Nyanyian di Bawah Matahari Siam

Damarani
Chapter #1

Senja yang makin merona

BAB I

 

Mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya saat itu. Namun suasananya berubah dari sunyi menjadi berisik. Dibalik jendela dekat balkon mewah itu, sang Nyonya menelusuri suara ramai di tengah keheningan dan suara nya yang khas dikenali oleh sang Nyonya pemilik Mansion 78 Orchard.

 

Mansion ini berdiri jauh dari jalan utama, tersembunyi di balik deretan pohon palem tinggi dan pagar batu berlumut. Dari luar, hanya terlihat gerbang besi hitam dengan ukiran emas bergaya Thailand klasik tertutup rapat, seolah tidak ingin dilihat siapa pun.

 

Begitu gerbang terbuka, jalan panjang berlapis batu membawa masuk ke halaman luas yang sunyi. Lampu taman menyala redup.

Kolam refleksi membentang di depan bangunan utama, airnya tenang seperti kaca, memantulkan cahaya lampu kuning keemasan.

Saat masuk, udara dingin langsung menyambut. Lantai marmer putih mengkilap. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal besar. Di ruang utama, sofa beludru gelap, meja kayu hitam mengkilap, lukisan wanita Thailand tua dengan tatapan anggun nan elegan. Semuanya terasa mahal. Tapi juga dingin.

 

    Namun suasana yang tenang ini buyar karena terusik dari lantai bawah menembus dinding lantai atas. Seorang pelayan mengetuk kamar Sang Nyonya yang dipanggil Nyonya Song Khra. Sang Nyonya pun membuka pintu dan bertanya perihal kegaduhan yang dialami di lantai bawah. Pelayan membisikan,”tamu seperti biasanya,”ujarnya. Song Khra pun mengangguk pelan seolah mengerti. Dia paham bahwa yang datang pasti ingin meminta pertolongan nya lagi setelah sekian waktu berkali-kali keponakan kesayangannya yaitu Aran Kiet memutuskan ingin cerai dari istrinya. 

 

    Song Khra perlahan berjalan menyusuri lorong rumahnya menuju tangga menukik menurun sambil memperhatikan tiap sudut ruangan rumahnya. Tak lupa saat ia berjalan memikirkan jawaban yang akan disiapkan pada istri keponakannya. Tepat di hadapan istri keponakannya itu, Song Khra tak lupa mengucapkan selamat pagi. Seolah khawatir dengan keadaan seorang wanita yang dihadapannya itu, Song Khra menghapus air mata wanita di hadapannya dengan tisu yang dipintanya dari seorang pelayan di sampingnya. Mengusap air mata yang keluar dari mata wanita tersebut dan memohon agar jangan mengeluarkan terlalu banyak air mata di hadapan Song Khra. Karena di lubuk hatinya, Song Khra tak suka jika ada orang yang mengemis dengan air mata. Hal inilah yang mengantarkan Song Khra menjadi seorang Nyonya besar dibalik bisnis dan kekayaan suaminya hingga saat ini. Bagi nya wanita cukup bersedih sekejap saja dan mencari siasat untuk hidup di esok hari atau mengamankan posisinya.

 

    Sedangkan ini sedari awal sudah beberapa kali menghadap Song Khra dengan menjual kesedihannya dan berharap pada diri nya tentang pernikahan yang tidak akan selamat. Hingga membuat Song Khra bosan untuk menolong. Sedangkan lelaki itu, ya suami dari wanita tersebut alias keponakan Song Khra sudah tak menginginkan wanita itu lagi.

“Maafkan aku tante, aku datang menghadap tante karena Aran sudah ingin mengakhiri semuanya!” Ujar wanita tersebut sambil mengiba.

“Aku tahu sifat keponakan ku, aku tahu masa kecilnya. Song Khra mulai bertutur dengan hati-hati.

”Jika ia putuskan untuk tidak, maka akan tetap seperti itu! Bagaimana aku bisa melawan keinginannya jika dia menginginkan seperti itu?!” Ujar Song Khra.

Wanita di hadapan Song Khra tetap merajuk dan malah semakin kencang menangis. Seolah mainannya hilang maka harus diganti dan menuntut pada orang lain yang lebih tua darinya untuk bertanggung jawab.

 

Song Khra berpikir akan sebab akibat jika wanita yang dihadapannya itu sudah tak tahu diri lagi dan bakalan menjadikan Song Khra sebagai pijakan bahkan orang diharapkan oleh wanita tersebut.

 

    Tak menyangka jika wanita tersebut menjadi tak berdaya di hadapannya. Wajah dan tutur kata yang lembut, wanita yang dikenal independen dan mandiri kini terseok dan bersimpuh di hadapan Song Khra. Keponakannya yang begitu lebih muda tertaut perbedaan umur yang jauh tujuh tahun di bawah umur wanita tersebut. Bisa-bisanya Aran menggagalkan pernikahan dan enggan bertemu dengan wanita tersebut.

 

    Dulu Aran sebagai keponakan Song Khra sangat memuja wanita tersebut. Ayahnya selalu mengadu pada Song Khra agar Aran tak menikahi wanita itu. Entah a0pa yang membuat adiknya enggan untuk mempunyai menantu yang dicintai Aran, sedangkan saat ini keadaannya berbalik dan Aran ingin mengakhiri ini semuanya tanpa ada konfirmasi pada istrinya. Malah membuat tantenya ini beserta suami Song Khra kelabakan sendiri.

 

    Terkadang hal ini membuat Song Khra kesal dan kecewa pada keponakannya itu. Hingga hampir memutuskan hubungan kekerabatan dengan ayahnya. Namun Song Khra masih menyayangi Aran sebagai keponakan yang manja dan sering ia asuh sebelum mempunyai putra. Song Khra menganggap Aran seperti anaknya sebelum Randy lahir. Begitu pula Aran menganggap Song Khra sebagai ibu kedua.

 

Empat tahun lalu tak lupa Song Khra memberi nasehat layaknya seorang ibu yang sayang pada putranya perihal memastikan dengan mantap bahwa wanita tersebut adalah wanita pilihannya. Begitu juga dengan segala kekurangan dan risiko yang akan terjadi di masa depan. Namun sekarang malah ia tumpahkan pada pihak Song Khra dan suaminya, seolah keponakannya itu memuntahkan kotoran yang orang lain berikan dilimpahkan pada Song Khra dan suaminya.

 

    Anehnya wanita tersebut selalu tak bergeming atau takkan pergi jika Song Khra belum memastikan dan menjanjikan bahwa semuanya dan permintaan wanita tersebut baik-baik saja. Dia masih bersimpuh di lantai dan masih bertahan dengan tangisannya yang kini mulai melemah. Song Khra langsung mengajak wanita tersebut untuk duduk di kursi ruang tengah dan segera memanggil pelayan untuk menyajikan minuman untuk tamu tersebut. Begitu pun Song Khra meminta ijin untuk segera melipir dan menelepon keponakannya yaitu Aran.

 

Terdengar suara dering nada memanggil Aran namun kedua kalinya tidak juga diangkat. Pas ketiga kalinya ada suara dari jauh sana.

“Hallo Tante, ada apa?” Ujar Aran

“Kamu sekarang dimana? Ada istri mu datang ke rumah Tante. Tante mau konfirmasi tentang hubungan kalian.”Ujar Song Khra dengan kesal.

“Tante, Aku sedang ada di Dubai, ada acara klien ku,”jawab Aran dengan singkat. Seolah malas dan mengabaikan urusan istrinya.

“Tante ingin memastikan hubungan kalian, ini sudah kesekian kalinya Tante dan Om kelabakan untuk mengurus rumah tangga kalian yang bahkan tak ada hubungannya dengan Tante mu ini!” Tegas Song Khra dengan nada kesal.

“Tante nanti akan ku selesaikan usai urusan ku di Dubai tuntas dan segera pulang!” Aran pun sedikit kesal dan mengakhiri segera telpon dari Tantenya.

 

Song Khra mendengus dengan kencang dan sangat kesal akan urusan rumah tangga keponakannya yang bahkan tak ada sangkut paut dengan dirinya. Kenapa harus istrinya yang datang ke rumah Song Khra? Kenapa juga istri dari keponakannya itu selalu memaksa dengan mengemis kesedihan agar dikasihani? Dan yang terakhir Aran yang manja seolah tidak gentle dan tak mau menyelesaikan urusan rumah tangganya bahkan dilimpahkan pada orang tuanya lalu dilempar pada Song Khra dan suaminya. Song Khra menurunkan ponsel perlahan. Nafasnya berat, dadanya sesak oleh kemuakan yang tak lagi bisa disembunyikan.

 

Ia benci kelemahan. Ia benci ketergantungan. Dan yang paling ia benci adalah ketika orang lain menjadikan dirinya tempat pelarian dari tanggung jawab.

 

Namun di balik semua itu, ada satu kenyataan yang tak bisa ia tolak.

 

Aran adalah anak yang pernah ia anggap sebagai miliknya sendiri.

 

Sebelum Randy lahir, Aran adalah harapan, pelipur, dan bayangan anak laki-laki yang lama ia nantikan. Ia membesarkannya, menasehatinya, mencintainya seperti darah dagingnya sendiri.

 

Dan kini…

 

Anak itu tumbuh menjadi pria yang melarikan diri dari hidupnya sendiri.

 

Song Khra menutup mata sejenak.

 

Di tengah kekuasaan, kekayaan, dan citra yang harus ia jaga sebagai istri seorang tokoh besar, ternyata ada satu hal yang tak pernah bisa ia kendalikan,

 

manusia yang ia besarkan dengan tangannya sendiri.

 

Saat ini, Song Khra berdiri di tengah pusaran kehidupan yang menuntut ketenangan sekaligus ketegasan. Ia bukan sekadar seorang istri, ia adalah penjaga citra, pelindung reputasi, dan bayangan yang menopang nama besar suaminya, juga seorang bangsawan berpengaruh di pemerintahan dengan pengaruh luas serta sebagai pemilik kerajaan media dan layar televisi. Setiap langkahnya harus terukur, setiap keputusan harus dipertimbangkan, karena satu kesalahan kecil dapat meretakkan bangunan kepercayaan yang telah lama mereka dirikan.

 

Di saat yang bersamaan, ia tengah menyiapkan Randy sang putra yang akhirnya ia miliki setelah penantian panjang untuk melangkah ke posisi yang lebih tinggi, menggantikan peran ayahnya kelak. Pernikahan Randy pun sudah di ambang waktu, menuntut perhatian yang tak sedikit, penuh dengan perhitungan sosial, aliansi, dan citra yang harus tetap sempurna di mata publik.

 

Di tengah semua itu, bagaimana mungkin ia masih harus terseret dalam kerumitan rumah tangga keponakannya?

Namun, perasaan tidak pernah berjalan sejalan dengan logika.

Aran… adalah pengecualian yang tak pernah benar-benar bisa ia lepaskan.

 

Sebelum Randy hadir dalam hidupnya, Song Khra telah lama menanti seorang putra dalam penantian yang sunyi, penuh doa yang tak selalu terjawab. Dalam kekosongan itu, Aran datang sebagai pengganti yang tak pernah ia rencanakan, namun perlahan mengisi ruang yang selama ini hampa. Ia merawatnya, membesarkannya dengan perhatian yang nyaris tak berbeda dari seorang ibu kepada anaknya sendiri.

 

Aran bukan sekadar keponakan.

 

Ia adalah bayangan dari harapan yang pernah tertunda.

 

Sebagai satu-satunya keponakan laki-laki dari adiknya, Bhuyan Rattanapong, yang selalu ia panggil dengan akrab sebagai Bhuy, Aran menjadi pusat kasih sayang yang tak terbagi. Bahkan dahulu, hubungan Song Khra dengan adiknya dipenuhi candaan, ejekan ringan, dan dinamika sederhana yang terasa begitu jauh dari kehidupan mereka sekarang.

 

Siapa sangka…

 

Dua bersaudara yang pernah saling menggoda dalam kesederhanaan itu kini berdiri di puncak kehidupan dikelilingi kekuasaan, kekayaan, dan tanggung jawab yang tak lagi ringan.

 

Dan di antara semua pencapaian itu, ada satu hal yang tetap sama.

 

Ikatan yang tak pernah benar-benar bisa dilepaskan, seberapa pun rumit konsekuensinya.

 

******

 

Dahulu, ayah Song Khra dan Bhuy hanyalah seorang pegawai di perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pengelolaan listrik. Hidupnya sederhana, berjalan dalam ritme yang nyaris tak berubah dari hari ke hari. Sementara itu, ibu mereka adalah seorang aparatur sipil negara yang menjalani kehidupan dengan tenang, bersahaja, dan tanpa gemerlap.

Lihat selengkapnya