Nyanyian Dari Lautan

Rey Orphan
Chapter #5

5. Wajah di Permukaan

Cahaya pertama matahari muncul di balik ufuk timur, merah keemasan menyelinap di permukaan laut yang bergelombang kecil.

Elias terbangun dengan tubuh kaku, punggungnya terasa sakit karena tidur di atas pasir yang dingin dan batu keras. Napasnya masih berat, dada naik turun seakan mimpi buruk semalam masih menempel di paru-parunya.

Ia terduduk, rambutnya kusut, kulitnya lengket oleh garam. Matanya masih setengah terpejam, tapi suara ombak telah mengisi telinganya dengan irama lambat yang menenangkan sekaligus asing. Untuk sesaat, ia hampir merasa semuanya hanyalah mimpi buruk—kapal karam, badai, nyanyian samar.

Namun, ketika ia menoleh ke laut, bulu kuduknya kembali meremang.

Permukaan air itu tampak terlalu tenang, terlalu polos, seolah sengaja menyembunyikan sesuatu. Elias teringat nyanyian semalam, indah sekaligus menakutkan, yang hampir menyeretnya masuk ke laut tanpa ia sadari. Ia memeluk dirinya sendiri, gemetar meski matahari pagi mulai memberi kehangatan.

Itu bukan mimpi. Ia yakin. Ia benar-benar melihat sesuatu di karang. Sesuatu yang… bukan manusia.

Ia bangkit perlahan, lututnya masih goyah. Tubuhnya protes dengan rasa sakit di seluruh sendinya, tapi rasa penasaran lebih kuat daripada rasa lelah. Ia berjalan menyusuri garis pantai, pasir hitam basah menempel di telapak kakinya, meninggalkan jejak yang segera dihapus ombak.

Angin pagi membawa aroma laut yang lebih lembut daripada malam sebelumnya. Burung camar melintas, sesekali menukik untuk mencari ikan. Kehidupan tampak normal, alami, tapi itu justru membuat keanehan malam kemarin semakin nyata.

Saat ia melewati sebuah batu karang yang setengah terkubur pasir, sesuatu berkilau di tanah. Elias berhenti. Ia berjongkok, jemarinya menyentuh benda kecil yang setengah tertanam di pasir.

Saat ia menariknya keluar, dahinya mengerut menatap sebuah sisik aneh di tangannya.

Kecil, tipis, berwarna biru kehijauan. Saat terkena sinar matahari, sisik itu memantulkan cahaya seperti kaca. Tapi berbeda dengan sisik ikan biasa, sisik ini terlalu halus, terlalu indah, seakan dibuat dari mutiara cair.

Elias menatapnya lama, jantungnya berdentum. Ia menggosok sisik itu dengan ibu jarinya. Licin, dingin, tapi juga terasa hidup.

Lalu ia menoleh ke laut. Ombak kecil datang bergantian, seolah menjawab pertanyaannya dengan tenang. “Ya, yang kau lihat semalam itu nyata.”

Elias menelan ludah, rasa asin masih menempel di mulutnya. Ia mengepalkan sisik itu erat-erat di tangannya, seperti bukti bahwa ia tidak kehilangan akal.

Tapi bukti itu juga berarti sesuatu yang lain, bahwa ia tidak sendirian di pulau ini.


***


Hari bergulir lambat di pulau itu. Elias menghabiskan siang dengan mencari makanan seadanya. Kelapa muda yang jatuh, kerang-kerang kecil di antara batu karang atau apapun asalkan bisa dimakan.

Namun pikirannya tak pernah lepas dari benda kecil yang kini disembunyikannya di saku celananya. Sisik biru kehijauan yang berkilau setiap kali cahaya menembusnya.

Sesekali, ia meraba benda itu, seakan memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dan setiap kali kulitnya menyentuh sisik itu, sebuah ketidaktenangan merayap dalam dadanya.

Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah oranye lembut, lalu perlahan menyala merah keemasan, menciptakan jalur cahaya panjang di permukaan laut. Ombak tampak lebih berkilau, seolah perhiasan cair yang berkilat setiap kali bergerak.

Elias duduk di atas batu besar, tubuhnya lelah, tapi telinganya terus waspada. Angin senja membawa suara burung yang kembali ke sarang. Api unggunnya yang kecil sudah padam, hanya meninggalkan arang hitam.

Dan tiba-tiba, suara itu datang lagi.

Sebuah nada tunggal, panjang, lembut. Mengalun dari arah laut.

Lihat selengkapnya