Jangan mengasihaniku. Aku hidup dengan baik. Aku bisa membaur dengan semua orang. Sekali lagi, semua orang. Jadi hiduplah dengan baik. Tidak usah mengkhawatirkan bocah yang bahkan sebelum kau eksis pun ia baik-baik saja.
Kemarin-kemarin memang menyedihkan. Ketika kukatakan... kalau aku akan melepaskan semuanya jika semakin tidak masuk akal, sebenarnya aku bercanda. Itu sulit sekali. Ada kekosongan yang amat di sini. Di dada yang detaknya aku tidak bisa mengendalikannya. Tapi seperti yang selalu kukatakan, nanti juga akan terbiasa.
Lihat, apa aku berusaha sok kuat lagi? Tidak, sayang, tidak. Aku benar-benar kuat. Kalau bukan begitu, pasti aku sudah berhenti mengagumimu sejak lama. Aku hanya menangis sedikit. Ah bukan, air mataku menetes sendiri. Mungkin tidak berbeda dengan air mata fisiologis yang keluar ketika kau berak di pagi hari. Jadi dengarkan, aku masih lebih kuat dari yang bisa kamu bayangkan kan, kesayangan?
Kediri, 18 Juni 2026
***
Lian mendengus pelan. Setelah menyelesaikan catatannya, ia merenggangkan leher dan bahunya. Pandangannya menyapu ke sisi jendela yang tertutup kelambu. Seluruhnya gelap. Hanya ada remang-remang penerangan dari tempat yang jauh. Hari mungkin sudah berganti tanpa ia sadari. Sudah masuk pertengahan Juni, ya? Pikirnya.