ia maju lagi, air laut kini mencapai betisnya.
Suara dalam kepalanya berteriak agar ia berhenti. Bahayanya jelas. Tapi ada bagian lain dari dirinya—bagian yang haus, lelah, kosong—yang ingin sekali masuk lebih dalam, mencari asal suara itu.
“Kalau aku gila…” gumamnya pelan, “biarlah aku gila sepenuhnya.”
Ia terus melangkah, ombak kini naik ke lutut. Lagu itu semakin indah, semakin dekat. Ia bisa merasakannya di tulang, di dada, bahkan di darahnya.
Dan saat itu, di kejauhan, di atas sebuah batu karang yang terhantam cahaya bulan, ia melihat sesuatu.
Siluet seseorang duduk di sana. Rambut panjang berkilau memantulkan cahaya. Tubuh ramping membungkuk sedikit, seperti sedang bernyanyi ke arah laut.
Elias membeku. Matanya melebar. Ia tahu tidak ada manusia yang bisa duduk begitu santai di karang setengah tenggelam itu dengan terjangan ombak yang siap menghempas kapan saja.
Tapi ia juga tahu, ia sedang menatap sosok yang bersuara.
Elias berdiri setengah tenggelam di ombak, dadanya naik turun, matanya terpaku pada batu karang yang berkilau di bawah bulan.
Siluet itu semakin jelas, seorang perempuan. Rambutnya panjang, jatuh seperti aliran air, berkilau setiap kali angin laut meniupnya. Ia duduk di atas batu, tubuhnya condong sedikit ke depan, seakan sedang menyanyi langsung ke permukaan laut.
Nyanyian itu… nyanyian itu lebih jelas sekarang. Tidak lagi samar, tapi nyata, hidup, bergetar di udara. Elias bisa mendengar naik-turunnya nada, lengkung lembut di setiap melodi. Tidak ada kata, hanya suara murni, seakan terbuat dari laut itu sendiri.
Elias melangkah lebih jauh, hingga ombak mencapai pahanya. Matanya tak berkedip. Ada sesuatu yang aneh dengan tubuh perempuan itu. Gerakannya terlalu halus, terlalu mengalir, seperti bukan manusia.
Ia menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas.
Dan saat bulan terlepas dari awan, cahaya jatuh tepat di batu karang itu. Elias menghirup napas tajam.
Kulit perempuan itu pucat, hampir berkilau, seperti mutiara. Rambutnya tergerai liar, tapi setiap helai tampak berkilau seakan basah permanen. Dan di bawah pinggangnya—bukan kaki. Elias tidak bisa melihat jelas, tapi ia yakin ia melihat kilatan sisik.
Sisik yang memantulkan cahaya bulan.