BAB III
Saat semua tawa itu menjelma menjadi luka dimana ketika Chan berdiri diam di tengah olokan teman-teman sekolahnya, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak lagi mencari tempat di antara keramaian. Ia tidak lagi berharap pada pertemanan yang rapuh. Perlahan, ia menarik diri, menjauh dari dunia yang terasa terlalu bising dan kejam bagi seorang anak seusianya.
Sejak itu, Chan lebih memilih berada di dekat adiknya yakni, Anong. Bahkan, dalam diamnya yang paling dalam, ia pernah berpikir jika Anong tidak pernah terlahir, mungkin ia akan belajar berteman dengan angin. Dengan sesuatu yang tak akan menghakimi, tak akan menertawakan, tak akan melukai.
Ia menjadi anak yang banyak diam. Bukan karena tak memiliki suara, melainkan karena ia telah belajar bahwa tidak semua kata layak diucapkan kepada dunia yang gemar menyalah artikan. Semua luka yang ia terima, ia simpan sendiri mengendap perlahan, menjadi bagian dari dirinya yang tak terlihat, namun terus terasa.
Anehnya, di antara semua kemungkinan rasa sakit, Chan justru memilih satu yang paling dekat yaitu lebih baik dilukai oleh adiknya sendiri yaitu, Anong. Karena luka yang ini berbeda sekali. Jika mereka bertengkar, tentang hal-hal kecil seperti pakaian atau makanan, Anong memang bisa marah, merajuk, bahkan mengucapkan kalimat dan makian kasar. Tetapi tak pernah sekali pun ia merendahkan Chan hingga terluka. Tak pernah ia menjadikan kakaknya sebagai sesuatu yang hina.
Karena jauh di dalam dirinya, Anong tahu.
Ia tahu bahwa kakaknya telah menjadi pelindungnya sejak kecil. Ia tahu bahwa di balik sikap diam Chan, ada pengorbanan yang tak pernah diminta untuk dipuji.
Maka kemarahannya hanya sebatas luapan emosi sesaat, tajam di permukaan, namun tak pernah benar-benar melukai layaknya ke inti bumi. Bahkan, dalam momen-momen kecil yang nyaris tak terlihat, kasih sayang itu tetap ada. Ketika Anong mendapatkan hadiah sederhana dari teman sebayanya, atau sekadar oleh-oleh kecil yang ia sukai, sering kali benda itu berakhir di tangan Chan sebagai bentuk pemberian yang polos, tanpa perhitungan.
Bagi Anong, Chan adalah segalanya. Ia adalah tempat bersandar, pelindung, sekaligus pahlawan yang tak pernah ia sebutkan dengan kata-kata. Meski begitu, di balik kekaguman itu, terselip pula rasa iri yang belum sepenuhnya ia pahami. Dalam pikirannya yang masih sederhana, ia melihat Chan sebagai seseorang yang mudah mendapatkan uang, cukup dengan bernyanyi, cukup dengan berdiri di panggung.
Ia tidak melihat lelahnya.
Tidak melihat luka yang tersembunyi.
Karena bagi Anong, dunia masih sesederhana dua hal yakni, bermain dan jajan.
Kesenangan kecil itu menjadi pusat dari hidupnya,kecuali satu hal yang tidak bisa ia hindari yaitu prestasi akademik. Di situlah tekanan mulai mengambil bentuk. Ayah dan ibunya, yang tak ingin masa depan anak bungsunya berjalan seperti Chan, menaruh harapan yang lebih tinggi. Mereka ingin Anong menjadi lebih pintar, lebih berhasil, lebih “baik” dalam ukuran yang mereka yakini.
Dan Anong mampu menjawabnya.
Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, berprestasi, melampaui kakaknya dalam banyak hal di sekolah.
Berbeda dengan Chan.
Di usia yang seharusnya sudah berada di tingkat tertinggi sekolah dasar, ia justru tertinggal satu langkah. Seharusnya ia berada di Prathom enam, namun kenyataan menahannya di Prathom lima, sebuah keterlambatan yang tidak lahir dari kemalasan semata, melainkan dari beban hidup yang terlalu berat untuk dipikul seorang anak.
Ia pernah hampir tertinggal lebih jauh.
Namun seorang guru, teman ayahnya datang sebagai penolong dalam diam. Dengan kesabaran dan ketegasan, guru itu membantu Chan mengejar ketertinggalannya, membimbingnya agar tetap dapat melanjutkan langkah, meski tidak secepat yang lain.
Dan kini, di titik itu, Chan berdiri.
Di antara masa kecil yang terpotong, tanggung jawab yang terlalu dini, dan luka-luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh.
Namun ia tetap bertahan.
Karena dalam hidupnya, menyerah bukanlah pilihan
meski dunia berkali-kali memberinya alasan untuk melakukannya.
******
Sejak kejadian itu, jalan pulang tak lagi sekadar perjalanan singkat bagi Chan. Ia bukan lagi seorang anak yang melangkah keluar dengan kaki kecilnya lalu kembali ke rumah, melainkan kini merupakan jejak yang dipenuhi kewaspadaan. Setiap sudut jalan terasa menyimpan kemungkinan—kemungkinan akan munculnya segerombolan anak lelaki yang gemar menjatuhkan harga dirinya dengan tawa yang tajam. Maka, ia tak lagi berani pulang sendiri.
Di sampingnya, Anong berjalan.
Kecil, namun tegak.
Bagi Chan, adiknya adalah benteng yang tak terduga tubuhnya mungkin belum tinggi, bahunya mungkin belum kuat, tetapi keberaniannya melampaui apa yang dimiliki Chan. Di setiap perjalanan pulang, Anong seolah berdiri di garis depan, menjadi garda yang menghadang dunia yang terlalu keras bagi kakaknya.
Beberapa kali mereka terjatuh bersama, tersandung batu, terpeleset tanah basah, namun selalu diakhiri dengan tawa kecil yang dipaksakan, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya masih baik-baik saja. Bahkan dalam momen genting, Anong tak ragu mengangkat batu kecil dari tanah, lalu melemparkannya satu per satu ke arah mereka yang mengejar, dengan nyali yang menyala di matanya.
Namun Chan tahu, perlindungan seperti itu tidak akan selalu ada.
Ada hari-hari ketika Anong tak bisa berjalan di sisinya ketika tubuh kecil itu terbaring lemah oleh sakit, seperti dua hari terakhir yang terasa begitu panjang. Dan Chan tahu persis, penyakit itu bukan semata takdir, melainkan akibat dari keputusannya sendiri.
Hari itu, ia terlalu terburu-buru.
Ia ingin cepat sampai di rumah, ingin menghindari sesuatu yang bahkan belum tentu datang. Hujan turun deras, namun ia tetap memaksa langkah. Ia menarik Anong bersamanya, menembus dingin yang menggigit. Dan dari situlah musibah bermula Anong jatuh sakit, tak mampu bersekolah, meninggalkan Chan sendirian menghadapi apa yang selama ini ia hindari.
Dan benar saja.
Tanpa tameng, tanpa benteng, Chan kembali menjadi sasaran. Gerombolan anak lelaki itu datang lagi dengan wajah yang sama, tawa yang sama, dan kekejaman yang semakin berani. Di sekolah, mereka adalah anak-anak yang tampak sopan, rapi, dan tak mencurigakan. Namun begitu gerbang sekolah tertutup, wajah lain muncul wajah yang membuat Chan membenci hidupnya sendiri.
Di dalam hatinya, sesuatu mulai berubah.
Ia tak hanya merasa takut ia mulai menyimpan dendam.
Satu per satu wajah mereka ia ingat. Ia ukir dalam benaknya, seolah suatu hari nanti ia akan kembali, bukan sebagai anak yang lemah, melainkan sebagai seseorang yang mampu membalas segala penghinaan itu.
Dan di titik paling sunyi dari batinnya, sebuah keputusan perlahan terbentuk.
Ia ingin berhenti.
Berhenti menjadi penyanyi luk thung.
Bukan untuk sementara, melainkan untuk selamanya.
Karena baginya, suara yang selama ini menjadi harapan justru telah berubah menjadi alasan orang-orang merendahkannya.
Namun kehidupan belum selesai mengujinya.
Hari itu, ketika ia mencoba berjalan lebih cepat, mereka mengepungnya. Beberapa tangan mencengkeram tubuhnya menahan kedua tangannya, mengunci langkah kakinya. Ia tak lagi bebas bergerak. Di hadapannya, berdiri seseorang yang paling ia kenal teman sekelasnya sendiri.
Wajah itu.
Wajah yang dulu biasa, kini menjadi sesuatu yang paling ia benci.
Di tangan anak itu, ada sesuatu yang membuat dada Chan sesak kotoran yang diambil entah dari mana, digenggam tanpa jijik, seolah itu hanyalah alat untuk mempermalukan.
Anak itu mendekat.
Perlahan.
Senyumnya tipis, namun penuh kemenangan.
Chan tidak melawan.
Tubuhnya diam, seolah menyerah pada keadaan. Namun di dalam dirinya, badai mengamuk. Amarah, hinaan, luka, dan dendam bercampur menjadi satu, membakar dadanya hingga nyaris tak tertahankan.
Dan akhirnya
suaranya pecah.
Ia berteriak.
Memaki.
Menghujani mereka dengan kata-kata yang lahir dari luka terdalamnya, kata-kata yang mungkin tak mampu melukai mereka, tetapi cukup untuk menyatakan bahwa ia masih hidup, masih memiliki harga diri, meski dunia telah berusaha merenggutnya.
Di tengah kerumunan itu, Chan berdiri,
bukan sebagai pemenang,
tetapi sebagai seseorang yang menolak untuk sepenuhnya kalah.
Di tengah riuh tawa yang pecah tanpa belas, ketika suara anak-anak lelaki itu berbaur menjadi ejekan yang menusuk, tiba-tiba sesuatu bergerak dari arah barat dari balik semak-semak yang rimbun dan nyaris tak tersentuh. Suara derap langkah terdengar pelan, namun tegas, seolah membawa maksud yang tak bisa ditawar.
Daun-daun tersibak.
Dari sela rimbunan itu, muncul sepasang kaki panjang dan kurus, melangkah keluar perlahan. Sosoknya tinggi, tubuhnya ramping, dengan kulit yang matang oleh sengatan matahari. Wajahnya masih muda, namun ada ketegasan yang tak biasa bagi usianya seolah hidup telah mengajarinya banyak hal lebih cepat dari yang seharusnya.
Di kedua tangannya, ia menggenggam segumpal rumput hijau.
Tanpa berkata banyak, ia melemparkannya ke arah gerombolan anak lelaki itu gerakan sederhana, namun cukup untuk menarik perhatian mereka.
“Pergi… husss… pergi!” serunya lantang, suaranya keras dan tajam, seperti seseorang yang mengusir sesuatu yang tak diinginkan.
Nada itu bukan sekadar perintah melainkan peringatan.
Tak berhenti di situ, tangannya kembali bergerak. Kali ini, beberapa batu kerikil ia lemparkan dengan cekatan. Batu-batu kecil itu melayang cepat, cukup untuk mengejutkan, bahkan menyakitkan. Tawa yang tadi menggema perlahan berubah menjadi kepanikan. Anak-anak lelaki itu saling berpandangan, lalu berhamburan lari tanpa arah, meninggalkan medan kecil yang sebelumnya mereka kuasai dengan sombong.
Dalam sekejap, suasana berubah.
Sunyi.
Hanya tersisa Chan, terbaring lemah di tanah, dan pemuda tinggi kurus yang kini berdiri tak jauh darinya.
Pemuda itu melangkah mendekat. Ia menunduk, menatap Chan dengan mata yang tajam namun tak mengancam. Lalu, dengan gerakan sederhana, ia mengulurkan tangan.