Sejak percakapan empat mata antara Aof dan ayah mereka tempo hari, sesuatu yang selalu nampak di mata perlahan memudar. Aof menghilang bukan sekadar dari pandangan, tetapi juga dari keseharian yang dulu terasa hangat dan utuh. Sosok yang selama ini menjadi penjemput setia di depan gerbang sekolah, pelindung diam yang selalu hadir tanpa diminta, kini seolah ditelan oleh waktu tanpa jejak.
Hari-hari pun kembali berjalan dalam ritme yang lebih sunyi. Sepulang sekolah, Chan dan Anong kini harus melangkah sendiri, menyusuri jalan panjang hampir dua kilometer di bawah terik matahari yang tak pernah berbelas kasih. Panasnya menempel di kulit, menyengat hingga ke tulang, sementara debu jalanan berterbangan setiap kali kendaraan melintas, menambah berat langkah kecil mereka.
Anong, dengan langkah yang lebih pendek dan napas yang lebih cepat, sering kali tertinggal beberapa langkah di belakang. Di sepanjang perjalanan itu, ada satu tempat yang selalu menguji hatinya sebuah kedai kecil yang menjual manisan mangga, kesukaannya sejak dulu. Dulu, ia hanya perlu menunggu di mobil, dan Aof atau Chan akan membelikannya dengan senyum ringan. Kini, ia hanya bisa menatap dari kejauhan.
Aroma manis yang samar terbawa angin menjadi siksaan kecil yang tak terucapkan. Ia menelan ludah, lalu memalingkan wajah, seolah dengan begitu rasa ingin itu akan ikut menghilang.
Di tengah perjalanan yang panjang dan membosankan itu, di bawah langit yang seolah tak bergerak, Chan berjalan dengan pikiran yang melayang jauh. Ia diam, tenggelam dalam lamunan yang tak pernah selesai.
“Kak,” suara Anong tiba-tiba memecah sunyi, “bagaimana kalau kita ke tempat kerja Kak Aof?”
Chan menoleh, sedikit terkejut. “Hah? Kamu yakin?”
“Iya, Kak. Kita pura-pura menengok dia,” lanjut Anong, matanya berbinar dengan semangat yang setengah nekat, setengah berharap.
Chan menghela napas pelan. Ada ragu yang tak bisa ia sembunyikan. “Kakak takut ayah marah dan bagaimana kalau Aof tidak ada di ladang tempat biasanya ia bekerja?”
“Kita cari di gudang majikannya,” sahut Anong cepat, seolah telah menyiapkan semua kemungkinan.
Namun Chan menggeleng tegas. “Tidak. Kakak tidak mau. Kakak takut ayah marah.”
Kata-kata itu jatuh seperti pintu yang tertutup pelan namun pasti. Anong terdiam. Wajahnya berubah, raut ceria itu menghilang, digantikan lipatan kecewa yang dalam. Ia kembali berjalan tanpa suara, menunduk, mengikuti langkah kakaknya yang kini berjalan lebih cepat seolah ingin segera mengakhiri percakapan, atau mungkin menghindari perasaan yang terlalu sulit dijelaskan.
Dua minggu telah berlalu sejak terakhir kali mereka melihat Aof.
Waktu yang terasa singkat bagi sebagian orang, namun begitu panjang dan sunyi bagi mereka berdua. Sejak kepergian Aof, hidup mereka kehilangan warna seperti lukisan yang tiba-tiba memudar, meninggalkan coretan garis kosong tanpa makna.
Dalam diam, mereka bertanya-tanya apakah ayah mereka yang melarang Aof datang? Apakah ada kata-kata yang diucapkan dalam percakapan malam itu yang membuat lelaki itu memilih menjauh?
Chan merasakan kehilangan yang lebih dalam dari sekadar seorang teman. Aof adalah lebih dari itu, ia adalah sosok kakak yang tak pernah ia miliki, pelindung yang berdiri di antara dirinya dan kerasnya dunia. Bahkan, tanpa ia sadari sepenuhnya, ada perasaan lain yang perlahan tumbuh di dalam hatinya halus, asing, dan menggetarkan. Sebuah rasa yang baru ia kenali di ambang masa pubertas, ketika dunia mulai terasa lebih rumit dari sebelumnya.
Aof adalah satu-satunya yang pernah berdiri di sisinya saat dunia terasa tidak adil. Ia adalah tameng dari ejekan, dari tawa sinis anak-anak sekolah yang sering menjadikan Chan sebagai bahan olok-olok. Bersama Aof, semua itu terasa lebih ringan, seolah ada yang siap menghadapi dunia bersamanya.
Namun kini, sosok itu lenyap.
Chan kembali diliputi kekhawatiran lama, ketakutan bahwa suatu hari tanpa peringatan, segerombolan anak-anak itu akan kembali datang membawa ejekan yang sama, tawa yang sama, luka yang sama. Tetapi anehnya, hingga saat ini, hal itu tak pernah terjadi lagi. Seolah ada bayangan tak terlihat yang masih menjaga mereka.
Mungkin Aof telah berbicara.
Mungkin Aof telah meninggalkan sesuatu yang tak kasatmata yaitu sebuah peringatan, atau bahkan ancaman yang membuat dunia di sekitar Chan sedikit lebih tenang.
Dari situlah, Chan semakin menyadari satu hal yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang, Aof adalah pahlawannya.
Seseorang yang datang tanpa diminta, bertahan tanpa janji, lalu pergi tanpa penjelasan.
Di antara langkah-langkah kecil yang terus mereka tempuh setiap hari, di bawah langit yang sama namun terasa berbeda, Chan menyimpan rindu itu diam-diam rindu yang tak tahu harus ia titipkan pada siapa, rindu yang menggantung tanpa kepastian.
Entah sampai kapan Aof akan menghilang.
Entah apakah suatu hari ia akan kembali.
Namun yang pasti, di dalam hati Chan dan Anong, sosok itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam kenangan, dalam harapan, dan dalam setiap langkah panjang yang kini harus mereka lalui sendiri.
******
Siang itu setelah pulang dari sekolah, tanpa basa basi Chan menggamit tangan Anong dengan kasar dan mengintruksikan supaya mengikuti nya.
“Kak, sakittt,” Anong meringis melihat kakaknya seperti kesetanan. Chan malah makin menarik tangan Anong.
“Ayok ikut Kakak,” Tegas Chan dengan muka flat
“Kakak mau kemana sih?” Anong malah makin penasaran.
Semakin Anong meringis maka langkah Chan semakin cepat seperti diburu waktu.
Tampaknya Chan mendatangi sebuah ladang tempat menghamparnya sayuran dan kebun durian. Anong tersenyum, merasa bahwa kakaknya setuju dengan idenya tempo hari.
“Kakak rupanya mau bertemu dengan Kak Aof,” Anong mulai bunyi dan diselingi tawa cekikikan seolah meledek.
Chan yang sudah penasaran dengan keberadaan Aof rupanya melihat situasi dimana sosok Aof itu berada. Sepanjang waktu celingukan untuk menemukan Aof di ladang tersebut. Begitu juga dengan Anong, ikut serta mencari Aof di tempat tersebut.
Dari kejauhan terlihat sosok seorang laki-laki, sosoknya persis mirip dengan Aof yang kurus dan tinggi.
Chan segera menyambut sosok tersebut tapi ternyata bukan sosok Aof, sosok yang dicarinya tersebut merupakan seorang bapak paruh baya yang sedang bekerja di ladang tersebut.
Beberapa pertanyaan dilemparkan oleh Chan pada bapak tersebut, namun jawaban dari seorang paman itu nampaknya kurang memuaskan.
Chan merasa kecewa, namun Anong menepuk pundak kakaknya dan memberikan kembali ide pada kakaknya agar mencari di tempat lain. Ya, tempat itu adalah salah satu gudang sayur milik majikan Aof. mereka berdua pun segera meninggalkan ladang tersebut dan segera bergegas menuju ke tempat selanjutnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Chan dan Anong segera mempercepat langkah mereka. Panas matahari yang membakar jalanan desa seakan tak lagi mereka rasakan. Di dalam benak keduanya hanya ada satu tujuan menemukan Aof, sosok yang selama ini telah mengisi ruang kosong dalam kehidupan mereka. Ia bukan sekadar pemuda yang setiap sore menjemput mereka sepulang sekolah atau menemani Chan mengamen dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, Aof telah menjadi sahabat, pelindung, sekaligus kakak yang tak pernah mereka miliki.
Sejak kepergiannya, hari-hari yang mereka jalani terasa berbeda. Tak ada lagi seseorang yang bersedia mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi, tak ada lagi tangan yang sigap mengulurkan bantuan ketika mereka menghadapi kesulitan, dan tak ada lagi tawa hangat yang mampu mengusir penat setelah seharian bergelut dengan kerasnya kehidupan. Kehilangan Aof bukan sekadar kehilangan seorang teman, melainkan kehilangan tempat pulang bagi hati mereka yang masih belia.
Bagi Chan, kehadiran Aof selalu menghadirkan rasa tenteram yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali berjalan berdampingan dengannya, ia merasa dunia menjadi lebih aman. Tidak pernah sekali pun Aof memandangnya dengan tatapan yang membuatnya risih, apalagi memanfaatkan kepolosannya sebagai gadis remaja. Di tengah dunia yang mulai memperlihatkan sisi-sisi kerasnya, Aof tetap menjadi pemuda yang sederhana, jujur, dan penuh penghormatan.
Tatapan matanya selalu bening, seolah tak mengenal tipu daya. Bahkan setiap kali mata mereka tanpa sengaja bertemu, Aof justru lebih sering menundukkan kepala sambil tersenyum malu. Sikapnya yang canggung membuat Chan diam-diam bertanya dalam benaknya, mengapa seorang pemuda setulus itu seolah selalu menjaga jarak darinya. Entah sejak kapan, sosok Aof perlahan mengambil ruang yang begitu besar di dalam hatinya. Ia belum memahami nama dari perasaan yang tumbuh itu. Yang ia tahu hanyalah satu hal yakni hidup terasa jauh lebih ringan ketika Aof berada di sisinya, dan terasa begitu sunyi ketika pemuda itu menghilang tanpa jejak.
Sementara itu, bagi Anong, Aof telah lama menjelma menjadi kakak laki-laki yang selalu ia impikan. Seorang kakak yang bersedia menggandeng tangannya ketika menyeberang jalan, mengusap kepalanya saat ia menangis, membelikan manisan mangga ketika memiliki sedikit uang lebih, dan melindunginya dari segala ketakutan yang belum mampu ia mengerti. Di mata Anong, Aof bukan orang lain. Ia adalah bagian dari keluarga yang dipilih oleh hati.
Hubungan mereka dengan kakak kandung seayah tak pernah benar-benar hangat. Bayang-bayang masa lalu yang menyelimuti keluarga membuat jarak di antara mereka semakin sulit dijembatani. Sejak mereka harus meninggalkan tempat tinggal lama dan memulai kehidupan baru di desa yang asing, Chan dan Anong tumbuh tanpa sosok yang dapat mereka sandari selain kedua orang tua mereka yang sibuk bergulat dengan kerasnya mencari nafkah. Karena itulah, ketika takdir mempertemukan mereka dengan Aof, keduanya merasa seolah Tuhan sedang mengirimkan seorang penjaga untuk menemani langkah-langkah kecil mereka melewati masa yang sulit.
Kini, ketika takdir kembali merenggut sosok itu dari kehidupan mereka, Chan dan Anong tak sanggup menerima kenyataan tersebut begitu saja. Mereka menolak percaya bahwa seseorang yang begitu berarti dapat menghilang tanpa penjelasan. Selama masih ada harapan, sekecil apa pun, mereka akan terus mencarinya.
Mereka pun bertekad menyusuri setiap tempat yang pernah menjadi bagian dari jejak kehidupan Aof, ladang tempat ia bekerja sejak fajar, gudang milik majikannya yang dipenuhi aroma sayur-sayuran segar, jalan-jalan desa yang pernah mereka lalui bersama, hingga sudut-sudut kecil yang menyimpan kenangan akan tawa dan nyanyian mereka. Bagi orang lain, pencarian itu mungkin tampak sia-sia. Namun bagi Chan dan Anong, setiap langkah adalah bentuk keyakinan bahwa seseorang yang pernah menghadirkan begitu banyak kehangatan tidak mungkin benar-benar lenyap begitu saja dari hidup mereka. Selama matahari Siam masih menyinari bumi, mereka percaya akan selalu ada jalan yang suatu hari nanti mempertemukan kembali hati-hati yang dipisahkan oleh keadaan.
Sejak bel pulang sekolah berbunyi hingga matahari perlahan condong ke barat, langkah Chan dan Anong tak pernah benar-benar berhenti. Jalan-jalan tanah yang membelah hamparan kebun sayur telah mereka susuri berkali-kali. Debu yang beterbangan menempel di ujung seragam mereka yang mulai kusut, sementara peluh mengalir membasahi pelipis dan tengkuk akibat terik matahari yang seolah tak mengenal belas kasihan.
Namun, sejauh apa pun kaki mereka melangkah, tak satu pun jejak yang mengarah kepada Aof berhasil mereka temukan.
Anong yang sejak siang masih berusaha mengikuti langkah kakaknya kini mulai menyeret kedua kakinya. Wajah mungilnya memerah karena kepanasan, napasnya memburu, sementara pundaknya tampak turun menahan lelah yang sejak tadi dipendam.
"Kak... kita harus mencari Kak Aof ke mana lagi?" suara Anong terdengar lirih di sela-sela napasnya yang tersengal. Ia mendongakkan wajahnya, menatap Chan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Anong sudah capai...."
Chan menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah adiknya yang dipenuhi peluh. Hatinya terasa perih. Sejak kecil Anong tak pernah pandai menyembunyikan rasa lelah, tetapi hari itu gadis kecil itu bertahan jauh lebih lama daripada biasanya hanya demi seseorang yang bukan saudara kandung mereka.
Chan mengusap lembut rambut Anong yang lengket oleh keringat.
"Sebentar lagi, ya," ucapnya pelan sambil tersenyum, meski senyum itu lebih menyerupai usaha untuk menyembunyikan kegelisahan. "Kakak masih merasa... Aof ada di sekitar sini. Coba satu tempat lagi. Setelah itu kita pulang. Kakak janji."
Anong mengangguk pelan. Meski tubuhnya telah menyerah, ia tak pernah sanggup menolak permintaan kakaknya.